Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
(Season2) Menguak kepalsuan


__ADS_3

"Iya sepertinya aya demam bi, aku akan bawa aya beristirahat dulu di kamar."


Aya menangkap wajah Mikael yang tersenyum samar, Aya berpikir bahwa Mikael tersenyum karena ia sedang menertawakan Aya.


Mereka pun pergi menuju kamar tamu yang telah disiapkan. yang letaknya tidak jauh dari ruang tengah rumah yang megah itu. Mikael pun membukakan pintu untuk aya dan aya pun masuk lalu diikuti oleh Mikael yang kemudian Mikael pun menutup pintunya kembali.


"Wah, Mereka menyiapkannya dengan cepat." Ujar Aya takjub dengan kamar yang begitu luas dan bersih itu. Kamar itu lebih terlihat seperti kamar-kamar di hotel bintang lima dibandingkan kamar apartemen milik Mikael.


"Kau menyukainya?" Tanya Mikael.


"Bu,bukan begitu sebenarnya. ku pikir kau adalah orang yang paling kaya diantara keluarga Gumelar yang lain tapi nyatanya keluarga Rudyantara lebih dari itu." Aya sedikit mengejek Mikael di balik kata-kata alasannya itu.


"Kalau begitu kau mau apa membangun istana? Aku bisa membuatnya, tapi kurasa rumah itu tidak perlu mewah yang penting nyaman untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga."


"Oho, kurasa Mafia lebih menyukai kemewahan dan keserakahan. Tapi tidak di sangka seorang Mikael Gumelar mengatakan hal seperti itu hihihi." Aya tertawa mengejek Mikael yang berkata-kata seolah-olah bukan dirinya itu


"Hei, tetap saja aku ini serakah dan licik. Kau mau melihat keserakahan ku? Bagaimana jika aku mempraktikkannya sekarang di atas ranjang ini."


Jantung Aya tiba-tiba berdegup kencang. Ia mencoba mengontrol ekspresinya namun ia tidak bisa sehingga ia pun memalingkan wajahnya sambil menyuruh Mikael untuk pergi.


"Cepat kau pergi kesana bukankah kau ingin berbicara dengan Kak Malik." Ucap Aya mengusir Mikael secara halus.


Mikael menarik tangan Aya dan berbisik di telinganya "Kau benar, jangan tidur dulu ya sayang tunggu aku di ranjang." Mikael pun berbalik pergi meninggalkan Aya.

__ADS_1


Begitu Mikael membuka pintu dan keluar dari kamar itu, Aya pun menutup pintunya dengan cepat. Kulit wajah pipinya mulai panas kembali semu rona merah terlihat jelas.


Jika dalam jangka waktu kedepannya Mikael terus mempermainkannya seperti ini. Dirinya benar-benar akan jatuh kedalam perangkap Mikael, Aya harus benar-benar bisa mengontrol dirinya. Ia tidak boleh terjerat oleh rayuan mesum dari Mikael.


Aya pun pergi membungkus dirinya dengan selimut, ia harus segera tidur walaupun harus melewatkan makan malam karena jika ia tidak tidur lebih dulu menurut pikirnya Mikael akan melakukan sesuatu terhadapnya.


Disisi lain Mikael pun kembali ke ruang tengah, Malik dan Dewi Gumelar sudah duduk dengan santai, di tambah dengan Guntur yang duduk tepat berada di sebelah Dewi Gumelar.


"Apakah demamnya baik-baik saja?" Dewi bertanya pada Mikael karena khawatir dengan kondisi Aya.


"Tidak apa-apa dia hanya perlu istirahat saja." Mikael pun duduk di kursi yang paling jauh diantara Malik dan Dewi. dirinya berusaha menjaga jarak diantara mereka.


"Kak Alex dimana?" Guntur bertanya pada Mikael dengan penuh tanya.


"Aku menyuruhnya untuk mengawasi anak-anak karena mereka besok masih harus pergi sekolah." Mikael menjawab pertanyaan Guntur dengan tenang sambil menyeruput segelas kopi yang ada di atas meja tempat ia duduk.


"Sudah lah malik, lagian Alex sendiri yang rela melakukannya. tapi jadi kau yang marah." Dewi mencoba menenangkan Malik.


"Kau benar Ibu, maafkan aku terlalu banyak bicara."


Mikael bukannya merasa lega tetapi setelah Malik mengatakan maaf Mikael justru menjadi kesal dengan nada maaf yang tidak ada tulusnya sama sekali seperti itu.


"Tidak apa-apa, kak Malik kan lebih tua dariku. Kalau begitu aku hanya ingin bertanya beberapa hal pada kak Malik." Mikael berkata sambil menunjukan senyum palsunya itu.

__ADS_1


"Bertanya apa?" Malik pun mencoba menyimak Mikael sambil menyeruput cangkir teh yang diseduh hangat itu. Teh favorit Malik yang dikirim dari Prancis langsung dengan edisi yang cukup terbatas.


"Dimana kak Geo?" Pertanyaan yang tidak pernah diduga oleh Malik keluar dari mulut Mikael. Sampai dirinya sedikit tersedak oleh teh yang baru saja ia seruput itu.


"Apa kau bodoh, bertanya padaku? Sudah ku bilang aku tidak akan ikut campur keluarga Gumelar, ditambah Geo itu hanya keluarga bagian tidak ada level seimbang diantara aku dengan Geo." Malik menjawabnya dengan tajam. Ia mencoba mendominasi agar Mikael kalah dan berhenti bertanya tentang Geo.


Namun dengan keyakinan Mikael yang kuat ditambah kegigihannya yang selama ini ia tanamkan dalam dirinya sendiri Mikael tidak mau kalah dengan satu atau dua patah saja dari Malik.


"Bagaimana ya mengatakannya. Semenjak kak Geo selesai operasi, orang yang menjadi dokter pribadinya selama penyembuhan adalah kakak bukan?" Mikael mencoba membalikan situasinya untuk menekan kembali pada Malik.


"Itu benar, lalu kenapa? Bahkan orang yang mengoperasi Geo adalah Ayah. Semua itu adalah permintaannya ibu." Malik benar-benar pandai menyembunyikan alibinya, bahkan hampir tidak terlihat celah sedikitpun. Namun Mikael yang sudah tinggal beberapa tahun dengannya bisa melihat semua celahnya itu.


"Memang benar ibu yang memintanya pada Ayahmu dan Kau untuk membantu keluarga Gumelar. lalu sebenarnya apa permasalahannya?" Dewi Gumelar masih belum paham dengan plot yang diciptakan oleh Mikael dan Malik.


"Aku tahu betul sifat bibi yang tidak pernah memaksa pada Malik, tapi pasti bibi juga meminta merawat kak Geo juga pada kak Alex bukan?" Ujar Mikael sambil tersenyum licik.


"I,iya bibi juga meminta hal yang sama pada Alex." Dewi mengiyakan peryataan yang diikatkan oleh Mikael.


""Nah, jika Malik merasa dirinya tidak ada hubungannya dengan keluarganya Gumelar, kenapa ia tetap merawat Kak Geo, bukankah dia lebih sering menyuruh Alex jika menangani keluarga kami?" Mikael tersenyum dan membuat malik sedikit kesal dengan perlakuan yang dilakukan oleh Mikael.


"Iya itu benar, kak malik jarang sekali turun tangan langsung kecuali dalam kondisi yang sangat darurat dan perlu ditangani olehnya." Guntur tiba-tiba menyela ditengah pembicaraan yang sangat serius ini.


Mikael tersenyum berhasil menghasut Guntur dan Dewi Gumelar dihadapan Malik.

__ADS_1


"Lalu apa hubungannya denganku yang menyembunyikan Geo?" Malik bertentangan dengan dingin pada Mikael.


"Tentu saja itu karena kau dan Geo mengetahui sesuatu, dan menyembunyikannya satu sama lain. Sehingga terciptanya kerja sama diantara kalian berdua. Maka dari itu kau membantu Geo untuk kabur bukan?" Wajah Mikael berubah menjadi sangat serius ditambah dengan tatapan tajam seperti hendak membunuh musuhnya itu.


__ADS_2