Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
Sakit 2


__ADS_3

Aya benar-benar khawatir dengan anak-anaknya itu apakah mereka bisa menjalankan tugasnya dengan baik ketika ayah mereka sedang sakit. Anak berusia lima tahun yang tidak lama lagi menginjak usia enam tahun itu menjalankan perusahaan raksasa milik ayahnya. Bagaimana bisa? dalam kepala Aya terus berpikiran seperti itu. Apalagi Arya yang ingin bertekad untuk mengendalikan Mafia milik Ayahnya.


Pagi-pagi sekali Aya terbangun lalu membuka jendela kamarnya. Hembusan angin pagi segar pegunungan membuat hati ingin menghirupnya dalam-dalam dan menikmatinya. Pepohonan yang berjajar di depan jendela berjejeran.


Aya menyemangati dirinya untuk bisa melewati harinya yang melelahkan. Seketika ia teringat dengan apa yang terjadi pada malam hari. Wajahnya langsung memanas, wajahnya terasa panas terebus oleh darah yang mengalir ke kepalanya.


Aya ingat dengan jelas otot-otot padat yang keras pada tubuh Mikael, yang membuatnya seperti mimpi bisa melihat tubuh yang Atletis.


tok..tok..tok.., suara seorang mengetuk pintunya. Aya langsung segera melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu.


Ia membuka pintu tersebut yang ternyata sudah ada beberapa pelayan di balik pintu itu. Semuanya memandanginya dengan serius. Melihat jam yang menggantung di kamarnya ia teringat harus memasak bubur dan memberikan obat pada Mikael pada padi ini.


Walaupun para pelayan tidak berkata apapun, Aya mengerti bahwa Aya harus mengikuti mereka segera ke dapur.


Tiga pelayan itu menjelaskan tentang dapur villa yang begitu besar itu. Bahan-bahan makanan dan lainnya. Juga beberapa peraturan dapur yang harus Aya patuhi.


Aya langsung memasak bahan makanan yang sudah tersedia. Keahlian masaknya sudah tidak diragukan lagi, Bahkan Arya dan Arka sering mencaci maki koki yang di datangkan Aya ketika di pulau. Saat itu Aya sedang sibuk membuat sebuah ciptaan-ciptaan untuk mengisi kekosongan atau kebosanannya.


Satu bubur spesial yang dicampurkan dengan daging ikan yang berkualitas, untuk menambah protein pada bubur itu. Aya juga menambahkan beberapa bahan lain dalam bubur itu.


Wangi yang menyerebak seluruh dapur membuat para koki di dapur itu juga penasaran dengan apa yang Aya masak. Air liur-air liurnya seolah-olah penasaran ingin mencicipi, bagaimana rasa dari masakan yang Aya buat.

__ADS_1


Teh hangat dengan bubur spesial khas Aya sudah bersiap di nampan untuk diantarkan kedalam kamar Mikael.


Aya melangkahkan kakinya memasuki kamar Mikael sambil membawa hasil masakannya dan segelas teh untuk Mikael. Aya juga menyiapkan obat yang dititipkan dokter Petra padanya.


Tangan Aya bergetar, wajahnya merona. ia masih belum bisa melupakan kejadian semalam. Satu-satunya yang di pikir dalam kepalanya adalah meniru idola Antagonis dalam novel kesukaannya yang bersifat tidak tau malu dan angkuh itu.


Aya menelan ludahnya dan langsung membuka pintu kamar Mikael. Ia menyembunyikan rona wajahnya dengan sorot mata dan gestur angkuhnya.


Sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat bubur dan segelas teh juga beberapa obat. Aya melihat Mikael yang sudah terbangun itu sedang memegangi ponselnya diatas kasur.


Aktingnya sudah dimulai. Sikap angkuh mode on.


"Letakan ponselmu!" Suara tegas Aya yang menyuruh Mikael untuk meletakan ponselnya. Aya tahu bahwa Mikael s karang sedang memikirkan pekerjaannya.


"Tentu saja urusanku. Kau sudah berjanji untuk menemukan kebenaran didalam kematian kakakku." Aya harus menekan Mikael agar ia bisa mendengarkan perkataannya. Aya juga teringat pesan Ken bahwa Mikael adalah orang yang sangat keras kepala. Sulit sekali untuk memerintah nya istirahat walau hanya semenit.


"Maka dari itu aku harus menyelesaikannya sekarang."


Ternyata perkataan Ken benar bahwa sulit sekali meminta Mikael untuk istirahat walau semenit saja. Apalagi ia harus membuatnya istirahat selama tiga hari.


Aya menyimpan nampannya di meja sebelah ranjang itu. Aya menyimpan tangannya di dahi Mikael tanpa izin darinya.

__ADS_1


"Sepertinya demam mu mulai membaik tapi tubuhmu sepertinya masih lemah." Aya berkata seperti itu, membuat Mikael merasa tergerak walaupun hanya sedikit. Mata Mikael terbelalak kaget, ketika itu Mikael teringat tangan Ibunya yang selalu memegang dahinya ketika ia hanya bersin saja.


Mikael yang terbuai dengan ingatan masa lalu itu. Tiba-tiba mendapat pukulan telak diperut oleh Aya. Sakit luar biasa yang ia rasakan pada saat itu terasa sangat nyata. "Wah, bagaimana ini kena pukul sekali juga kayaknya mau pingsan."


Aya tersenyum angkuh didepan Mikael. Tentu saja jika berdebat Aya selalu kalah tetapi jika berbuat Aya tidak akan menyerah.


Rasa sakit akibat pukulan Aya yang sangat membuatnya kesakitan itu. Membuat Mikael sangat marah, beraninya Aya memukul Mikael yang keadaannya sedang tidak baik.


Aya hanya menanggapinya dengan senyuman licik, sambil menyuapi Mikael bubur yang di buat olehnya. "Kau beraninya memukulku, aku tidak akan memaafkan mu!" Sambil menerima suapan bubur dari Aya ia mengatakan kekesalannya seperti anak kecil.


"Mau di tambah ke tingkat berapa?" Aya masih tersenyum sambil mengepalkan tangannya. Bersiap untuk memukul Mikael lagi.


"Kau!" Mikael sangat marah tetapi ia tau keadaannya tidak bisa membalas pukulan Aya yang sangat kuat itu. Ia merasakan kesal yang mendalam pada Aya tetapi disisi lain Mikael tahu bahwa Aya adalah adik sahabat baiknya yang harus ia jaga.


"Bagaimana? Masih mau keras kepala? Habis makan bubur ini kau harus minum obat juga! Jangan merengek seperti anak kecil! Dasar bos mafia lemah!" Aya menunjukan sifat angkuhnya yang ia tiru berdasarkan idola yang ada di novel favoritnya. Kebanyakan orang sangat membenci tokoh antagonis dari setiap cerita apapun. tetapi Aya adalah tipe orang yang mudah tertarik dengan karakter unik seseorang.


Mikael hanya bisa memendam kekesalannya dan menatap Aya dengan tajam dan mencekam. Jika jujur sebenarnya Aya sendiri lumayan cukup takut saat Mikael menatapnya seperti itu, karena jelas sekali yang ada di hadapannya itu adalah seorang bos mafia nomor satu di negara.


Satu mangkuk bubur buatan Aya sudah Mikael habiskan tanpa ia sadari. Selama ini Mikael makan tidak pernah selahap ini, tetapi ia tidak menyadari itu.


Aya segera menyiapkan obat-obat yang harus Mikael minum. Tidak banyak obat yang di berikan dokter Petra untuk Mikael minum, tetapi beberapa obat membuat Mikael menciut.

__ADS_1


Karena Mikael tidak menyukai obat kapsul. Jika saja Ken yang memberikan obat itu padanya Mikael pasti menolaknya dengan keras, tetapi yang memberikan obatnya kali ini adalah Aya. Tentu saja Mikael merasa harga dirinya lebih tinggi. Ia tidak mau menunjukan kelemahannya pada siapapun termasuk Aya sekalipun.


Mikael berpura-pura tegar ketika obat kapsul itu sudah berada di tangannya. Namun sebenarnya ia gemetar teringat ia tidak bisa menelan obat kapsul dengan benar.


__ADS_2