Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
Kerja sama


__ADS_3


Jamuan yang begitu mewah. Bernuansakan kemewahan khas ala timur tengah. Keluarga Alfonso sedang mengadakan sebuah jamuan untuk kerjasama yang telah di bangun selama delapan tahun terakhir dengan keluarga Ardinata dan beberapa keluarga lain yang ikut bekerjasama dalam hal bisnis maupun penaikan kekuasaan.


Zen yang tidak sabaran itu mendekati Bianco, yang sedang mengobrol dengan seorang bangsawan lainnya. Dengan bernuansakan formal. Semua tamu yang menghadiri pesta yang diadakan di keluarga Alfonso itu terlihat sekali, kebangsawanan para tamunya.


Zen membawa Bianco ketempat yang sepi dan memulai pembicaraannya tentang kerjasama mereka yang sudah dibangun delapan tahun itu. Sambil membawa segelas anggur di tangannya. Bianco dengan tenang mendengarkan apa yang di bicarakan oleh Zen.


"Bianco!" Panggil Zen tergesa-gesa.


"Oi, Sudah lama sekali kita tidak berjumpa ya!? tenangkan dirimu kawan. Santai! Tidak perlu tergesa-gesa." Bianco menertawakan Zen yang terlihat sangat kacau itu.


Keheningan sesaat antara keduanya, Bianco mulai merasakan bahwa hal yang ingin dibicarakan oleh Zen adalah hal yang sangat penting. Wajah Bianco mulai serius. Tatapan matanya berubah menjadi Tajam.


"Apa kau sudah membereskan Mikael sesuai permintaan ku?" Nada yang semula akrab dari suaranya itu menghilang, berubah menjadi seorang yang hendak menerkam kapan saja.


Zen menggeleng dengan cepat. Sambil menundukkan kepalanya dan memainkan Jari-jemarinya. Ketakutan besar melanda di benaknya. Tubuhnya menggigil, bulu halus kuduknya berubah menjadi jarum yang menusuk setelan kemeja dan jasnya.


"Dasar Gobl*k! Berapa banyak kerugian ku untuk menyuruhmu melakukan hal yang sepele seperti itu." Bianco langsung membentak Zen dan memukulnya dengan keras. "Kau bilang bisa menghancurkan si bocah sialan itu dengan sekejap mata."


"Kau tahu sebelumnya aku mengincar penemuan yang dibuat oleh keluarga Dirgantara." Zen langsung menggertakan giginya kesal dengan apa yang di perbuat oleh Mikael terhadapnya. Dengan Aya sebagai kunci dari rencananya tersebut. "Si sialan itu merebut istriku, kau tahu istriku adalah pemegang kunci penemuan itu dan orang itu merebut istriku." Kemarahan yang terpancarkan di wajah Zen sangat jelas, membuat Bianco tertarik untuk memanfaatkanya kembali.


"Sebenarnya apa yang bisa dilakukan oleh penemuan itu?" Bianco mulai berbicara tenang tetapi tetap mendominasi suasananya.


"Totalnya ada dua penemuan yang diciptakan oleh Angga Dirgantara. Untuk yang pertama adalah penemuan yang bisa menghipnotis seluruh orang di dunia. Dengan itu kita bisa menguasai dunia dengan mudah." Mata ambisius Zen menjadi sangat membara hanya dengan membicarakan soal penemuan itu.


"Lalu yang kedua?" Bianco menggoyangkan gelasnya, lalu meneguk sedikit wine mahalnya itu.


"Untuk penemuan yang kedua adalah sebuah senjata yang bisa merusak sistem keamanan militer dan negara." dengan antusias Zen menjelaskan kedua penemuan yang diciptakan oleh keluarga Dirgantara. Agar Bianco tertarik dengan apa yang direncanakannya.


"Menarik" Kata singkat yang terucap di bibir bianco, yang tertarik mengetahui penemuan yang dapat mengendalikan dunia itu. Sifat serakahnya tidak pernah hilang. Bianco selalu menginginkan sebuah hal yang bisa membuatnya menjadi nomor satu.

__ADS_1


"Kalau begitu kita harus menghancurkan Mikael terlebih dahulu, dia sudah membantai keluaga ku dan juga merebut istriku." Dengan percaya diri Zen mengatakan rencananya pada Bianco tetapi Bianco malah menampar Zen dengan sangat keras.


"AHahaha" Suara tawa kencang Bianco setelah menampar Zen sampai mengeluarkan darah itu. "Inilah mengapa aku tertarik denganmu. Perasaan manusia yang sangat ingin membunuh orang lain. Aku suka ketika orang lain antusias membunuh orang."


Setelah itu Zen tersenyum. Merasa dirinya mendapatkan kekuatan yang besar untuk membalas dendam kepada Mikael.


***


Arya melanjutkan pembicaraannya tentang bagaimana situasinya yang sangat tidak dimengerti oleh Arya. Dari ketiga pria yang ada di ruang tamu itu Arya adalah seseorang yang paling mendominasi auranya.


"Paman bisakah kau menjelaskan mengapa kau memohon maaf kepada pria angkuh ini!" Arya menunjuk Mikael yang sepertinya tidak sama sekali berniat untuk memaafkan Tora.


"Paman dulu pernah mencuri sebuah chip robot milik orang ini, dan yang kena imbasnya adalah pamanmu." Tora menjelaskan kepada Arya. Karena Tora tau bahwa Arya adalah orang yang sangat keras kepala dan sulit dihadapi. Tapi Mikael yang mendengar kata pamanmu langsung menanyakan hal lain tentang sahabat baiknya.


"Apa maksudnya dengan kata pamannya anak ini? Apakah Kai adalah kakaknya Aya?" Mikael langsung membicarakan inti pertanyaannya.


"Benar."


"Kau tidak perlu tahu lebih jauh lagi bocah, sekarang kau tidurlah!" Mikael menyuruh Arya untuk segera tidur karena ada hal yang sangat ingin di bicarakan oleh Tora dan Mikael.


Tora menatap Arya dengan tatapan yang selaras dengan Mikael. Menandakan bahwa apa yang di katakan Mikael itu benar, dan Arya harus segera pergi tidur untuk pergi bersekolah di pagi harinya.


Arya menurut begitu saja. Ia berpikir bahwa pembicaraannya tidak berkaitan dengan ibunya sehingga ia memilih menurut dan pergi tidur di kamar Tora.


Sedangkan Mikael dan Tora kembali meneruskan pembicaraan mereka. Suasana berubah menjadi serius. Mikael begitu menantikan penjelasan tentang sahabatnya dari Tora.


"Wajah kalian mirip.."


Mikael yang sudah menanti pembicaraan itu merasakan bahwa Tora memang sedang menyembunyikan sesuatu darinya. namun Tora melanjutkan kalimatnya dengan lebih serius.


"Aku bersyukur ternyata Arya dan Arka adalah anakmu. Saat Aya menangis meneleponku. Kukira orang yang menyakiti Aya adalah orang yang lebih menjijikan dari Zen." Tora menghentikan kalimatnya lalu melanjutkannya kembali.

__ADS_1


"Kai.., dia mencoba menghentikan pernikahan Aya dengan Zen. Karena dia mengetahui rencana Zen. Dia memiliki rencananya sendiri. Lalu melakukannya sendiri."


"Bagaimana kau begitu yakin?"


"Aku mengetahuinya karena Kami sudah berteman sejak SMA. Aku juga mendengar bahwa keluarga Dirgantara membuat senjata yang paling kuat yang bisa mengendalikan seluruh dunia."


"Bagaimana kau mendengar berita itu?"


"Setelah aku keluar dari universitas aku bekerja menjadi hacker seorang mafia orang Amerika." Aku mendengar mereka sedang gencar mencari Keluarga Dirgantara. tapi seluruh data keluarga Dirgantara sudah di hapus total.


Zen menyangka pemegang kuncinya itu adalah Aya. tetapi Mereka salah. Pemegang kunci senjata itu adalah aku."


"Bagaimana bisa keluarga Dirgantara menyerahkannya padamu?"


"Aya tidak mengetahui apapun tentang ini dan Kai juga yang lainnya tidak mau Aya terlibat masalah ini. Jika aku yang pegang mereka tidak akan mengetahuinya. Mikael tolong jaga Aya dan anak-anak. Aku yakin Kai juga meminta hal yang sama padamu bukan?"


"Ku pikir kita sudah tidak perlu khawatir lagi tentang keluarga Ardinata. Karena aku sudah membantai bagian terpentingnya."


"Kau! itu tindakan yang gegabah sekali. Keluarga Ardianata memiliki pendukung di belakangnya. Dan kau pasti sangat mengenal orang ini."


"Mengenal?"


"Raphael Gumelar"


"Si bangs*t itu?"


"Bukankah kalian satu keluarga?"


"Dia bukan Gumelar, dia hanya anak yang tidak memiliki hubungan darah dan membantai keluarga angkatnya sendiri."


"Sepertinya ini akan semakin rumit. Kalau begitu tolong jaga Aya! Aku yakin Aya, Arka dan Arya bisa membantumu."

__ADS_1


__ADS_2