
Mikael masih tidak habis pikir mengapa Ken bisa mengatakan hal tersebut. Memang mayat Kai setelah kecelakaan di bawa pergi oleh keluarga Ardinata. Namun menurut analisisnya. Kemungkinan besar mayat Kai hanya di jadikan suatu alat untuk Aya atau Angga.
Mikael mengingat-ingat saat pemakaman itu terjadi. Mikael benar-benar melihat wajah yang sudah pucat pasi itu terbaring kan dalam sebuah peti. Banyak orang yang menangisinya. Sehingga Mikael sendiri tidak bisa membedakan yang mana keluarga Dirgantara atau orang dekatnya.
Mikael sangat ingin menitikkan Air matanya. Namun jika itu terjadi mungkin wibawanya akan menghilang. Ia berusaha tegar walaupun sakit. Sahabat satu-satunya yang mengerti dirinya seorang sudah meninggalkannya selama-lamanya.
Mikael menggenggam seikat bunga turut berduka cita itu dengan kuat. Ia benar-benar kesal dengan apa yang dilakukan keluarga Ardinata pada sahabatnya. Walaupun Mikael tidak tahu jelas apa penyebab sebenarnya, namun Mikael berikrar untuk membalaskan dendam pada Zen suatu saat nanti.
"Mikael!?" Suara Ken membuat Mikael tersadarkan kembali.
"Apa rencana berikutnya yang akan kalian ambil untuk dua hari ke depan?" Mikael sudah tidak fokus lagi. Dia benar-benar sudah memastikan bahwa Kai sudah meninggal saat itu juga.
"Aku dan Arka sedang di rumah sakit, Guntur diracuni oleh Bryan." Ken mengungkapkan satu hal lagi yang mengejutkan Mikael.
"Sudah kuduga, harusnya yang mendapatkan posisi itu bukanlah Bryan. Kita harus segera melaporkannya pada paman Septian."
"Tidak bisa, Paman sedang sakit dia mungkin sedang koma sekarang. Kalau tidak salah penyebabnya adalah racun dosis kecil yang selalu di isap pada tembakau rokoknya." Ken menjelaskan dengan panjang lebar. Tentang yang terjadi pada keluarga cabang Gumelar.
"Kalau begitu periksa semuanya! kau beritahu Bintang dan Tante Rani. Untuk sementara." Mikael mengambil tindakan tersebut untuk memastikan bahwa keluarga petinggi itu tidak semuanya terlibat.
__ADS_1
"Aku tidak bisa, langsung menghubunginya." Ken menolak perintah Mikael karena Bryan memegang semua milik keluarganya.
"Kau bersama Arka? Beritahu padanya untuk mencek keluarga itu." Mikael tidak tahu harus bagaimana lagi. Walaupun semua hartanya sudah diambil oleh Arka. namun harta dalam bentuk fisik tidak bisa diambil alih.
"Arka sudah tertidur usai menelpon ibunya. Kau pun sebaiknya cepat istirahat agar cepat pulih kembali." Ken menasehati Mikael. Namun dalam otak Mikael merasa yang salah bukanlah dirinya karena yang menghubungi pertama itu bukan dirinya melainkan Ken sendiri.
"Baiklah, Urus yang bisa kau lakukan. 'Aku harus segera kembali ke kantor jika di biarkan lebih lama mungkin akan lebih bahaya." Mikael menutup telponnya. Pikirannya kembali memikirkan banyak hal yang mulai terjadi akhir-akhir ini.
Sampai malam itu juga Mikael tidak bisa tidur dengan nyenyak karena banyak yang harus ia lakukan. Sampai waktu tengah malam Mikael masih belum tertidur dengan lelap itu memutuskan untuk menemui Aya di kamar yang lain.
Ia berjalan tanpa berpikir panjang dan membuka pintu kamar Aya. Sebenarnya setelah ia tiba di depan pintu ia agak ragu untuk menemui Aya. namun setelah mengingat Arya dan Arka yang seperti sekarang ini. Pasti berasal dari didikan yang Aya ajarkan.
Mikael membuka pintu dengan perlahan. Melihat Aya yang sedang tertidur dengan lelap. Sungguh berbeda dengan wanita aneh yang suka membuatnya pusing karena tingkah lakunya yang sangat unik.
Namun Aya masih saja tertidur dengan nyaman. Entah mengapa hati Mikael tiba-tiba menjadi tenang ketika ia mengusap pipi Aya. Mikael tersenyum kecil dengan tulus untuk pertama kalinya. Seketika itu ia tersadar, ia pun menampar dirinya sendiri untuk memperingatkan dirinya sendiri.
Namun pandangannya masih saja tergoda dengan sosok Aya yang sedang tertidur. Mikael pun menempelkan bibirnya di bibir Aya. Mikael merasakan bibir Aya yang lembut dan manis.
Namun ketika itu dirinya mulai mengantuk, ia memutuskan untuk tidur tepat di sebelah Aya. Mikael benar-benar bisa tidur dengan nyenyak. Selama ini hidupnya selalu tidak bisa merasakan tidur dengan nyaman karena ancaman dari kakaknya dan juga sahabat baiknya yang mati tepat di depan matanya.
__ADS_1
Matahari mulai menyingsing sedikit pagi hari telah tiba. Aya terbangun dari ranjangnya namun ia masih tidak menyadari kehadiran Mikael yang berada di sampingnya.
Ketika ia meregangkan tubuhnya di ranjang. Tidak sengaja tangannya mengenai wajah Mikael. Sehingga ia baru menyadari ada seseorang di sampingnya. Kejadian yang sama terulang lagi. Aya berteriak kaget melihat Mikael yang sudah berada di sampingnya itu.
Mikael yang mendengar suara bisik Aya pun jadi terbangun. Kepalanya sangat pusing begitu ia mendengar suara teriakan Aya yang sangat keras itu.
Aya hendak segera turun dari ranjang namun Mikael lebih dahulu menarik tangan Aya. sehingga Aya terjatuh di pelukan Mikael. Aya terbelalak kaget dengan dirinya yang jatuh tepat di atas tubuh Mikael.
Mikael mengunci pandangannya pada Aya. Wajah serius dan datar seperti biasanya itu tidak pernah berubah sehingga Aya sendiri tidak bisa membaca apa yang Mikael pikirkan. Mikael benar-benar sudah melewati batas, kata Aya di dalam hatinya.
Mikael terlebih dahulu berbicara pada Aya. Dengan tatapan tajam seperti biasanya. "Akhir-akhir ini seseorang memintaku untuk mencari seorang wanita yang membuat jatuh cinta padanya. Padahal dia adalah seorang yang gila bisnis dan ilmu pengetahuan. Apa hubungannya wanita itu dan Pria itu. Bagaimana menurutmu?" Nada bicara Mikael yang dingin sangat tidak pantas mengucapkan nada jahil seperti itu menurut analisa Aya.
"Yang salah itu pria itu, jika wanitanya tidak menyukainya berati pria itu hanya cinta karena pandangan pertama, jadi tidak ada mereka tidak hubungan apa-apa. Sekarang lepaskan aku!"
"Bagaimana kalau ternyata mereka saling mengenal." Mikael masih tidak mau melepaskan Aya.
"Siapa orang kau maksud, tapi jika orang yang gila belajar dan haus ilmu pengetahuan aku mengenal satu orang saja di dunia ini yaitu Bayu Anggara. Bukankah kalian sangat mengenal pada rapat Arya pun begitu." Aya berbicara sambil meronta-ronta agar tangannya dilepaskan saat ia berada dia tas tubuh Mikael.
"Jangan banyak bergerak, tahu tidak aku jadi tidak bisa menahannya." Mikael berbicara masih tetap menggoda Aya tetapi nadanya begitu dingin dan datar.
__ADS_1
namun Aya yang mendengar menjadi malu, wajahnya kembali memerah. Telinganya juga ikut merasakan panas seperti pipinya. Aya memalingkan wajahnya yang semu merah itu. Aya pasrah dan tidak lagi berontak, namun Perlahan-lahan Mikael melepaskan tangan Aya, setelah melihat reaksi Aya yang begitu membuatnya terhibur.