Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
(Season2) Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari pernikahan.


Aya terlihat cantik dengan gaun putih bersihnya. Sungguh hari yang mendebarkan bagi Aya. Begitupula dengan Mikael yang merasakan hal yang sama dengan Aya.


Di depan meja riasnya Aya bisa melihat cerminan dirinya yang begitu cantik pada hari itu. Namun ia teringat dengan pernikahannya dengan Zen. Pernikahan yang tidak direstui Ayah dan kakak ke duanya itu. Membuatnya menyesali apa yang sudah terjadi itu.


Karena pernikahan ini tanpa cinta Aya berharap, setelah menggapai tujuan Aya dan Mikael masing-masing mereka bisa berpisah secara baik-baik.


Disisi lain di waktu yang sama.


"Bangs*t Mikael, dia mau menikahi istriku. Apa dia bosan hidup?"


"Sabar bod*h, aku sudah ada disini tapi Mikael sepertinya tidak takut denganku."


Dua pria kaya itu menaiki mobil dengan cepat menuju, Gedung pernikahan Aya dan Mikael. Nampaknya salah satu pria itu sangat tidak menyukai hari bahagia Aya dan Mikael.


"Raphael! Sampai kapan kita harus menunggu? Bagaimana jika pernikahan mereka berlangsung secara baik?"


Bugh..


Raphael meninju keras perut Zen yang sedang menyetir mobil itu.


"Hentikan mobilnya sekarang, Zen!" Raphael menyuruh Zen untuk menghentikan mobilnya.


"Tidak, kita bisa terlambat jika kau menghentikan mobilnya sekarang-"


DUAR..


Suara ledakan yang hampir mengenai mobil mereka membuat mobil mereka oleng dan sulit di kendalikan. Namun Zen berhasil mengerem mobilnya hingga mereka selamat.

__ADS_1


"Siapa itu Bangs*t!" Zen berteriak. Saat ini moodnya sedang buruk saat mendengar pernikahan Aya dan Mikael yang akan berlangsung pada hari ini.


"Tenangkan dirimu Bajing"n, atau ku bunuh kau!" Raphael sangat marah melihat Zen yang tidak begitu tenang menghadapi situasi hari ini.


Mereka berdua pun turun dari mobil, terlihat mobil hitam dengan sedikit warna kuning itu ikut berhenti setelah melihat mobil yang dikendarai oleh Zen berhenti.


Begitu Zen dan Raphael turun, orang yang di dalam mobil Hitam dengan sedikit warna kuning itu pun juga ikut turun. Dengan Stylenya yang sangat keren membuat Zen sedikit terperangah.


"Hey, Dua bajing*n minggir dari jalanku! Aku bisa terlambat ke pernikahan adikku." Walaupun ia adalah orang yang sangat keren namun kata-katanya mengundang emosi Zen.


"Hei, Bangs*t siapa kau!" Zen sungguh emosi dengan pria yang menggunakan Kemeja dan Jas berwarna hitam dengan rambut yang sudah ditata rapih menggunakan Gel rambut, di tambah kaca mata hitam yang sangat cocok untuknya.


"Hei, bod"h perhatikan bicara mu. Biar aku yang melakukannya." Raphael tidak bisa mengandalkan Zen yang sedang emosi-emosinya karena pernikahan Aya dan Mikael.


"Adikmu? Kau itu Angga Dirgantara atau Kai Gumelar?" Pertanyaan yang langsung mengerucut dari Raphael membuat Zen terbelalak kaget dengan apa yang ditanyakan oleh Raphael.


Pria itupun melepas kacamatanya, dan kini sudah nampak jelas wajah tampan dari pria itu. Matanya yang berkilau dengan dipadukan dengan warna rambutnya, sudah jelas bahwa dirinya adalah seorang Gumelar.


"hehehe, sudah lama ya, Zen. Kau sampai melupakan aku. Ini aku orang yang ingin kau bunuh." Pria itu tertawa licik ketika ia selesai menebar pesonanya ketika ia melepaskan kacamatanya.


"K,kau! Kai!? Bu,Bukankah kau sudah-" Zen gelagapan ia sangat terkejut dengan apa yang dilihat dihadapannya itu. Ia tidak percaya orang yang selama ini ia kira sudah dibereskan itu ternyata masih hidup dan kini tengah berdiri dihadapannya.


"Ternyata sesuai dugaan ku, Kau masih hidup ya. Pantas saja. Pengumuman sayembara tentang aplikasi yang di sebutkan di web pasar gelap itu sudah menghilang dengan cepat. Bahkan tidak ada orang yang berhasil menemukan keberadaannya.


Aku menduga itu ulah Angga atau kau masih hidup ternyata benar ulah mu ya. Ini adalah sebuah kejutan terindah melihat seseorang terpintar, di negara ini masih hidup dalam bayang-bayang orang-orang."


"Aku tersentuh kau begitu bahagianya bisa bertemu denganku. tetapi aku kemari bukan untuk diri mu. Apalagi orang yang ada disebelah mu. Aku disini demi adikku yang bisa hidup bahagia dengan pria yang lebih baik dari orang yang sebelumnya."


Seperti biasa Kai selalu menampakan senyum palsunya di hadapan orang-orang, untuk menutupi ekspresi wajah dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kau sangat menarik, aku harap aku bisa mengahacurkan mu dengan satu jentikan tangan suatu hari nanti."


Raphael menyuruh Zen untuk masuk kedalam mobilnya karena walaupun mereka berdua dan Kai sendiri. namun hati ini sepertinya Kai sudah menyiapkan berbagai siasat. karena ia tahu bahwa Zen akan menghancurkan pesta pernikahan Aya dan Mikael.


Ketika Raphael hendak menaiki mobil miliknya satu mobil lagi datang dan terparkir di sebelah mobil milik Kai. Mobil yang sangat tidak asing. Karena merupakan salah satu mobil yang sangat ia benci.


"Raphael mau kemana kau, aku baru saja sampai."


Raphael pun tidak jadi masuk kedalam mobilnya, karena melihat mobil itu dan suara yang sangat familiar di telinganya.


"Rudolf! Jangan ikut campur urusanku. Bukankah kau sudah bertekad tidak akan pernah menyentuh dunia mafia?" Raphael dengan wajah datarnya, langsung mengetahui bahwa pria yang baru saja datang itu adalah Rudolf.


"hehehe, kau masih saja merasa terancam ketika berada di dekatku ya Raphael, padahal aku ini tidak berbakat seperti Mikael atau Kai. Benarkan, Kai?"


"Pftt..Kau berbicara dengan bahasa informal, ini tidak seperti kau yang biasanya." Kai tertawa geli mendengar Rudolf mengatakan hal itu.


"Terserah padamu, tapi dari dulu sampai sekarang aku tidak merasa terancam oleh siapapun termasuk kau."


Raphael kembali masuk kedalam mobilnya. Lalu menyuruh Zen untuk mengendarai mobilnya lebih cepat. Agar apa yang ingin Zen lakukan tidak terlambat.


Namun tentu saja Kai dan Rudolf tidak membiarkan hal itu terjadi mereka berdua menyusul Raphael dan Zen menggunakan mobil milik mereka masing-masing.


Kemampuan berkendara Kai tidak sebaik Mikael atau Rudolf, tetapi ia mempertimbangkan jalan pintas yang ia pilih untuk menghadang Zen.


Sedangkan Rudolf yang berkendara sangat cepat itu bisa menyusul Zen yang berkendara sangat cepat sesuai permintaan Raphael.


"Hehe, kau tidak bisa menandingi kemampuan berkendara keluarga Gumelar. Walaupun kami tidak lihai bela diri dari keluarga Dirgantara dan tidak lebih licik dari keluarga Ardinata. tapi kami punya skill berkendara yang baik."


Rudolf menyeringai melihat zen yang panik karena Rudolf berhasil menyamai kecepatannya. Akhirnya Zen pun memilih untuk berbelok di sebuah pertigaan di depan. Hal itu membuat Rudolf yang mengambil jalan lurus tidak bisa menyusulnya.

__ADS_1


__ADS_2