Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
(Season 2) Mengigit umpan


__ADS_3

Sambil menggosokan sabun ke punggung Mikael. Aya mencoba menahan nafasnya dan badannya sedikit menjauh dari Mikael, menutup mata, berusaha agar tidak tergoda sedikitpun. "Sepertinya aku sudah selesai menggosok punggung mu." Katanya, sedikit memicingkan matanya. "Aku sudah selesai!"


Mikael tertawa, matanya menyorotkan kepuasan. "Kau lupa kau belum menggosok bagian depannya."


Aya sangat jengkel dengan Mikael. Ia menelan ludahnya. Berusaha mengikuti arahannya agar semuanya berakhir sedikit lebih cepat. Aya menutup matanya kembali ia tidak ingin melihat tubuh atletis Mikael dan tergoda untuk kedua kalinya, namun ketika itu tiba-tiba bel apartemen berbunyi.


ting-tong...


Aya dan Mikael langsung terdiam. Suasana hati Mikael tiba-tiba saja berubah. Mikael langsung beranjak dan mengambil handuk untuk memastikan siapa yang menekan tombol Apartemennya begitu terburu-buru dan tidak sopan.


Mikael meninggalkan Aya. Sedangkan Aya langsung mengunci pintu kamar mandi. Suara belnya semakin lama semakin kencang. Mikael menekan monitor yang berada di dekat pintu untuk melihat siapa orang yang mengganggunya ketika bersenang-senang.


Di dalam layar monitor kecil itu tampak, wajah Kai dan juga kedua anak kembarnya yang sedang menunggunya di luar. Ekspresi wajah Arya yang kesal dan Arka yang senang memainkan bel apartemen, membuat Mikael putus harapan untuk memiliki waktu berdua saja bersama Aya.


Mikael pun membukakan pintunya. "Papa Bos! kok lama sih buka pintunya?" Teriak Arka yang tersenyum dengan Aura yang berbeda, sampai Mikael merasa ngeri sendiri pada bocah berumur lima tahun lebih ini.


"Ken apa yang terjadi? mengapa kalian kemari?" Mikael mengabaikan Arka dan langsung menanyakan apa yang terjadi pada mereka sampai harus menemuinya.


Ken nampak kesal dan memendam amarahnya dalam-dalam. Ia pun langsung menyambar baju handuk Mikael. "Kau bisa-bisanya dengan santai seperti ini, padahal kau tahu sendiri itu adalah jebakan yang disiapkan oleh Raphael untuk menghancurkan mu!" Ken nampak tidak bisa lagi berpikir dengan jernih.


Mikael menepis cengkraman Ken "Kita bicarakan di dalam bisa gawat jika tubuhku terekspos disini." Mikael dengan tenang menyuruh ketiga orang itu masuk ke apartemennya terlebih dahulu lalu ia menguncinya.


Ken langsung mengambil posisi duduk terdekat karena ia sangat tidak sabar menunggu penjelasan dari Mikael.


"Apa maksudnya kau membunuh semua orang yang berada dalam Billiar itu?" Ken langsung bertanya pada inti apa yang ada didalam pikirannya.


"Sudah kuduga kau akan bertanya seperti itu." Mikael masih tenang. Walaupun tindakannya kali ini memang sangat gegabah dan kurang perhitungan. namun ia terkenal dengan berhati dingin, membuat semuanya tindakannya itu tidak bisa dibaca secara logika.


"Apa maksudmu?" Ken masih belum mengerti apa yang direncanakan oleh Mikael ataupun tindakannya yang diluar batas wajarnya. Bahkan Rudolf orang yang tidak suka ikut campur dalam masalah keluarga Gumelar juga harus turun tangan untuk menghentikan Mikael.

__ADS_1


Mikael : "Apa kau berpikir dengan kita berhati-hati mereka akan berhenti mengganggu keluarga kita? Kau salah Ken. Jika kita ingin menghentikan semua terornya selama ini jawabannya hanya satu mencabut peneror itu sampai ke akar-akarnya.


Musuh tidak akan mendekat jika kita terus berhati-hati. namun ketika ia tahu bahwa mangsanya telah menggigit umpannya dia akan hanya terfokus pada rencananya dan tidak akan mengetahui jebakan musuh yang sebenarnya."


Ken : "Apa yang kau rencanakan sekarang?"


Mikael :"Pertama-tama kita harus memberi pelajaran yang berharga untuk Bryan."


Ken : "Kau masih saja nekat Mikael. Bagaimana jika rencana mu juga gagal? Kau tidak tahu semenakutkan apa Raphael. Dia bagaikan malaikat pencabut nyawa." Ken bergidik ketakutan ketika mengingat kembali sosok Raphael yang tega membunuh ayah dan ibunya.


Arka : "Aku setuju dengan papa Bos, semenakutkan apapun orang itu toh dia itu masih sama-sama seperti kita."


Mikael : "Arka benar, Raphael sama seperti kita dia juga bisa mati, dia bukan malaikat tapi seorang iblis kecil."


Ken : "Baiklah kalian bisa tenang tapi aku tidak."


Mikael : "Ken ayolah, bukankah kau ingin membalas dendam orang tuamu?"


Mikael : "Oke baiklah kau masih ragu terhadap dirimu sendiri bisa melakukannya atau tidak, jawabannya cuman satu "harus bisa". Kau tahu siapa yang paling tersiksa olehnya adalah aku. Dewa Gumelar meninggal karena dibunuh olehnya, dia adalah buronan. Dia tidak akan bergerak secara besar-besaran.


Maka cara yang paling tepat adalah memancingnya keluar, untuk apa kita memiliki anggota kepolisian di keluarga kita jika dia tidak berguna."


Arya : "Aku tidak akan ikut campur urusan kalian kali ini, lebih baik aku menjaga ibu disini."


Arka : "Siapa yang mau mempergunakan mu, perasaan papa bos tidak bilang butuh bantuan darimu."


Arya : "Bagus kalau begitu, aku sudah lelah, aku mau pergi istirahat-" Arya kebingungan merasa ada hal yang ganjil. "Dimana ibu?"


Deg, perasaan tidak enak menusuk perasaan Mikael. Mikael terdiam dan tidak bisa menjawab apapun.

__ADS_1


Mikael : "Sepertinya ibumu sedang tidur(?)"


Arya : "Mencurigakan.." Arya menyipitkan kedua matanya sambil mengusap jenggot hayalannya dengan tangan yang satunya menopang tangan lainnya didepan dada."Arka bantu aku mencari ibu."


Arka : "Tidak mau, aku mau pergi ke kamar mandi dulu."


Mikael : "Jangan.."


Arya, Arka : "..."


Mikael : "Papa bos belum selesai mandi."


Arya : "Arka sepertinya kau sudah tidak tahan lagi." Arya sengaja dengan raut wajah yang semakin penasaran.


Arya segera berlari kearah pintu kamar mandi. Ia hendak membuka pintunya, namun pintunya terkunci. Arya terus berusaha mendorong pintunya dan membuka tuas pintu namun kamar mandinya tidak mau terbuka.


Arya : " Apa kau mengunci kamar mandinya? Kau tidak tahu Arka sudah tidak tahan lagi." Arya menggunakan alasan Arka agar minta di bukakan pintu kamar mandi yang terkunci itu.


Aya yang sedang di dalam kebingungan, beruntung ada persediaan handuk lain di dalam, namun jika ia pergi keluar sekarang. Ia akan disalah pahami mandi bersama dengan Mikael. Hati Aya mulai tidak tenang.


Ken : "Mikael ada apa denganmu? Kau kelihatannya tidak tenang seperti biasanya. Apa kau habis membunuh ibu anak-anak di kamar mandi?"


Ken membuat suasananya menjadi kacau balau. Arya semakin tidak sabaran.


Arya : "Apa!? cepat buka pintunya teganya kau membunuh ibuku! Aku akan membalas mu!"


Aya yang mendengar samar perkataan Arya, tanpa sadar keluar dengan sendirinya. Arya yang berada di depan pintu kaget melihat ibunya baik-baik saja. Begitu pun yang lainnya. Mikael menyuruh Ken untuk berbalik dan tidak melihat Aya.


Aya baru tersadar, namun dengan tenangnya ia hanya mengatakan sepatah dua patah kata dan meninggalkan Arya pergi ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Aya : "Arya kau sudah kembali? Cepat bersihkan dirimu juga, nanti ibu siapkan makan malam."


__ADS_2