
Aya di tungtun oleh Mikael menuju mobilnya, namun tiba-tiba saja Aya terhenti. Karena ia baru saja ingat akan sesuatu. "Hey tunggu sebentar" Aya berlari ke arah Rudolf. Menyodorkan sebuah pena yang entah darimana dan pistol buatannya itu pada Rudolf. "Tolong tanda tangan disini!" Dengan wajah tersenyum Aya tidak begitu mengerti situasi yang sebenarnya terjadi.
"Oi, cepat beri tanda tanganmu pada istriku." Mikael berteriak pada Rudolf untuk segera memberikan tanda tangan pada Aya.
"Hei, siapa yang kau bilang istrimu, hah?" Aya memprotes tidak ingin menyebarkan rumor yang tidak benar.
"Kalau kita bukan suami istri, kenapa kita sudah memiliki anak kembar yang benar-benar sangat menggemaskan?" Entah mengapa Aya merasa sangat malu mendengar perkataan yang diucapkan oleh Mikael.
"Berhenti berbicara seperti itu." Pipi Aya terasa terbakar dengan ucapan yang sangat memalukan seperti itu di depan orang-orang yang tidak dikenal dekat oleh Aya.
"Ternyata kau sudah sedikit berubah Mikael, aku akan minta bayaran tanda tanganku nanti." Rudolf menandatangani Pistol milik Aya. Lalu pergi meninggalkan mereka menuju mobilnya dan pergi sampai batang hidungnya tidak lagi nampak.
"Benar-benar orang yang merepotkan." Mikael menggerutu pelan setelah Rudolf pergi. "Hei jelek ayo cepat kita pulang. Bantu aku membersihkan darah yang menempel di tubuhku." Tanpa rasa malu sedikit pun Mikael langsung menarik Aya naik kedalam mobilnya. Aya hanya terdiam, dengan wajah dan telinganya yang sudah benar-benar panas hingga seperti akan meledak.
Sementara itu mereka meninggalkan Giovanni sendirian disana, bahkan dia tidak membawa mobilnya. Perannya sebagai tangan kanan Mikael benar-benar tidak berguna kali ini.
***
Aya : "Apa kau benar akan metinggalkan Gio disana?"
Mikael : "Kau jangan cemas dia bukan anak ayam yang bisa tersesat."
Aya : "Kau sangat tidak berperikemanusiaan!"
Mikael : "Aku memang bukan seorang peri yang memiliki perasaan seperti itu. Aku ini cuman pria biasa yang kekurangan cinta."
Mikael mengatakannya sambil mengemudi lalu diam-diam melihat kaca spion mobilnya.
Aya : " Hahaha, kau bercanda?"
Mikael : "Apakah aku terlihat selalu bercanda di mata mu?"
__ADS_1
Aya : "Yaa, karena kau seperti tidak pernah serius."
Mikael ; "Apakah kau tidak menyesal mengatakan hal seperti itu?"
Aya : "Aku tidak akan pernah menyesal."
Mikael : "Aku harap kau tidak pernah menarik kata-katamu lagi."
Aya : "Buat apa aku menarik kata-kataku.."
10 menit kemudian...
Mikael dan Aya sudah sampai di Apartemen. Semuanya masih hening Arya dan Arka masih belum juga pulang. Aya masuk dan melepaskan penatnya dengan bersandar di kursi sofa yang ada di tengah rumah sedangkan Mikael pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan Air untuknya sendiri.
Setelah itu Mikael melihat Aya yang setengah tertidur di sofa depan begitu manis. Di lubuk hatinya ada rasa keinginan untuk mengganggunya untuk mengungkapkan rasa yang tersirat didalam dirinya.
Mikael kembali ke kamar mandi dan menutup keran air yang terbuka saat mengisi Air. Seketika itu ia teringat bahwa ia akan menggunakan Aya untuk membantunya mandi membersihkan bercak dan bau darah yang melekat pada badannya.
Dengan hati-hati Mikael melempar Aya ke dalam bathtub yang sudah berisikan air hangat yang akan ia gunakan untuk mandi. Aya pun sontak langsung terbangun melihat dirinya berada di kamar mandi tepatnya diatas bathtub kamar mandi Mikael.
Sedangkan saat itu Mikael mengunci kamar mandinya agar Aya tidak bisa kabur darinya. Aya melihat Mikael dengan tatapan kesal dan tidak mengerti apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Mikael.
Aya : "Apa yang akan kau lakukan dasar cab*l!"
Mikael : "Bukanya sudah ku bilang kau harus membantuku membersihkan tubuhku. Apa kau lupa?"
Aya : "Oi, Kau pasti bercanda!"
Mikael : "Bukankah surah kubilang aku ini selalu serius?"
Aya : "Cepat buka kuncinya atau.."
__ADS_1
Mikael : "Atau apa? Sini akan ku perlihatkan keseriusanku dalam hal ini terlebih dahulu."
Mikael mendekati Aya perlahan-lahan, membuat Aya benar-benar bingung harus berbuat apa. Pikirannya buntu saat itu juga, Mikael melepas handuknya dan memperlihatkan tubuhnya yang begitu indah dan atletis dihadapan Aya, sehingga membuat Aya tidak bisa lagi berpikiran dengan jernih.
Aya : "Hei-hei cepat pakai handuk mu lagi, aku tidak bisa.." Aya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya untuk menyembunyikan wajah malunya dari Mikael.
Mikael berhasil mendekat dan kakinya mulai memasuki Air, dan akhirnya ia berendam di air yang sama bersama dengan Aya. Mikael menempelkan tubuhnya pada Aya, dan membuka tangan Aya dengan paksa. namun Aya bersikukuh tidak mau melihat tubuh Mikael yang bisa merusak kewarasannya itu.
Mikael benar-benar tidak bisa melepaskan tangan Aya dari wajahnya, akhirnya ia pun mencium dan menggigit telinga Aya. Disaat itu tangannya reflek membuka dan ingin memukul Mikael, namun tangannya berhasil di tangkap oleh Mikael.
Sehingga Aya tidak bisa lagi menyembunyikan wajah malunya dihadapan Mikael, Aya memalingkan wajahnya. Mikael meletakan tangan Aya tepat di depan dadanya yang bidang dan berotot itu.
Aya semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. namun ia harus tetap menahan nafsunya sendiri.
Mikael : "Sayang jangan melihat kesana dong, akunya kan ada disini. Sini bantu aku menggosokkan bandan ku."
Wajah Aya semakin merah padam mendengar suara berat indah Mikael yang berdengung di telinganya. pikiran liarnya sudah hampir melewati ambang batas.
Aya : "Aku tidak bisa! cepat pergi dan jangan main-main padaku!"
Mikael menarik tangan Aya dan langsung menciumnya. Mata Aya terbelalak kaget dengan tindakan Mikael yang begitu nekat untuk mempermainkannya. Namun entah mengapa ada suatu hal yang membuat Aya begitu menikmati ciuman Mikael yang begitu lembut itu.
Aya hendak mendorong Mikael menjauh darinya, tetapi ia tidak kuasa saat ia merasakan bibir Mikael yang begitu kekar namun lembut itu. tanpa sadar Aya menikmati ciuman dari Mikael dan membalasnya.
Mikael tersenyum senang dengan respon Aya yang berbeda dari ekspektasinya. Mikael melanjutkannya dengan lebih dalam lagi. Seketika itu Aya tersadar dan menggigit bibir Mikael hingga berdarah.
Mikael : "Aw.., itu sangat sakit Sayang."
Mikael masih mencoba merayu Aya untuk melanjutkannya lagi. namun Aya sudah sadar dari naluri nafsunya yang bertentangan dengan keyakinan dan keteguhannya.
Aya : "Diam kau! Ini sebuah kesalahan besar bagaimana aku bisa melakukan ini dengan pria yang membuat keluargaku hancur" Aya terus memaksakan dirinya untuk tidak mengikuti naluri ilmiahnya.
__ADS_1
Mikael : "Aku tahu perkataan mu tidak tidak sesuai dengan keinginan tubuhmu, karena tubuhmu ini tidak bisa berbohong."