
"Hallo!?"Suara Geo terdengar nyaring di telinga Giovanni.
Saat itu juga Giovanni tidak bisa berkata-kata. Rasanya sudah lama sekali Giovanni tidak mendengar suara kakaknya secara langsung.
"Kak!" Suara gemetar Giovanni yang hanya mengucapkan satu kata saja itu. Membuat Geo keheranan, Apakah dirinya begitu lebih menyeramkan dari Mikael hingga adiknya sendiri sebegitu ketakutan dan gemetaran saat berbicara satu kata saja padanya.
"Kau mau minta bantuan apa?" Geo sudah menduga bahwa adiknya yang jarang berinteraksi dengannya itu tiba-tiba meneleponnya, pasti memiliki maksud lain. Begitu pikir yang ada di dalam otak Geo.
"Kakak, aku.." Giovanni masih ragu untuk mengatakannya. Di dunia ini orang yang paling ia takuti adalah kakaknya dan Mikael. Tentu saja Mikael adalah orang yang sangat dominan dan prestasi nya selama ini bukanlah sebuah Senda gurau.
"Hei, apa lidahmu sudah putus selama kau menjadi tangan kanan orang itu?" Geo sangat kesal, Adiknya itu terdengar sangat sungkan kepadanya. "(Cih, adik durhaka. Ia hanya menelpon kakaknya ketika ia ingin meminta bantuan saja.)" Dalam hati Geo mengharapkan Giovanni menelpon untuk memintanya bertemu dengannya, untuk meminta maaf atau hanya menanyakan kabarnya, namun sayang Geo terlalu kecewa pada adiknya itu yang lebih mengutamakan Mikael dibandingkan dirinya yang merupakan kakak kandungnya sendiri.
Giovanni sesekali melihat Mikael yang sedang menunggunya. Tatapan tajam dan pukulannya yang masih berasa tadi membuat Giovanni dengan cepat bisa menghilangkan keraguannya kepada kakak Geo. "Kakak, aku minta maaf. Bolehkah aku meminta bantuan untuk menjemput anak kecil di Toko Eskrim di dekat apartemen xx. Jaraknya tidak jauh dari kantor kakak. Aku mohon bantuannya kak!"
Suara Giovanni kali ini tampak seperti suara anak kecil yang meminta kue kepada kakaknya. Suara yang membuat Geo luluh dan tidak bisa mengatakan tidak kepadanya walaupun ia dalam keadaan kesal.
"Baiklah siapa anak yang harus ku jemput itu, Dia Arya kakak pasti pernah mendengar nama Arka. Nah Arya adalah kakak kembarnya Arka. walaupun mereka kembar, namun kakak harus berhati-hati pada Arya karena ia adalah anak yang sangat berhati-hati dan penuh trik. Kakak jangan sampai menakutinya." Giovanni menjelaskan singkat tentang sifat Arya yang begitu berhati-hati. Giovanni mengatakannya agar Geo tidak membuat Arya takut dan menolak pulang dengannya.
"Hanya itu!?" Geo mengatakannya dengan nada malas, adiknya itu masih saja lebih memedulikan kepentingan Mikael dibandingkan Geo sebagai kakak kandungan nya. Bahkan Rio yang tidak pernah sama sekali dekat dengan Mikael, namun kini karena Arya dan Arka yang membantunya menyelesaikan kasus Paman Septian membuat Rio beralih pihak kepada Mikael.
__ADS_1
"Iya kak, sebagai gantinya aku akan meneraktir kakak bermain dua putaran di tempat boling keluarga Young." Giovanni berusaha menawarkan penawaran yang mungkin membuat Geo tertarik untuk menyepakatinya.
"Baiklah, Aku terima penawaran mu, tapi jika kau tidak ikhlas bermain dengan ku juga tidak apa-apa aku tidak masalah dengan itu." Geo langsung menutup Telponnya tanpa berkata lebih lanjut lagi dari Giovanni. Walau agak kesal, setelah mendengar adiknya akan meneraktirnya main, rasa kesalnya mungkin sedikit menghilang.
Geo bergegas mengambil jasnya dan merapihkan pakaiannya. Ia mengambil kunci mobil yang berada tepat diatas meja. Ia segera bergegas ke area parkiran menggunakan lift pribadinya.
Disisi lain Giovani merasa lega setelah menelpon kakaknya itu akhirnya tidak terjadi apa-apa, setelah sekian lama mereka bertengkar hebat dan berusaha membunuh satu sama lain.
Perselisihan berbeda pendapat adik-kakak yang penuh emosi itu membuat kediaman keluarga Zaidan Gumelar sangat kacau, sebelum akhirnya Mikael datang untuk membantu Giovanni kabur dari amukan Geo.
Beruntung Zaidan Gumelar dan Citra Francesc, ayah dan ibu dari kedua anak tersebut, sedang pergi berliburan di luar negeri, sehingga tidak menyaksikan betapa parahnya mereka bertengkar hingga melukai satu sama lain.
"Kau duluan saja aku harus menunggu Arka di depan gerbang AngelTech." Giovanni tahu kakaknya itu tidak akan pernah Sudi untuk masuk kedalam AngelTech walaupun hanya satu senti saja, sehingga ia memilih untuk menunggunya di jalan pertemuan dekat dengan AngelTech.
***
Mikael dan Aya masuk bersama sambil bergandengan tangan, di pangkuannya terdapat Arka yang sedang tertidur pulas.
"Apa yang kalian bicarakan?" Aya sangat penasaran dengan apa yang Mikael bicarakan dengan Giovanni, sampai Mikael harus memukul Giovanni di dalam mobilnya itu.
__ADS_1
"Pokoknya kau tidak boleh lepas dari tanganku, tetaplah berlindung dibelakang tubuhku."
Mikael tidak mengatakan apapun pada Aya, namun Aya sangat mengerti bahwa ada sesuatu yang sangat berbahaya yang tengah dihadapi mereka.
Mikael dan Aya terus melangkah maju masuk kedalam kantor. Disana masih banyak pegawai kantor yang berlalu lalang, membuat Aya malu sendiri ketika melihat para karyawan itu memandangi Aya yang sedang berpegangan tangan dengan Mikael. menurutnya ini kali keduanya ia sangat malu berjalan dengan bersama Mikael dan dilihat oleh banyak karyawan disana.
Merekapun masuk kedalam lift pribadi milik Mikael. Wajah Mikael yang begitu tenang dan tidak sedikitpun berubah itu, membuat Aya sedikit keheranan. Apakah di dalam diri Mikael rasa malu itu benar-benar sudah tidak ada lagi. Mikael menarik Aya untuk tetap berada di belakangnya.
Ketika di dalam lift, tiba-tiba saja Arka terbangun dari tidurnya. Arka mengedipkan matanya dan menggosok-gosokkan matanya dengan bibir nantinya yang sangat membuatnya tampak menggemaskan.
"Ibu! Apa kita sudah dirumah?" Arka bertanya manja dengan suara seraknya kepada Aya.
"Arka, papa minta kamu setelah keluar dari lift ini untuk tutup telingamu ya!" Ucapan lembut Mikael pada Arka membuat Aya tersentuh dengan sosok Mikael yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sosok lembut dan pengertian Mikael pada Arka itu, menyadarkan Aya akan sesuatu hal tentang Mikael.
Walau seburuk apapun Mikael terhadapnya, tetapi Mikael tidak pernah berlaku buruk kepada Arya dan Arka. Mungkin Mikael adalah sosok ayah yang cocok bagi Arya dan Arka, namun keadaan Mikael saat ini, keadaan dimana ia diliputi bahaya setiap jengkalnya membuat Aya berpikir dua kali ketika Aya benar-benar ingin masuk kedalam kehidupan Mikael.
"Aya pegang tanganku yang kuat, Aku akan melindungi mu dan Arka." Kata-kata Mikael yang seperti itu membuat terngiang di telinga Aya. Itu kali pertamanya setelah sekian lama seseorang mengatakan ingin melindunginya setelah kakaknya yang biasa mengatakannya itu kini sudah tidak lagi berada disisinya.
Ketika itu pintu lift terbuka, Mikael dan Aya yang mengikutinya dari belakang itu melangkah keluar lift. Mikael memasukan tangannya kedalam saku dalam jasnya untuk mengambil pistolnya.
__ADS_1