
Hosh..hosh..
Arya berlari begitu lincah, walau begitu kakinya yang masih kecil tidak bisa melampaui orang dewasa. Beberapa menit sebelumnya...
Arya mendapati Arka yang berbicara dengannya sambil tertidur, otak jahil seorang anak kecil muncul dalam pikirannya. Arya mengambil sebuah spidol lalu mencoret-coret wajah Arka. Arya tidak berhenti-hentinya tertawa.
Ia memutuskan untuk pergi ke toilet sebelum beberapa waktu bel pulang berbunyi. Salah seorang guru di lorong sedang membicarakan sesuatu yang membuat Arya sangat penasaran. Arya memutuskan untuk menguping pembicaraan gurunya itu. "Di depan ada seorang pria besar seperti sedang menunggu salah seorang murid kita. Aku takutnya orang itu adalah ternyata seorang penculik anak" Guru wanita yang katanya melihat seorang pria besar di depan gerbang sekolah Arya.
"lalu apa kau berbuat sesuatu?" Seorang guru pria berkacama itu bertanya pada guru wanita yang rambutnya diikat satu seperti kuncir kuda.
"Tadinya aku takut sekali untuk mendekatinya, tapi demi keselamatan aku beranikan diri bertanya. 'Bapak-bapak sekalian sedang menjemput anak anda?' mereka menjawab 'Benar bu guru, sebenarnya anak ini adalah anak bos kami.' Orang-orang itu berkata sangat sopan sekali aku jadi takut berprasangka buruk." Guru itu menjelaskan detail tentang para pria besar yang ada di depan sekolahnya.
"Tidak apa-apa berprasangka buruk Bu guru demi keselamatan anak-anak" Pak guru berkacamata itu mencoba membela guru wanita itu secara tidak langsung.
Arya curiga bahwa orang-orang yang Bu guru maksud itu adalah orang-orang Mafia dari Ayahnya Zen. Arya takut jika ia memberitahukan kepada ibunya sekarang ia pasti khawatir, namun jika ia memberitahukannya pada Mikael. Mikael pun selalu bertindak sesukanya, bisa-bisanya ia membunuh orang-orang itu didepan sekolahnya, teman-temannya yang lain pasti akan berwaspada dan ia akan terasingkan. Arya tidak mau hal itu terjadi.
__ADS_1
Arya memilih untuk pergi memastikan apa benar orang-orang itu adalah para mafia dari Ayahnya Zen. walaupun Arya sebenarnya tidak tahu bagaimana mafia itu sebenarnya. karena yang sering terjun kearah mafia adalah Arka, namun bermodalkan pengalaman orang-orang yang pernah ia hadapi ketika di rumah keluarga Gumelar.
mungkin orang-orang itu tidak akan jauh berbeda. menurut pikir arya, namun setelah dipikirkan lagi. Anggota Mafia Zen semuanya adalah orang yang sangat terburu-buru dan tidak sabaran. Arya benar benar ingin memastikannya.
Arya kembali ke kelasnya, melihat Arka yang masih tertidur lelap disampingnya. Arya diam-diam membereskan tasnya. karena pelajaran telah usai semenjak tadi, namun bel pulang masih belum kunjung berbunyi.
Namun tidak lama kemudian bel pulang benar-benar berbunyi, Arya diam-diam pergi keluar sambil sedikit tertawa melihat Arka yang masih penuh dengan coretan-coretan yang di buat oleh Arya sendiri.
Arya langsung bergegas menelusuri lorong sekolah menuju gerbang sekolah yang sudah terbuka lebar. Disa sudah banyak sekali para orang tua yang menjemput anak-anaknya pulang sekolah. Arya pernah merasa itu ketika seorang anak yang dijemput oleh kedua orang tuanya atau Ayah mereka. Dalam lubuk hati Arya ia menginginkan sosok ayah yang benar-benar menyayangi dia dan Arka serta juga ibunya.
Sesampainya di gerbang depan sekolah Arya tidak menemukan sosok pria yang seperti disebutkan oleh guru wanita itu. Arya mencari-cari pria itu namun banyak orang yang berlalu lalang. Arya tidak menemukan siapapun. selain para orang tua murid dan anaknya.
Ketika Arya lengah, tiba-tiba ada sebuah tangan besar yang menariknya dari banyak kerumuman. Arya merasa sedikit kesakitan ketika ia ditarik oleh seorang pria yang memiliki tenaga yang sangat besar itu.
"Awwh, siapa yang berani-beraninya menarik lenganku!?" Arya berteriak kesakitan saat ia di tarik oleh pria itu.
__ADS_1
Sebelumnya Arya tidak melihat wajah pria itu namun setelah melihatnya Arya sangat terkejut. "Paman Tora!?" Arya berteriak pada pria yang menariknya itu yang ternyata adalah Tora.
"Arya lama kita tidak berjumpa, sepertinya aku harus kembali ke toko peliharaan. Kau pulang dengan para Paman ini ya!" Tora berkata seperti biasanya pada Arya. Entah mengapa Arya sedikit ragu untuk melakukan apa yang di perintahkan oleh Tora. setahu Arya Tora selalu salah mengira dan sering tertukar antara Arya dan Arka. namun kali ini ia mengetahuinya dengan benar.
"Paman Tora sangat tepat sekali ya, bagaimana Paman tahu kalau aku ini adalah Arya bukan Arka?" Arya menanyakan hal yang menurutnya merasa ganjil tersebut pada Tora yang menggunakan pakaian serba hitam yang tengah berjongkok dihadapannya.
"Walaupun Arka itu selalu sombong dan meremehkan orang lain, jika dalam hal yang berhubungan dengan fisik ia pasti menghindarinya bukan, tidak seperti mu yang menantang Paman seperti tadi." Tora berkata dengan lembut. Membuat Arya mempercayai kata-katanya. namun kekuatan feeling yang kuat mengatakan bahwa Arya kini harus lari menjauh dari Paman Tora.
"Maaf Paman sepertinya aku harus mencari Arka dulu takutnya dia sudah meninggalkanku.". Arya beralasan dengan menggunakan Arka sebagai tamengnya. namun hal itu kurang cukup efektif. Arya ingin berteriak agar orang di sekitarnya mendengar dan membantunya. namun Arya cukup takut jika harus banyak korban yang berjatuhan lagi.
Dengan kemampuan seorang ahli siasat Arya memutar otaknya dengan cepat. Ia berpura-pura membenarkan tali sepatunya hingga membuat Tora sedikit lengah, sebelum akhirnya ia berlari dengan sangat cepat dan lincah. Arya berlari tanpa mengedipkan matanya. Rasa ingin menyelamatkan dirinya sendiri begitu besar sehingga. Arya tidak tahu batas berlari dan kemana arah ia berlari.
Sesekali Arya melewati jalan tersulit, agar orang-orang yang mengejarnya juga ikut kesulitan. Arya berlari melewati gang sempit dan gelap. ketika itu tanpa disengaja Arya menemukan sebuah rumah yang terbalik. sehingga rumah itu menghadap kearah yang tidak seharusnya, dari rumah itu muncul sosok pria besar menggunakan jas merah dengan sebuah pistol yang terlihat mengkilap.
Arya sangat terkejut, dan dirinya sepertinya tidak bisa lari lagi kemanapun. Arya berhenti dan menutup matanya. Sejatinya gelap di matanya suara tembakan bertubi-tubi terdengar jelas di telinganya. lesatan lesatan angin dari peluru terasa jelas di wajah dan pipinya. Tidak lama suara tembakan itu berhenti.
__ADS_1
Arya kembali membuka matanya, melihat pria itu tiba-tiba ada didepan hadapannya. Arya sontak dengan reflek meloncat kaget dan terjatuh. bulu halus kuduknya menegang, ini kali pertamanya ia merasa sangat tegang seperti ini.