
Mikael yang tiba-tiba mencium bibir Aya. Membuatnya Aya kaget sekaligus bingung harus berbuat apa. Bibir lembut yang saling beradu. Mereka merasakan kemanisan yang tidak dapat di kata-katakan. Dalam menumpahkan hasrat hawa ***** manusia. Namun setelah beberapa menit kemudian Aya mendapatkan kembali kesadarannya dan mendorong Mikael untuk menjauh.
"Kau! Dasar Bangs*t! Beraninya kau!" Wajahnya memerah, detak jantungnya sudah tidak bisa di kontrol lagi. Sekali lagi Aya mendorong Mikael menjauh dan Aya pun berlari masuk kedalam kamarnya.
Sambil memegangi bibirnya, Aya mengingat ciuman yang tidak diinginkannya. Bahkan untuk melupakannya saja rasanya sulit. Pipi dan telinga Aya terasa panas terbakar, rasa malu yang tak kunjung berakhir di kepalanya.
Aya sungguh tidak bisa berpikir bagaimana Mikael bisa melakukannya begitu saja, apakah Mikael berbuat seperti itu pada setiap wanita, menurut pikiran yang ada di kepala Aya.
Aya tahu bahwa kebanyakan bangsawan dan orang kaya seperti ayahnya sendiri tidak mungkin memiliki wanita hanya satu saja. Pasti mereka memiliki istri simpanan yang jumlahnya tidak di ketahui oleh istri sah.
Aya yakin seratus persen jika Mikael sering melakukan ciuman dengan banyak wanita di luar sana. Ia juga bisa kapan saja tidur bersama para wanita simpanan itu. Pria kaya emang semuanya seperti itu. Aya membenamkan dirinya di bawah bantal dan selimut. Sungguh ciuman yang tidak terduga dan sulit dihilangkan dari kepala Aya.
Sedangkan saat itu juga Mikael tidak menyangka bahwa dirinya akan melakukan hal seperti itu. Bahkan ia merasa tidak pernah mencium wanita manapun. Dia tidak mengerti mengapa dia melakukan itu.
Pipinya semu merah karena sangat malu ketika ia mengingat apa yang ia perbuat barusan. Padahal ia merasa melihat sahabat baiknya bukan Aya. Mikael berpikir bahwa dia sudah gila. Menuduh dirinya sendiri gay karena saat ia mencium Aya yang dipikirannya hanya Kai.
Mikael lalu menampar-nampar wajahnya sendiri. Agar ia sadar. namun ia tidak mendapatkan apa yang ia harapkan, malah mendapatkan kesakitan di kedua pipinya.
Mikael sendiri merasa bingung, sekarang ia harus melakukan apa. Kakinya penuh dengan kegelisahan beberapa kali komat-kamit. Untuk memutuskan meminta maaf pada Aya, tetapi ia tidak pernah melakukannya.
__ADS_1
Akhirnya Mikael melihat ponselnya, yang mendapatkan pesan dari salah satu anggota mafianya yang sedang mengawasi anggota mafia yang lain ketika Mikael tidak adan..
Mikael memutuskan untuk mengambil kesempatan ini untuk pergi ke kantornya diam-diam. Sembari ia ingin menghirup udara karena ia merasa sangat panas berada di villa itu dan sulit untuknya melupakannya kejadian tadi. Ia berpikir dengan menyibukkan dirinya dengan hal lain akan mudah baginya untuk melupakannya.
Walupun para pelayan menghalangi jalan Mikael tetapi Mikael tetapi bersikukuh pergi ke kantornya. Lalu memesan taksi online tanpa sepengetahuan Aya. Karena mobilnya masih terparkir di kantor perusahaan saat terakhir kali ia gunakan.
Mikael pun menaiki mobil taksi yang ia pesan, tadi dengan terburu-buru. Ia benar-benar tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Ia merasa hanya dirinyalah yang bisa menjalankan semuanya dengan baik. Tanpa dirinya perusahaan dan para anggota mafianya mungkin akan mengalami kesulitan.
Mikael berhasil pergi menuju tempat tujuannya. Sedangkan Aya masih membenamkan dirinya di bawah selimut. Sampai pada saat itu ada salah satu seorang pelayan yang mengetuk pintu kamar Aya dengan terburu-buru.
Aya tidak segera membukakan pintu itu, pikirannya sedang kalang kabut. Namun pelayan itu berhasil berteriak hingga terdengar sampai ke telinga Aya.
Aya sangat tahu bahwa pelayanannya itu baru saja dari luar itu berlari dengan sekuat tenaga untuk sampai ke depan pintu kamarnya dengan melihat keringat dan napas yang tersengal-sengal.
"Non, nona.., tu, tuan di, dia, pe, pergi..." Mendengar kata pelayan itu Aya langsung memeriksanya ke dalam kamar Mikael. Ternyata benar apa yang di katakan pelayan itu. Mikael tidak ada di kamarnya.
"Bukannya kalian sudah ku suruh untuk mencegah di mesum itu agar tidak pergi?" Emosi Aya meluap, Anak dan Ayahnya sangat keras kepala. Mikael mirip sekali dengan Arka yang keras kepala dalam pikir Aya.
Aya langsung menelepon Ken, Namun Ken tidak kunjung menjawabnya. Setelah sekian kalinya Aya menelpon akhirnya Ken menjawab telpon dari Aya.
"Hei, culun. Apa si mesum sudah sampai di kantornya?" Aya menanyakan dengan emosi yang sangat jelas.
__ADS_1
Aya merasa dirinya benar-benar lengah sesaat, padahal sudah jelas Mikael melakukan itu agar ia bisa kabur ke kantornya.Perasaan Aya yang jengkel karena merasa dirinya tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
"..." Ken tidak menjawab pertanyaan Aya sedikitpun. Bahkan keheningan sesaat tercipta begitu saja, karena tidak ada respon dari Ken.
Aya curiga kalau Mikael benar-benar sudah sampai di kantornya. Aya pun mematikan ponselnya.
Aya menggigit bibirnya. Berusaha berpikir bagaimana cara ia agar bisa membawa Mikael kembali dan membuatnya istirahat selama beberapa hari lagi agar kondisinya benar-benar membaik.
Aya pun bersiap-siap mengganti pakaiannya, dan berdandan hendak menyusul Mikael pergi ke kantornya itu. Semuanya sudah siap, namun ketika Aya hendak memesan taksi online. Tiba-tiba seseorang membukakan pintu masuk villa dengan sangat kencang.
Mikael kembali? menurut pikir Aya. Kenapa dia kembali? Apa ada sesuatu yang tertinggal?. Aya terus bertanya-tanya dalam dirinya. Ia juga tidak mengerti mengapa Mikael bisa kembali lagi secepat ini. Pasti setelah ini ia akan pergi lagi. Dalam kepala Aya berkata.
Mereka berdua saling bertatapan, yang satu menatap tidak percaya dan yang satu menatap dengan keraguan. Aya menatap Mikael begitu lama karena ia mencoba mengamati Mikael yang tiba-tiba kembali setelah ia pergi beberapa saat yang lalu.
Sedangkan Mikael memalingkan wajahnya berusaha untuk menghindari Aya. Mikael melewati Aya begitu saja tanpa berkata apapun. Sifat dinginnya masih sama saat mereka pertama kali bertemu.
Sebenarnya Aya ingin sekali menyanyikannya mengapa Mikael kembali begitu saja. namun yang lebih penting sekarang adalah dia sudah kembali. Kalaupun ia hendak pergi lagi Aya harus mencegahnya sekuat tenaga.
"Hei, katanya kau mau menemaniku jalan-jalan di sekitar villa ini.." Mikael membukakan mulutnya, lalu berkata. Walaupun ia ragu untuk berbicara dengan Aya karena apa yang terjadi pada kejadian beberapa saat lalu.
Aya tertegun saat Mikael berkata seperti itu, Aya sendiri tidak bisa membaca jalan pikiran Mikael yang tiba-tiba pergi. Lalu kembali. Kemudian mengajaknya untuk menemaninya jalan-jalan di sekitar Villa.
__ADS_1