
Mikael mengajak Aya untuk pergi jalan-jalan di sekitar Villa itu. Namun Aya bingung sekaligus canggung harus menjawab apa. Aya dan Mikael baru mengenal satu sama lain beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba mereka berciuman adalah hal yang pantas membuat mereka menjadi canggung dengan ketidak jelasan hubungan mereka.
"Maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu hari ini." Aya menolak Mikael. Karena kejadian seperti itu tidak ada di dalam novel favoritnya.
***
Beberapa Saat lalu..
Mikael menaiki taksi online terburu-buru untuk pergi kekantor, namun saat di tengah perjalanan ia terjebak dalam kemacetan yang panjang. Mikael memutuskan untuk membuka ponselnya untuk menelpon Ken. Namun saat ia melihat email yang masuk dari Bayu Mikael segera membuka email tersebut.
Email itu bertuliskan "Hubungi aku di nomor 0838xxxxxx92" Mikael segera menelpon nomor tersebut tanpa pikir panjang lagi.
"Tuuuut... tuuuut...Hallo" Teleponnya terhubung. seseorang telah menjawab telpon dari Mikael.
"Apa saya bisa berbicara dengan Bayu Anggara?" Suara formal Mikael terdengar sangat jelas seperti orang profesional berkelas.
"Oh, Mikael?" Suara berat bayi terdengar jelas di telinga Mikael.
"..."
"Lama sekali juga kau menghubungiku."
"Apa kau mau membatalkan kontraknya?"
"Hei, hei..kenapa tiba-tiba? Jelas-jelas aku sudah menandatangani kontraknya."
__ADS_1
Mikael tidak menyangka, mengapa seorang Bayu Anggara yang terkenal dengan investor yang paling sulit dikendalikan ini, bisa-bisanya mau menandatangani kontrak dengannya. Padahal Mikael tidak datang untuk menerangkan produk barunya.
Mikael masih tidak percaya dengan kata-kata Bayu. jika yang menjelaskannya Arka mungkin ia memiliki kemungkinan, namun kemungkinan itu juga sangat kecil karena Arka adalah orang yang sulit untuk sopan kepada orang dewasa.
Namun jika itu Arya, itu tidak mungkin karena Arya bergerak menggunakan fisiknya bukan dengan otaknya. Pikir di dalam kepala Mikael yang salah tentang kedua anaknya sendiri.
"Mikael? Kenapa kau terdiam begitu? Kau tidak akan menyangka kalau penerus mu itu lebih berbakat dibandingkan denganmu.."
"Lebih berbakat?"
"Benar.., saat ia berbicara aku teringat dengan kau tetapi bukan kau. Aku teringat teman sekolahku dulu, wanita itu dulu sangat menyukaiku tapi bodohnya aku memilih meninggalkan dia karena alasan ingin mempelajari semua ilmu yang ada di dunia ini. Jika ada kesempatan sekali lagi aku bertemu dengannya aku ingin mengatakan penyesalanku dan menikahinya. tapi sepertinya kabarnya sudah menghilang."
Mikael tertegun mendengar kata-kata Bayu, Apa yang dibicarakan Bayu adalah Aya.
"Mikael! Tolong bantu aku cari dia ya! Lalu aku ingin melihat wajah istrimu Lo. Aku penasaran wanita mana yang bisa menaklukan hati Mikael sidingines ini"
"Si_dingin_es.. kalau begitu aku tutup ya ada pekerjaan yang masih menunggu ku, jangan lupa untuk mencarinya ciri-cirinya dia sangat imut dan ada tahi lalat di pelipis dan matanya. sampai jumpa!"
Mikael tidak bisa berkata-kata lagi, perasaannya terus mengatakan bahwa orang yang Bayu maksud adalah Aya. Namun Mikael merasa itu tidak mungkin karena Bayu bersekolah diluar negeri. Mikael tidak pernah mendengar jika anak anggota keluarga Dirgantara menyekolahkan anaknya di luar negeri.
Berbagai pertanyaan menghujami dirinya. Mikael pun memutuskan untuk kembali ke Villa untuk memastikan apa yang di katakan oleh Bayu tentang wanita yang dibicarakannya.
"Pak! bisa ga tujuannya di cancel saya ada yang ketinggalan di rumah." Mikael sudah bertekad untuk kembali dan memastikan perkataan Bayu Anggara.
"Ok, baik pak." Supir itu segera memutar balikan mobilnya. walaupun tidak memungkinkan karena sedang dalam kemacetan pak supir taksi yang kreatif itu pun dapat memikirkan cara untuk bisa memutar balikan mobilnya.
__ADS_1
Akhirnya Mikael dan supir taksi itu berkendara berlawanan dengan arah tujuan awalnya dan kembali ke Villa itu.
Sesampainya di Villa itu Mikael pun memberikan ongkos lebih pada supir taksi itu. Mikael kembali masuk kedalam Villa itu dengan di sambut oleh penjaga dan juga para pelayan yang berada di luar.
Dengan kaki jenjangnya Mikael melangkah masuk kedalam Villa, untuk mengurangi rasa malunya yang kembali setelah beberapa lalu pergi dengan memaksa. Ia mendorong pintu itu kuat-kuat, agar terdengar suara hentakan pintu saat membukanya.
Kebenaran yang pasti saat Mikael membukakan pintunya Aya sudah berada di hadapannya dengan pakaian yang sangat rapih. Mikael menduga pasti Aya hendak menyusulnya karena khawatir.
Mata Mikael dan Aya saling terkunci, namun Mikael tidak bisa menatapnya lebih lama lagi. Karena ia teringat dengan kejadian beberapa saat lalu. Ketika ia tiba-tiba mencium bibir Aya setelah teringat Kai dalam diri Aya.
Mikael memalingkan wajahnya untuk menutupi wajah merahnya. Mikael bersikap dingin seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Namun ketika ia melihat Aya yang hanya terdiam saja tidak mengucap satu patah katapun. Membuatnya agak risih, lalu iapun memberanikan diri untuk membuka mulutnya dan mengatakan kata-kata yang terucap begitu saja.
"Hei, katanya kau mau menemaniku jalan-jalan di sekitar villa ini.." Mikael mengatakannya dengan ekspresi wajah yang tidak berubah, tatapan dan nadanya begitu dingin. Seperti yang tidak ingin berbuat tetapi terpaksa melakukannya. Padahal Mikael ingin menanyakan satu hal pada Aya, tentang Bayu Anggara padanya.
"Maaf sepertinya aku tidak bisa menemanimu hari ini." Aya menolak Mikael. Karena kejadian seperti itu tidak ada di dalam novel favoritnya. Karakter favoritnya adalah kejam dan sinis. Aya tidak boleh menerima begitu saja ajakan Mikael.
Dalam novelnya ajakan dari seorang pria yang begitu dingin itu harus dipermainkan dulu baru menerimanya jika pria itu sudah kesal atau menyerah.
"Tentu saja bukan? Dengan pakaian rapih seperti itu pasti kau hendak pergi." Perkataan Mikael yang secara objektif terlihat dengan jelas. Membuat Aya tidak bisa mengelak.
"Tadinya aku memang berniat pergi karena Arka merasa bosan sendirian di apartemen mu. Aku juga belum memindahkan semua barang-barang ku di apartemen yang dulu. tapi kurasa jika kau sangat memaksa aku bisa meluangkan sebentar waktuku untukmu. lagian aku masih punya hutang Budi denganmu." Kata-kata yang angkuh, sesuai sekali dengan karakter panutan Aya. Ia menjadi lebih percaya diri dengan mengikuti sifat karakter favoritnya.
"Kau salah aku tidak memaksa. Jika keperluan mu itu lebih penting maka pergilah!"
Aya mempermainkan Mikael dengan menarik dasinya. Lalu mendekatkan dirinya ke wajah Mikael tanpa malu sedikit pun, walau yang sebenarnya jantungnya berdebar kencang setengah mati.
__ADS_1
"Jadi pria dewasa tidak boleh kekanak-kanakan. Ayo aku temani!" Aya berbisik ketika bibir mengenai telinga Mikael.
Hal bodoh yang dilakukan Aya adalah tanpa ia sadari ia membangunkan sifat pria pada Mikael dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya ketika ia melakukan hal tersebut.