
Aya terbelalak kaget melihat dokter yang ada di samping Mikael itu. Ia seolah-olah berhalusinasi ketika ibunya dirawat seorang dokter yang begitu baik itu, yang ia ingat nama dokter itu adalah Toni Baskoro. Apakah dokter itu memiliki hubungan juga dengan dokter dihadapannya. Ia mungkin bisa mendapatkan petunjuk juga tentang ibunya dengan bertanya pada dokter itu.
Aya tiba-tiba di sadarkan oleh suara manis dan tegas dari Arya. "Ibu, Mikael memiliki janji penting dengan seseorang hari ini. Tidak ada cara lain, Aku akan menggantikan Pria ini untuk menghadiri pertemuan ini. Mungkin mereka akan meremehkan ku. Jika saja ada Arka disini dialah yang seharusnya berbuat begitu. Kepintarannya yang level monster itu kurasa cukup untuk menekan orang ini."
Aya masih tidak tahu orang yang di maksud oleh Arya adalah siapa. Namun Aya melihat sekeliling ruangan Mikael yang di penuhi dengan sketsa ciptaannya. Kemungkinannya ada dua yang pertama adalah profesor yang sama dengannya atau orang yang lebih tinggi dari pada Mikael.
Namun Tora membisikan dengan pelan "Bayu Anggara" Mata Aya terbelalak setelah mendengar nama itu. Nama terlarang yang ada didalam kamus otaknya. Orang yang merupakan cinta pertamanya saat SMP, namun meninggalkannya karena kegilaannya terhadap ilmu pengetahuan tidak pernah membuatnya berhenti haus akan ilmu pengetahuan baru.
"Orang yang sangat merepotkan" Aya tersenyum masam setelah mengingatkannya pada sosok yang tidak bisa terbayangkan dengan kata-kata.
"Mikael harus beristirahat beberapa hari ini, karena Ken dan Arya harus menyiapkan banyak meeting yang sudah terjadwal pada sepekan ini. Tugasmu adalah menjaga Mikael agar tidak beranjak dari ranjangnya. dia butuh istirahat full tetapi ia selalu memaksakan diri." Petra berterus terang untuk meminta Aya agar bisa membantu mereka yang sama-sama, sedang kesulitan sedangkan kondisi Mikael benar-benar buruk sekali.
"Aku hanya perlu merawatnya saja bukan?" Aya bertanya pada Petra dengan remeh.
"Benar, tetapi tidak disini. ruangan ini tidak cocok untuk merelaksasi kan pikirannya." Petra berbicara tegas kepada Aya. Untuk memastikan bahwa Mikael benar-benar di rawat olehnya.
Tora benar-benar tidak bisa membantu. Karena toko peliharaan milik Aya harus dirawat dengan baik. Jika tidak hewan-hewan didalamnya bisa saja mati. Alasan yang terkuatnya adalah menjaga Laboratorium yang ada di bawah toko peliharaan itu.
"Lalu bagaimana dengan Arya untuk membereskan pekerjaan di perusahaan? Kau bahkan tidak mengetahui apapun." Aya masih tidak mengerti bagaimana cara mereka menyelesaikan pekerjaan di perusahaan yang sangat banyak dan merepotkan.
__ADS_1
"Sebenarnya ada satu cara, Aku dan Arka saling bergantian. Tapi ada satu masalah lain yang akan aku tangani. Suatu anggota mafia tanpa seorang bosnya pasti akan kebingungan atau memilih membunuh bosnya ketika dia melemah bukan? Aku akan mengatur mereka dengan kemampuan ku." Dengan percaya diri Arya menjelaskannya tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Arya! tapi itu bahaya!" Aya membentak Arya dengan keras.
"Stt.." Semua orang memerintahkan Aya agar tidak terlalu keras saat berbicara.
"Dalam suatu pelajaran sains berkata, makhluk yang tidak bisa beradaptasi dengan lingkungannya akan terkena seleksi alam. Begitulah yang kuingat! Jadi beradaptasi lah dengan dunia yang menyenangkan ini Bu!" Arya mengatakannya sambil tertawa seperti bos mafia yang sesungguhnya. Tidak biasanya Arya menjadi begitu bersemangat seperti itu. Aya pikir semuanya akan baik-baik saja. Melihat Ken yang sepertinya kompeten mengatur semuanya. Aya berusaha percaya pada mereka.
"Baiklah, ibu hanya tidak mau kejadian seperti Arka terulang lagi." Aya yang selalu kalah dalam soal perdebatan itupun. Pasrah begitu saja menerima rencana yang sudah disiapkan Arya.
Arya lebih cocok dengan membuat strategi dari pada Arka yang selalu terdapat celah dan hal membuat strategi. Hal ini di sebabkan Arya yang sering berlatih beladiri, sehingga pikirannya terpaku pada bagaimana cara untuk mencari celah dan menjatuhkan lawannya.
Pada hari ini Aya dan Petra bersiap memindahkan Mikael ke Villanya, karena lokasinya yang lumayan meningkatkan presentase keselamatannya, juga bisa membuatnya menjadi rileks dari pekerjaannya. Aya jadi teringat Mikael yang terjatuh kelantai karena sesak nafas.
Ia teringat saat bermain dengan kakak pertamanya. Aya menjadi seorang dokternya lalu kakaknya berpura-pura sesak nafas.
Aya menolong kakaknya, tetapi kakaknya malah menertawakan Aya. kebahagian yang sekejap mata itu menghilang karena salah Aya sendiri. Jika benar masalah itu berawal dari pernikahannya dengan Zen artinya kehancuran keluarga Dirgantara juga adalah salahnya.
Untuk kali ini Aya ingin sekali lagi meminta bantuan pada Mikael untuk membalaskan dendam dengan meminjam kekuatan Mikael. Aya berharap setelah semua dendamnya terbalaskan. Kehidupannya kembali seperti pada saat itu.
__ADS_1
Tidak terasa, Petra dan Aya juga Mikael sudah sampai di villa yang berada di gunung itu. Para pelayan dan penjaga disana bersiap memindahkan Mikael kedalam Villa. Aya dan Petra mengikuti Mikael dari belakang.
Sampai didalam mereka menidurkan Mikael di atas ranjangnya. memberikan fasilitas senyaman mungkin. Setelah semuanya selesai, Petra menjelaskan tentang cara merawat Mikael dan obat-obatan yang ia berikan pada Mikael. Aya juga tidak diperbolehkan menyerahkan begitu saja pekerjaannya pada pelayan karena bisa saja ada musuh di dalam pelayan itu.
Petra pun berpamitan pulang. Aya belum sama sekali mengabarkan sesuatu pada Arka yang ada di dalam apartemen. Tidak hanya itu ia juga melupakan jika tadi sebenarnya ia hendak bertanya tentang dokter yang bernama Toni Baskoro. Namun tidak sempat.
Aya duduk di pinggir ranjang Mikael, melihat keringat terus bercucuran membasahi baju kemejanya. Aya hendak menyuruh pelayan untuk menggantikan baju Mikael namun ia teringat dengan kata-kata Petra bahwa dia tidak boleh selalu mengandalkan pelayan yang ada karena takut musuh yang menyelinap di dalam pelayan itu.
Aya mengambil baju di lemari Mikael. lalu Aya bersiap memberanikan diri untuk membukakan baju Mikael. Tangannya gemetaran saat membuka kancing itu satu persatu. Imannya sungguh teruji
Kancing demi kancing uang terbuka, tangan dan wajah serta seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia beberapa kali menelan ludah untuk membuang semua pikiran negatifnya. Aya memutuskan untuk menutup matanya, tetapi ia tau bahwa jika ia salah pegang hal lain akan sangat berbahaya.
Setelah baju itu berhasil di buka. Tubuh Atletis Mikael yang begitu sempurna, kotak-kotak otot tubuhnya yang begitu nyata. Membuat Aya benar-benar merasa dalam masalah besar.
Sepertinya ini pertama kalinya ia melihat tubuh pria yang sangat indah dengan sangat jelas. Tangannya membawa handuk kecil dan mengelap tubuhnya yang basah oleh keringat. Perlahan-lahan ia mengusapkan handuk itu diatas tubuh Mikael dengan hati-hati. Wajahnya dan pipinya sepertinya akan meledak. Ia tidak tahan dengan tekanan yang di berikan ini.
Saat ia hampir selesai mengelapnya. Tiba-tiba sambaran tangan Mikael yang menghentikan tangan Aya itu membuat Aya sontak merasa sangat kaget. Jantungnya seperti ingin lompat dari tempatnya.
Tangannya terhentikan dan handuk yang di pegang ya terjatuh. Cengkraman kuat Mikael membuat Aya sangat sulit sekali melepaskan tangannya. Di sela-sela itu Mikael tiba-tiba saja berteriak. "Kau!" Lalu kata-katanya pun melemas sambil berbisik "Aku akan membalasnya nanti.."
__ADS_1
Aya tercengang, apa yang baru saja ia lakukan apakah Mikael akan membalasnya dengan hal yang sama padanya. Ia segera membantu Mikael memakaikan baju dengan cepat menggunakan baju bersih yang ia bawa dari lemari di kamarnya dan segera pergi meninggalkan kamarnya.