
Bryan benar-benar terpojok sehingga ia pun tidak ada pilihan lain selain mengeluarkan pistolnya dalam saku. Bryan menodongkan pistol kehadapan semua petinggi keluarga Gumelar. "Jangan bergerak! Kalau bergerak kalian tidak akan selamat!"
Semua orang menunduk ketakutan ketika Bryan menodongkan pistol dihadapan semua para petinggi keluarga Gumelar. namun berbeda dengan Arka ia masih bisa berdiri tegak di hadapan Bryan.
Arka dengan tenang melepaskan jas dan kemeja kecilnya dan memperlihatkan luka jahitan setelah ia tertembak dengan peluru yang lebih bagus dari pada milik Bryan ini.
"Kau tahu kenapa luka tembak ini bisa ada pada tubuhku? Karena aku sengaja mengenainya demi melindungi papa bos. Sekarang aku sarankan kau untuk pergi kabur sebelum aku.." Arka mengeluarkan pistol listrik. "Menembak mu duluan." Bryan tertegun mendengar perkataan Arka yang terlihat tidak sedang bermain-main. Karena pistol listrik yang di pegang oleh Arka adalah pistol listrik tercanggih yang pernah ia lihat di pasar gelap.
"Aku beri kamu kesempatan untuk kabur kenapa diam saja?" Arka mulai perlahan lahan menarik pelatuknya bersiap menembak.
"Bryan jangan kabur kau! Dasar pengkhianat!" Suara Freya Gumelar yang sangat marah itu. membangunkan Bryan dari kebingungannya. Ia pun langsung berlari keluar melarikan diri.
"Bos kecil kenapa kau membiarkannya kabur?" setelah semuanya aman Freya memarahi Arka yang tidak menembaknya sebelum ia kabur.
"Apa kamu punya stok peluru pistol listrik ini?" Arka dengan dingin menjawab amarah Freya.
"Apa jadi kau tidak punya peluru didalamnya?" Freya mencengkram kedua bahu Arka dengan keras.
"Apa kau mau coba? ini benaran ada pelurunya, tetapi Aku stoknya habis di pakai kakak bodohku." Arka terlihat menganggap enteng masalah ini. Hal itu membuat Freya tidak percaya pada Arka.
"Arka sekarang aku mengerti." Suara Rio menimpali percakapan Arka dan Freya. "Pertama-tama kau lepaskan dulu tanganmu dari Arka dia pasti kesakitan karena luka tembaknya itu."
__ADS_1
"Arka cepat pakai jas dan kemeja mu!" Ken menyuruh Arka untuk memakai bajunya kembali agar lebih enak dilihat.
"Arka membiarkan Bryan kabur, tetapi merebut semua kekayaannya lalu memberikannya pada Guntur, bukan? aku tahu jika Raphael tahu Bryan tidak punya kekuatan lagi. Raphael sendiri yang akan membunuhnya." Rio melanjutkan analisis jalan pikiran Arka.
"Kau tidak salah tetapi ada satu hal yang salah. Pertama sebenarnya aku takut tertembak lagi, namun apa daya aku sekarang adalah penanggung jawab rapat keluarga kali ini. Yang Kedua, Raphael mungkin saja membunuh Bryan tetapi tidak untuk Zen. Si pria busuk itu akan memanfaatkan sampah sekecil apapun demi keuntungan pribadi."
"Jadi kau tadi sebenarnya benar-benar, takut?" Freya pun menurunkan nada bicaranya.
"Iya, Tante cantik mau gendong aku ga?" Arka bersikap pura-pura menggemaskan di depan Freya demi mendapatkan keuntungannya sendiri.
"Lalu kau mengapa membiarkannya pergi?" Surya masih tidak mengerti kenapa Arka melakukannya.
"Karena jika kita ingin memancing, kita perlu umpan bukan?" Dengan santai Arka berkata seolah-olah permainannya sudah diatur oleh skenarionya.
Pertemuan selesai dengan keadaan yang tak terduga. Petra baru saja sampai untuk menangani Guntur, untung sebelumnya Arka melakukan pertolongan pertama pada racun yang terminum oleh Guntur. Karena Arka sendiri tidak memiliki penawar racunnya.
Arka, Ken, Guntur, dan Petra pergi ke rumah sakit untuk penangan lebih lanjut setelah Petra mengobati sebagian penyebaran racun didalam tubuh Guntur. Racunnya memang tidak terlalu mematikan, tetapi dapat merusak banyak organ jika tidak ditangani.
Mereka berempat pergi menggunakan mobil Petra agar tidak membuat musuh mengejar mereka. Ken berkendara sangat cepat sekali seperti pembalap nasional. Caranya menyalip banyak kendaraan membuat suasananya menjadi tegang.
"Arka kenapa kau memnyuruhnya meminum racun itu?" Petra menanyakan alasan Arka membuat Guntur sengaja meminum racun itu.
__ADS_1
"Habisnya orang ini membuatku kesal." Dengan santai Arka menjawab, tanpa memedulikan Akibat yang dia perbuat.
"Kau ini terlalu gegabah, kalau dia lumpuh kekuatan keluarga Gumelar akan berkurang." Petra berusaha menasehati Arka tetapi Arka nampaknya masih tidak peduli dengan apa yang ia perbuat.
"Racun itu ibuku punya obat dan penawarnya. Tenang saja kau juga tahu ibuku itu ilmuwan segala bidang." Arka nampak meremehkan situasi yang terjadi pada Guntur Gumelar.
"Jangan salahkan siapapun kalau nanti Mikael akan menghukum mu." Petra memperingatkan Arka agar tidak berbuat seenaknya. dan mengancam dengan nama Mikael. Petra tidak tahu sebenarnya Arka sudah pernah mengancam Mikael sampai tak berkutik.
"Papa bos itu sangat menyayangi ku." Arka dengan sombong menggunakan Mikael yang sudah menjadi dekat dengannya. "Karena dia.." Kata-kata Arka terpotong dengan mobil Ken yang tiba-tiba berhenti.
Ckiiiit..., suara rem yang berdecit sampai tapak ban yang membekas di jalan aspal yang nampak jelas.
"Aaww.." Semua orang tersinggung kedepan, beruntung tidak terjadi tabrakan atau kecelakaan yang sangat berat. Kepala Arka sedikit terbentuk sehingga ia merasa sedikit kesakitan di bagian kepalanya.
"Ada apa paman Ken kenapa kau tiba-tiba berhenti?" Arka bertanya keheranan dengan Ken yang tiba-tiba berhenti mendadak. Sedangkan di dalam mobil ada seseorang yang membutuhkan penanganan.
Ken hanya terdiam membatu melihat seseorang yang berada di hadapannya. Orang tinggi sekitar 180 cm dengan kulit putih dan rambut coklat agak krem itu nampak tidak asing di mata Ken. Begitupun dengan Petra. Ken dan Petra terbelalak kaget melihat orang dihadapannya. Orang yang menggunakan kacamata bundar dan jas berwarna merah itu seperti tidak melakukan kesalahan apapun, padahal ia dengan sembarangan menyebrang di tempat yang ramai kendaraan.
"Paman!" Arka berteriak memanggil Ken. "Paman!" Sekali lagi Arka berteriak tetapi Ken masih tidak mendengar Apapun. Hingga ketiga kalinya Arka memanggil namanya "Paman Ken!" Ken langsung tersadar dari apa yang dilihatnya.
"Ada apa paman? Kau mengenali orang itu?" Arka bertanya pada Ken tetapi ia masih gelagapan tidak menjawab pertanyaan Arka. karena masih tidak percaya apa yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Pria itu pun membungkuk meminta maaf dan pergi menyebrang. Ken ingin sekali mengikuti orang itu tetapi di bangku belakang Guntur terdengar sedang meringis kesakitan karena efek dari racun yang ia telan di pertemuan para petinggi mafia keluarga Gumelar.
Akhirnya Ken memilih untuk melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit dan menyuruh anak buahnya untuk mengikuti pria itu, untuk memastikan sesuatu yang ada pada dalam pria itu. Ken berkendara mulai melambat karena pikirannya kali ini sedang tidak fokus memikirkan pria yang baru saja ia temui.