
***
Pagi hari sekali, Arya dan Arka dengan semangatnya, bangun lebih awal karena teringat bahwa akhir pekan adalah hal yang paling mereka sukai. Tentu saja bagi mereka berdua tetapi tidak untuk Aya dan Mikael.
Aya dan Mikael masih tertidur pulas, ditambah lagi dengan satu tamu tak diundang yang datang entah dari mana menurut Arya dan Arka.
Beruntung Aya pada saat malam hari itu tidak mabuk dan masih bisa melihat dimana letak kamar anak-anak. Karena Apartemen Mikael hanya memiliki dua kamar saja. Sedangkan semalam karena Rio mabuk ia tidak mau tidur di sofa luar sehingga dengan berat hati Mikael harus mengalah dan tidur di sofa.
"Arka! Kenapa rumah kita berantakan begini!" Arya kesal melihat keadaan rumah yang sangat kacau.
"Pasti ulah Paman yang ada di kamar ibu!" Arka dengan santainya mengambil sepotong roti di kulkas lalu menaruhnya di pemagangan roti.
"Siapa?" Arya bertanya pada Arka siapa Paman yang dimaksud olehnya.
Arya segera melihat siapa orang yang berada dikamar ibunya itu. Arya pun dengan perlahan-lahan mengetuk pintu kamar itu, namun tidak ada respon apapun. Sehingga ia memutuskan untuk langsung memasuki kamar itu dengan mengendap-endap.
Arya membuka pintu itu perlahan-lahan, setelah ia membukanya ia segera menutupnya kembali tanpa suara, namun setelah ia melihat siapa orang yang berada diatas ranjang itu ternyata..
"PAMAN RIO!!!?" Teriak Arya
"AHHHG!!" Teriak Arka
Suara teriakan Arya dan Arka secara bersama-sama itu membuat Aya dan Mikael terbangun dari tidurnya, namun tidak dengan Rio, ia masih tertidur pulas di ranjang yang empuk dan lembut itu.
Teriakan Arka yang membangunkan Mikael dan Aya itu ternyata teriakan untuk sebuah roti panggang yang gosong. Sedangkan Arya terkejut melihat Rio yang seorang detektif polisi yang sangat ia hormati itu, terbaring kacau karena alkohol.
Arya segera keluar setelah sama-sama mendengar Arka berteriak sama sepertinya. Disana sudah nampak Aya dan Mikael yang membantu Arka.
"Ibu jangan menghina roti hasil karyaku! walaupun sedikit hitam tapi teksturnya sangat renyah!" Arka beralasan setelah tanpa sengaja ia membangunkan Aya dari tidur lelapnya.
__ADS_1
"Hahaha itu adalah Roti arang namanya. Ibu! Apakah orang jelek yang ada di dalam kamar ibu adalah Paman Rio?" Arya menghampiri Aya yang sedang membantu Arka akan memasakkan sarapan yang baru untuk nya.
"Iya, bukankah kalian sudah bertemu dengan orang itu?" Aya menjawab Arya yang bertanya padanya.
"Ya, kalau dilihat emang seperti Paman Rio, lagian Keluarga Gumelar semuanya memiliki wajah yang agak mirip sedikit." Timpal Arya, yang masih tidak percaya dengan orang yang kacau itu ternyata Rio.
"Papa Bos sepertinya kau masih mengantuk sebaiknya kau tidur lagi dikamar kami. biarkan ibu yang menyiapkan sarapan untuk kami." Arka yang sudah mengetahui hal itu. hanya berbicara khawatir pada Mikael yang semalaman hanya tidur si sofa.
Arka dengan tenaganya yang kecil itu menarik Mikael masuk kedalam kamarnya untuk menyuruhnya melanjutkan tidurnya kembali.
Tring!!!..
Sebuah pesan masuk dari ponsel Mikael yang tertinggal di sofa, namun Mikael sedang bersama Arka di dalam kamar Arka.
Arya yang mendengarnya itu langsung melihat pesan masuk yang ada di bilah layar notifikasi yang menggantung di layar ponsel Mikael. Ia membacanya sekilas, ternyata pesan itu berasal dari Giovanni.
"Mikael apakah aku boleh mengajak Arya bersama kami hari ini, aku sudah berjanji padanya."
Arya yang membutuhkan password ponsel Mikael itupun langsung pergi menyusul Mikael dan Arka menuju kamarnya. Ia berlari dengan terburu-buru pergi ke kamarnya itu, namun saat ia membukakan pintu tanpa sengaja ia ia melihat pemandangan yang sangat langka.
"Arka! Apa yang kau lakukan diatas punggung pria ini!?" Arya bertanya pada Arka yang sedang menginjak-injak diatas punggung Mikael.
"Hehe, inilah cara kita mengalahkan papa bos kita! Kita bisa menginjak sesuka hati kita. Lihat papa bos aku berada diatas mu sekarang! Nyawa mu sekarang ada di tanganku, menyerah lah dan nikahi ibuku! Jadilah Suaminya! Dan Jadi Ayahku yang penurut!Hahahaha"
Sambil tersenyum licik Arka layaknya orang yang sedang mendapat keuntungan yang sangat banyak. Arka dengan senang hati membantu Mikael meregangkan otot-otot nya sambil menginjak-injak Mikael sesuka hati.
Arya yang ikut tergoda dengan apa yang dilakukan oleh Arka ingin sekali mencobanya, namun sebelum itu Arya terlebih dahulu meminjam jari telunjuk Mikael untuk membuka kunci ponsel milik Mikael.
Mikael yang sedang setengah tertidur itupun tanpa sadar memberikan jari telunjuknya, sedangkan Arya begitu ponsel itu terbuka ia langsung membalas pesan dari Giovanni.
__ADS_1
"Boleh, jemput-lah kesini."
Arya tersenyum senang, ia pun meletakan ponsel itu di meja sebelah ranjangnya dan pergi memanjat ranjangnya mengikuti Arka.
"Arka giliran ku!" Teriak Arya yang tergoda untuk menginjak-injak Mikael.
"Tidak boleh, Kita lakukan saja sama-sama!" Teriak Arka dengan semangat.
Mereka berdua pun dengan sangat senang menginjak-injak punggung Mikael, namun Mikael yang merasa berat dan berisik dengan teriakan candaan mereka berdua pun terbangun dari tidur tengkurap-nya.
"Apa kalian bersenang-senang hari ini?" Sahut Mikael yang melihat dua bocah yang imut itu sepertinya sangat kegirangan ketika mereka menginjak-injak punggung Mikael.
"Tentu saja!" Jawaban kilat dari Arka yang tertawa tipis.
"Baiklah terimakasih sudah meregangkan otot-otot ku, sekarang aku jauh lebih baik. Ayo kita pergi sarapan bersama!" Walaupun agak kaku namun Mikael berusaha untuk bersikap lembut di depan anak-anak.
"Lest Gow~!" Teriak Arka yang kegirangan karena sebenarnya perutnya sudah berteriak-teriak semenjak tadi. karena roti yang ia panggang gosong sehingga tidak bisa ia makan.
Namun setelah mereka pergi ke dapur mereka mendapati makanan yang gosong juga, karena nampaknya Aya juga masih mengantuk.
"Apaan ini ibu?" Sahut Arya yang terkejut melihat makanan gosong diatas meja makan, sedangkan Aya tertidur di atas meja makan itu.
"Arya! Antar ibumu ke kamar kalian! Biar papa yang masak!"
Mikael mengambil inisiatif untuk memasakkan sarapan untuk anak-anak nakal yang sedang kelaparan ini. Mikael mengambil bahan-bahan makanan dari kulkas miliknya yang ternyata masih terisi penuh.
Iapun mengambil beberapa bahan yang ia butuhkan dan mulai memasak makanan untuk sarapan pagi ini.
Baru saja beberapa menit setelah Mikael masak seseorang sedang menekan bel Apartemennya. Mikael yang masih sibuk memasak itupun menyuruh Arka untuk melihat siapa orang yang menekan bel pintu itu.
__ADS_1
Segera setelah Mikael selesai ia menyusul Arka melihat siapa orang yang berani menekan tombol bel Apartemennya.