
Arka Berteriak pada Mikael dengan keras.
Arka : "Papa bosss! Kau mandi berdua dengan ibu tidak mengajak aku?"
Mikael memalingkan pandangannya, berusaha tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Arka. Sementara pada saat itu juga Arya pergi berlari ke arah Mikael sambil mengepalkan tinju kecilnya.
Arya : "Kau jahat! pasti kau berbuat mesum pada ibu(!?)"
Mikael mengalihkan topik pembicaraan, dan menggendong Arka untuk mengajaknya mandi bersama. "Arka ingin pergi mandi bersama kan? Ayo kita mandi.."
Walaupun kesal Arya mengikuti Mikael dari belakang. Mereka bertiga pergi meninggalkan Ken sendirian di ruang tengah.
***
Arka : "Papa boss!"
Mikael : "...?"
Arka : "Bagaimana dengan tubuh ibu? Pasti sangat cantik? Kau kan sudah melihat tubuhnya kapan kau menikahi ibuku?"
Wajah Mikael tiba-tiba berubah menjadi merah merona, sedangkan pipinya cukup panas mendengar hal yang memalukan dari mulut anaknya sendiri.
Arya : "Sampai kapanpun aku tidak akan setuju jika ibu harus menikah dengan pria kejam sepertinya. Salah-salah ibu kita yang ceroboh itu bisa kena tembak pelurunya."
Arka : "Kau selalu saja berkata hal yang berbeda dengan isi hatimu Arya, aku sudah bosan mendengarnya.
Papa Bos maksud yang di bicarakan Arya adalah Papa Bos kapan kami punya adik kecil."
__ADS_1
Arya : "Hei, aku tidak berkata seperti itu."
Arka : "Tuhkan, orang ini aslinya pemalu. Dia menggunakan gayaku untuk menutupi rasa malunya."
Arya : "Hei kau!".
Arka : "Apa? Kau berani padaku? Ayo sini aku layani, tinjuku tidak mungkin meleset."
Arya dan Arka menjadi bertengkar dalam Air. Mikael benar-benar jengkel melihat keduanya bertengkar, namun jika ia meluapkan emosinya lagi. Anak-anak akan menangis dan pergi mengadu pada Aya. Sehingga ia hanya bisa bersabar menghadapi keduanya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Aya di luar pintu kamar mandi.
Aya : "Arka! Arya! Kalian tidak boleh bermain air terlalu lama."
Arka : "Xixixi, Ibu udah marah tuh."
***
"Arya apa kita bisa bolos saja hari ini?" Arka merengek tidak ingin berada di sekolah yang membuatnya cukup bosan.
"Arka kita ini masih anak-anak, bersikaplah seperti anak-anak." Arya yang agak lebih dewasa dari Arka itu mencoba untuk menasehati Arka, walau yang sebenarnya dia juga sama bosannya seperti Arka.
"Sebentar lagi waktu pulang, aku ingin cepat-cepat pergi bekerja dengan papa bos." Arka menempelkan wajahnya di atas meja sambil melihat jam.
"Kau ini, kita sudah cukup bekerja terlalu keras. Kita harusnya beristirahat." Arya tidak setuju dengan Arka, menurutnya setelah apa yang mereka kerjakan seharusnya Mikael memberikan imbalan atau hadiah pada mereka. "Bahkan pria itu tidak memberikan kita hadiah apapun setelah apa yang kita lakukan untuknya."
"Kau benar setelah pulang sekolah ini aku ingin meminta papa bos belikan aku Es krim coklat manis 3 tingkat dengan toping super." Arka setuju dengan Arya untuk meminta hadiah atas kerja keras mereka.
"Kau ini baik sekali Kau harus meminta hal yang fantastis." Arya tersenyum memancing Arka untuk memunculkan ide gilanya.
__ADS_1
"Aku akan meminta Papa Bos membelikan ku pakaian dalam baru untuk aku dan ibu kalau begitu." Arka tidak sejalan dengan pikiran Arya pada saat ini sehingga membuat Arya kesal.
"Kau ini tidak mengerti, kau harusnya meminta Mainan VR yang terbaru dong!" Arya mengguncang-guncangkan Arka yang terlanjur sedang mengantuk.
"Kau minta saja sendiri." Arka hanya berkata singkat karena sekarang rasa kantuknya semakin berat. Arka pun terlelap tidur di tengah-tengah pembelajaran.
Tiba-tiba Arka terbangun dengan kaget. Sesuatu telah menggugah nya dari tidur lelapnya, namun apa? Dia memicingkan mata pada jam yang menggantung di tengah kelas. Ternyata waktu sudah menunjukan waktu pulang. Arya sepertinya tidak membangunkannya karena ia tidur terlalu lelap.
Arka bersiap membereskan tasnya untuk pulang, suasana kelas mulai sepi karena sudah banyak siswa lain yang sudah pulang dan beberapa orang yang masih berada didalam kelas.
Anak-anak itu memandangi Arka yang baru saja terbangun dari tidurnya. Arka menghiraukan anak-anak yang masih berada didalam itu. Arka masih belum menyadari bahwa Arya baru saja mengerjainya. Sekarang wajah Arka penuh dengan coretan tangan dari Arya.
Saat itu ada seseorang gadis kecil yang seumuran dengannya tiba-tiba memberikannya sebuah sapu tangan yang cantik. Arka tentu kebingungan dengan apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh gadis itu. namun saat itu gadis itu memberi isyarat untuk menggunakan sapu tangannya pada wajah Arka.
Arka masih belum mengerti dengan apa yang gadis itu maksud, ia hanya bisa menatap sapu tangan itu. Namun dengan inisiatif gadis itu memberikan sebuah cermin kecil miliknya. Tampak jelaslah wajah Arka yang penuh dengan coretan-coretan spidol milik Arya.
Arka sangat marah dan murka pada Arya. Sambil membersihkan wajahnya dengan sapu tangan milik gadis itu Arka, benar-benar mendendam dan ingin segera membuat Arya menderita dengan pembalasannya.
"Hei, kamu aku akan membawa sapu tangan mu dulu, nanti biar ku cuci." Arka segera pergi meninggalkan gadis itu. Arka mencari arya di setiap koridor kelas, namun tidak mendapati Arya dimana pun. "Howh..hosh..yaampun kenapa taman kanak-kanak ini di desain seluas ini. Arya dimana kau?" Arka akhirnya menyerah dan memilih untuk pulang lalu mengadukannya pada Aya.
Saat perjalanan pulang pun Arka tidak mendapati Arya dimana-mana, bahkan saat di gerbang sekolah ia tidak melihat Arya dimana-mana. Arka menundukkan pandangannya. Merasa ada sesuatu yang aneh. Ia pun melihat kearah belakang dengan cepat. Ia mendapati seseorang dengan badan besar seperti akan menangkapnya.
Arka berlari, terlihat tidak sempat namun ia berhasil menghindari pria besar itu. Arka berlari tidak tentu arah. namun kakinya terlalu kecil dan dia tidak selincah Arya. namun ia menemukan sebuah celah bangunan yang sangat sempit yang mungkin cukup hanya anak kecil seukuran nya.
Suara nafas dan denyut nadinya terdengar sangat jelas. Bahkan rasa takut yang selama ini tidak pernah muncul, sekarang Arka mengetahui apa rasa takut itu. Sebelumnya ia pernah merasakan bagaimana sakitnya ketika ia terkena tembakan pistol benaran. Mungkin sejak saat itu ia juga merasakan gemetaran ketika nama Zen terdengar di telinganya, bukan hanya terkena tembakan sebelumnya ia menjalani hidup dengan penuh siksaan dari orang yang ia panggil ayah itu.
"Saat Paman Bryan mengacungkan pistolnya aku tidak takut walaupun aku sedikit gemetaran, namun kali ini aku tampak sangat ketakutan. Kalau Arya melihat aku yang seperti ini dia pasti menertawakan ku, tapi Apakah Arya juga ditangkap oleh pria itu?"
__ADS_1