
Ken segera menyusul kebawah memberitahukan keadaan Arya pada Mikael dan Aya, namun saat ia pergi ke lorong untuk naik lift. Ken merasakan ada seseorang yang tengah bersembunyi didekat lorong itu. Ken melihat bayangan hitam bergerak menuju gudang penelitian.
Dalam pikirannya ia takut hal itu adalah sebuah jebakan yang dilakukan oleh seseorang untuk meninggalkan ruangan Mikael. Ken perlahan mundur dan kembali ke Ruangan Mikael memastikan Aplikasi itu tetap aman di sana.
Seperti yang Ken duga, ada sosok bayangan hitam lain di lorong itu. Beruntung ketika Mikael dan Aya pergi kebawah menemui Arka, dirinya baru saja tiba setelah mencari Arya dan Arka di daerah gudang tempat pelelangan.
Ken melangkahkan kakinya untuk kembali ke dalam ruangan Mikael. Ia masuk seolah-olah tidak terjadi sesuatu. Ken langsung meraih ponselnya dari dalam saku jasnya. Ia langsung mengetikan sebuah nomor ponsel seseorang dengan terburu-buru. Nada sambung berbunyi sangat nyaring. Tiba-tiba terdengar suara seseorang didalam ponsel itu.
"Hallo!?" Suara dari dalam ponsel itu.
"Gio suruh anak buah mu untuk mencek lorong lantai 2 dan lantai 67." Ken berbisik sambil menempelkan bibirnya ke ponselnya itu. Tangan dan kakinya bergidik ketakutan. Ken kembali memastikan bahwa ia telah mengunci pintunya. Agar orang-orang tidak bisa membukanya.
"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Terdengar suara Giovanni yang sangat tenang.
Apa yang terjadi pada Gio bukankah dia tengah mencari Arya dan Arka, mengapa ia terdengar setenang itu?, Ken pun memastikan sesuatu pada Gio. Ken trauma dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Bryan Beberapa Minggu yang lalu. "Gio apakah Arya dan Arka sudah kau temukan?"
"Aku sudah menemukan Anak itu, seseorang melihatnya di toko Es Krim. Aku tengah menjemputnya." Gio ikut berbisik mengikuti Ken, berjaga-jaga jika memang situasi Ken sedang dalam bahaya. "Mikael dimana? Bagaimana bisa penyusup memasuki kantor dan lantai 67, bukankah lift reguler tidak ada tombol lift lantai 67?"
"Mikael sedang ke bawah menjemput Arka bersama Aya. Sepertinya mereka masuk lewat tangga darurat. Ingat cepat suruh anak buah mu kemari, kalau perlu tolong cek seluruh gedung." Ken dengan penuh kehati-hatian menyuruh Gio untuk mengerahkan anak buahnya memeriksa seluruh gedung kantor dari para penyusup.
Aneh padahal gedung memiliki keamanan yang sangat ketat, semua pegawai memiliki daftar iris mata dan sidik jari, bahkan dibawah terdapat satpam psikologis yang bisa mengetahui niat setiap orang yang masuk kantor. Dalam hati Ken mempertanyakan sesosok bayangan yang dilihatnya.
__ADS_1
Gio sehabis mendapatkan telpon dari Ken pun, memberhentikan mobilnya ke tepian. "Mikael sedang menjemput Arka? Apakah itu si kembar anaknya? Kalau begitu biasanya anak kembar itu satu paket, jika anak yang satunya sudah ditemukan pasti yang satunya lagi sedang bersamanya. Sebaiknya aku pergi saja kekantor untuk mengurus para penyusup itu."
Giovanni memutar balikan mobilnya dan menuju kantor. Ia mengira bahwa Arya dan Arka sudah ditemukan secara bersamaan. Sehingga ia memutuskan untuk mengecek penyusup seperti yang dikatakan Ken.
***
Arya sudah menunggu begitu lama, namun Mikael dan Aya belum juga menjemputnya. Arya sambil memakan es krimnya tampak mukanya yang mengkerut kesal itu berulang kali melihat kearah luar, menunggu seseorang menjemputnya.
"Arya kau baik-baik saja?" Penjaga toko es krim itu bertanya pada Arya sambil membereskan tokonya yang akan tutup itu.
"Apakah Paman Ken sudah memberitahukan pada Ibu ya? atau Ibu hanya memedulikan Arka saja." Suara mengeluhnya membuat semua orang ingin mengelusnya dan mengatakan kata-kata untuk menyemangatinya.
"Arya mungkin mereka terkena macet, atau pamanmu pelupa." Penjaga toko es krim itu mengacak-acak rambut Arka sambil menenangkannya.
"Terimakasih paman! Paman memang yang terbaik." Arya tersenyum berusaha menahan rasa kecewanya itu.
Namun tidak lama kemudian seorang pria dengan stelan jas berwarna biru dengan pola batik di sebelah bagian kanan jasnya. Kacamata hitam mengkilap membuatnya terlihat bahwa ia bukanlah orang sembarangan. Rambut hitam yang sangat tertata rapih itu membuat kesan yang mendalam dengan tingginya yang hampir dua meter itu.
"Hallo, Arya!" Pria itu tiba-tiba bisa mengetahui nama Arya begitu saja.
"Paman siapa?" Arya sangat berwaspada, ia pun lari menyembunyikan dirinya di balik tubuh penjaga Toko Eskrim itu.
__ADS_1
"Maaf Tuan ini siapa?" Penjaga itu membantu Arya untuk memastikan identitas Pria itu.
"Aku pamannya Anak ini." Menyodorkan Kartu namanya Pria itu tersenyum tipis.
"Geo Gumelar dari Perusahaan Geologi, Perbatuan dan Pertambangan?" Penjaga toko es krim itu melirik Arya.
"Apakah aku bisa mempercayaimu?" Kasir Es krim itu tiba-tiba muncul dari pintu belakang gudang persediaan bahan.
"Ahahaha, bagaimana Arya?" Pria itu melepas kacamatanya. Arya baru menyadari sesuatu dari tangan pria itu terdapat cincin keluarga Gumelar.
Seingat ku, Mikael dan Paman Ken, memakai cincin yang sama dengan pria itu hanya saja letak jari yang di pakaikan cincin itu sedikit berbeda. Mungkin dia suruhan Mikael untuk menjemput ku. Aku tidak boleh melibatkan Paman toko es krim untuk soal ini.
"Paman, dia benar paman ku." Arya menari ujung baju penjaga toko itu untuk memberitahukan bahwa Pria itu adalah pamannya.
"Apa kau yakin Arya?" Penjaga toko eskrim itu meyakinkan Arya sekali lagi, untuk berjaga-jaga terjadi sesuatu yang tidak dinginkan.
"Kau bisa mempercayai ku, adikku Giovanni adalah bawahan langsung Ayahnya Arya. Aku kesini karena Gio sedang mengurus sesuatu yang mendesak." Pria itu menjelaskan identitasnya lebih jelas lagi kepada penjaga toko dan Kasir Eskrim itu.
Kalau aku tidak kebetulan lewat sini, mana mungkin aku mau melakukannya, aku tidak terlalu menyukai Mikael. Aku disini hanya sebagai keluarga bagian tidak terlalu berkuasa dibandingkan dengan keluarga utama. Mereka hanya bertindak sesuka hati mereka memanfaatkan keluarga bagian sebagai alat mereka. kata hati yang sebenarnya ia sangat tidak ingin melakukannya namun kuasanya sangatlah terbatas dan tidak kuat bagi seorang keluarga bagian sepertinya.
"Tapi Paman bolehkah aku bertanya sesuatu?" Arya mengatakan sebuah permintaan dihadapan Pria itu, Karena saat itu juga Arya teringat dengan Rio yang menggunakan cincin yang sama dengan pria itu. "Paman! Apakah Paman punya nomor Paman Rio? Dia kan seorang polisi detektif kemungkinan dia sedang mencari ku karena perintah Mikael, aku ingin menelponnya mengatakan aku baik-baik saja." Arya menguji orang itu dengan beberapa taktik yang sedang ia permainkan.
__ADS_1
"Kau kenal dengan Rio juga ya? Baiklah telponlah." Pria itu menyodorkan ponselnya "Nama kontaknya tertera dengan nama Anak Tiri." Pria itu mengatakannya dengan nada datar, tetapi itu cukup membuat Arya tertawa geli mendengarnya.