Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
(Season 2) Berburu Dalam Sarang


__ADS_3

Setiap seluk beluk lantai 67 adalah tempat yang paling Familiar bagi Mikael. Entah para penyusup itu yang kurang pandai atau Mikael yang terlalu hebat. Dengan kemampuan menembaknya yang tidak diragukan lagi. Mikael berhasil menghabisi orang-orang yang berani masuk kedalam lantai 67 tanpa seizinnya.


Tangannya sudah mulai pegal dengan dilumuri begitu banyak darah. Tidak hanya itu darah-darah itu juga menyiprat ke kemeja putih dan jas hitamnya itu. Tertinggal satu orang lagi. Mikael dengan gesit menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.


Mikael mebasahi bibirnya yang kering, lalu berlari menangkap seseorang yang tersisa itu, namun alarm didalam diri orang itu tidak salah untuk mengatakan melarikan diri dari Mikael. Orang itu segera berlari kabur menuju gudang penelitian, namun semuanya sudah terlambat Mikael yang memiliki pengetahuan luas tentang lantai 67 daripada orang itu, sehingga Mikael berhasil dengan mudah menangkapnya.


Dengan sedikit perlawanan fisik yang begitu menebarkan. Orang itu berusaha melawan Mikael dengan menggunakan benda di sekitarnya. Orang menggunakan sebuah tongkat besi yang berada di ruang gudang penelitian. Beberapa kali orang itu meluncurkan serangan secara acak menggunakan tongkat besi itu, namun Mikael juga tidak kalah hebat dalam berkelahi fisik dengan orang itu, sehingga Mikael berhasil menghindar setiap perlawanannya. Mikael melawan balik dengan melayangkan beberapa tendangan dan tinju yang akhirnya Mikael berhasil meringkus orang itu.


Mikael menekan orang itu kelantai, sambil menodongkan pistol miliknya. Mikael terlebih dahulu mengintrogasi orang itu, untuk mengatakan siapa orang di baliknya. "Cepat katakan siapa orang dibalik ini?" Mikael menekan orang itu dengan lebih keras lagi. Aura yang menekan udara, tatapan mata yang tajam dan dingin itu membuat orang itu gemetaran hebat.


"B,baik, a,akan ku beritahu sedikit. Aku tidak tahu siapa dia tapi ia dijuluki sebagai bos Panther!" Orang itu benar-benar ketakutan setengah mati, dengan kemampuan Mikael yang bagaikan monster itu.


"Katakan dengan benar jika kau menyayangi nyawamu!" Mikael menekan lebih keras lagi pistol yang ia tempelkan diatas kepala orang itu.


"A,aku benar-benar tidak tahu.., Saya hanya mendengar nama samarannya saja." Begitu selesai mengatakan itu Mikael dengan segera menarik pelatuknya dan menembak kepala orang itu tanpa rasa simpati sedikitpun.


Lagi-lagi darah mengotori jas dan kemeja putih Mikael. "Cih, haruskah aku membeli baju satu lusin lagi atau sekalian saja aku membeli satu kodi. Mungkin aku akan mendapatkan diskon untuk pembeli berlangganan." lagi-lagi ia harus membakar kemeja dan jasnya, menurut pikir Mikael.


Dengan tangannya yang masih berlumuran darah itu, Mikael mengambil sapu tangannya untuk membersihkan darah-darah yang ada ditangannya itu, namun sayang darah-darah itu mulai mengering. sehingga ia hanya bisa membersihkan sebagian darah yang masih basah saja.

__ADS_1


Mikael membuang saputangannya itu, dan segera mengambil ponsel daruratnya. karena ponselnya tertinggal di ruang kerja miliknya. Ia mengetikan sebuah nomor di ponselnya itu.


Tuut…Tuuut... suara nada hubung ponsel ketika Mikael sedang menelpon seseorang.


"Hallo!?" Suara berat pria terdengar di telinga Mikael.


"Giovanni! Apa kau sudah menyelesaikan tugasmu?" Mikael menanyakan pekerjaan Giovanni yang Mikael percayakan padanya.


"Aku sudah menjemput Arka, anak buah ku sudah menyisir seluruh perusahaan namun tidak ada satupun yang mencurigakan." Giovanni mengatakannya sambil menggendong Arya yang tertidur dipangkuannya.


"Kalau begitu kau suruh anak buah mu untuk membereskan hasil buruanku di lantai 67. lalu ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu apakah kau tahu sesuatu tentang bos phanter?" Mikael bertanya tentang bos panther seperti yang dikatakan oleh orang terakhir yang ia bunuh itu.


"Bos panter?"


"Bos Panther???"


"Benar, kalau kau tidak tahu sebaiknya kau segera mencari tahunya dalam waktu dekat ini. Aku tidak mau kejadian seperti ini terjadi lagi. Ingat waktu pembalasanku masih belum selesai. Jika gangguan kecil seperti ini terjadi lagi, kau akan tahu akibatnya. Satu lagi cari tahu tentang keluarga Dominguez, akhir-akhir ini mereka tampak mencurigakan. Aku ingin kau menyeledikinya sampai ke akar-akarnya."


Tanpa memberi kesempatan kepada Giovanni untuk berbicara. Mikael langsung menutup telponnya, lalu memasukan kembali ponselnya kedalam sakunya.

__ADS_1


***


Dalam pangkuan Giovanni, Arya masih tertidur dengan lelap. Saat itu juga Giovanni sampai di lantai 67. Begitu banyak darah yang bersimbahan dimana-mana. para mayat yang masih tergeletak pun jumlahnya tidak sedikit. Dalam prediksi Giovanni sekitar sebelas orang yang berhasil menyusup ke lantai 67.


Giovanni berjalan begitu hati-hati, ketika itu juga Giovani berpapasan dengan Mikael dengan keadaan yang sangat berantakan dan di lumuri banyak darah ditangan dan bajunya.


Ketika itu juga Mikael melewatinya sambil memegang bahunya dan menempelkan bibirnya di telinga Giovanni. "Cepat antarkan Arya dan temui aku di lantai dua." Suara berat dan tajam Mikael membuat Giovanni sedikit bergidik dibandingkan suaranya saat menelpon beberapa menit yang lalu.


Mikael lanjut berjalan melewati Giovanni menuju lantai dua untuk mengganti pakaiannya. Sedangkan Giovanni berjalan ke arah sebaliknya menuju ruang kerja Mikael untuk mengantarkan Arya pada Aya yang sedang bersembunyi di ruangan kerja itu.


Giovanni segera mengambil ponselnya kembali dan menelpon seseorang di ponselnya itu. "Tolong bereskan ruang kerja lantai 67 Sekarang!" Giovanni menutup ponselnya dan melanjutkan jalannya dengan hati-hati.


Dalam hati Giovanni ia sangat terheran-heran, tidak biasanya Mikael menunjukan kemarahannya yang begitu besar seperti itu, bahkan berani memukulnya di dalam mobil saat didepan Aya dan Arka.


Giovanni sampai di depan pintu ruang kerja Mikael. Ia langsung memasukan kode masuk ke ruangan itu dan membuka pintunya. Didalam nampak Aya, Arka, dan Ken yang sedang menggigit jarinya, sepertinya ia sedang mencemaskan Mikael dan keadaan diluar.


"Ken, kenapa kau tidak membereskan keadaan di luar? Ini tidak seperti kau biasanya." Giovanni berbicara sambil memberikan Arya ke pangkuan Aya yang langsung menyambutnya itu.


"Disini ada ponsel Mikael dan beberapa alat rahasia yang masih belum diamankan." Ken beralasan untuk menjaga alat berharga milik Mikael, namun kenyataannya penyakit Trauma Ken yang sudah lama tidak pernah kambuh, akhir-akhir ini sering sekali kambuh disaat-saat genting.

__ADS_1


"Kalau begitu aku kan pergi lagi, Aya kau tidak boleh kemana-mana sampai Mikael kembali." Giovanni tanpa berlama-lama berbincang dengan Ken ia hendak segera menemui Mikael di lantai dua.


Namun ketika itu, Arya tiba-tiba menarik ujung lengan jas milik Giovanni. "Paman! Kapan-kapan bawa aku bertemu lagi dengan Paman Geo, dia sungguh pria yang menarik." Arya yang terbangun dari tidurnya itu, hanya mengatakan beberapa patah kata dan kemudian tidur kembali.


__ADS_2