
Arya tertawa geli mendengar nama kontak yang dinamai Geo pada nomor milik Rio. "Mengapa dinamai anak tiri paman?" Arya yang sebelumnya murung karena sudah menunggu terlalu lama menjadi cerah kembali, membuat penjaga toko dan Kasir Eskrim itu menjadi lega.
"Itu karena..," pria itu berhenti sejenak untuk membuat Arya menunggu, namun kenyataannya ia juga tidak tahu alasan mengapa ia menamainya seperti itu. "Itu karena dia seorang anggota polisi. Kau tahu keluarga kita membenci polisi gadungan sepertinya." Pria itu mengatakan alasan lain yang menurutnya masuk akal, namun kenyataannya ia menamainya seperti itu karena sebuah alasan lain.
"Paman kau benar juga, aku tidak menyangka Paman memiliki selera humor juga." Arya pun mengetikan nama yang di sebutkan oleh Pria itu dan nada tersambung pun terdengar di telinga Arya.
"Hallo kak Geo ada apa?" Suara Rio terdengar jelas dan jernih. Arya yakin bahwa ponsel pamannya ini adalah ponsel yang paling mahal.
"Paman Rio!" Suara Arya yang seperti anak kecil itu menutupi segala pencitraannya untuk mencegah lawannya berwaspada padanya.
"Hallo siapa ini?" Rio tidak terlalu mengenali suara Arya karena pada saat itu Rio dan Arya hanya bertemu sekali saat investasi kematian salah satu petinggi gumelar.
"Ini aku Arya paman." Arya mengatakan identitasnya langsung pada Rio.
"Arya! Kau baik-baik saja? Apakah kau sedang bersama kak Geo?" Suara panik Rio terdengar jelas di telinga Arya.
"Ya, sepertinya begitu."
"Apakah Geo mencubitmu! menggigitmu? atau menghisap darahmu?" Rio mengerti alasan Arya menelponnya adalah memastikan bahwa Geo tidak memiliki tujuan buruk kepadanya. Sehingga Rio sedikit membuat lelucon konyol untuk membuat Arya tidak lagi berwaspada dan bisa menerima Geo.
"Ahahaha, tidak paman. Paman Geo sangat tampan hehe." Arya sesekali melihat wajah Geo yang sedang memperhatikannya.
__ADS_1
"Jika kau dan Arka baik-baik saja, Paman akan memberhentikan pencariannya. Tidak apapa jangan takut pada Paman Geo, karena jika dia melakukan sesuatu aku sendiri yang akan menghukumnya." Rio dengan Ramah mengatakan kata-kata itu pada Arya. Tidak seperti biasanya setiap kali anak buah dan rekannya berinteraksi dengannya aura menekan dan sifat dinginnya kurang lebih mirip dengan sifat dingin Mikael.
"Apa kau sudah selesai berbicara dengan pria itu?" Pria mengulurkan tangannya untuk menagih ponselnya kembali.
"Paman Rio kalau begitu aku tutup Telponnya ya, Paman! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu nanti"
"Baiklah!"
Tut..
Suara nada telpon terputus. Arya pun mengembalikan ponselnya pada Geo.
"Paman aku bukan anak kecil, aku tidak mau di gendong." Arya menolak uluran tangan Geo dan menarik salah satu tangan Geo menuju pintu keluar toko Es Krim itu. Setelah di depan pintu keluar Arya menunduk hormat pada Kasir dan Penjaga Toko Eskrim itu menandakan rasa terima kasihnya. "Paman Terimakasih bantuannya." Arya pun pergi dengan senyumnya yang manis itu.
Senyum Arya dan tingkah Arya menolak untuk di gendong itu mirip sekali dengan Giovanni dan Rio ketika kecil, menurut pikir Geo. Ia tidak menyangka Rio sudah tumbuh sebagai Petinggi Gumelar dan Giovanni menjadi tangan kanan Mikael. Waktu cepat sekali berlalu sampai ia rasa, ia sudah banyak sekali melewatkan sesuatu.
Arya dan Geo pun masuk kedalam mobil Sport milik Geo dengan warna biru mengkilap senada dengan jas yang ia kenakan. Geo memasang kembali kacamata hitam miliknya.
"Hei nak, kau nampaknya tidak seperti kembaran mu." Geo mengawali pembicaraannya dengan Arya sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"Benarkah? baru kali ini aku mendengar kami ini berbeda." Arya memasang wajah tidak percaya, karena Arya tidak tahu bahwa Geo sebelumnya pernah mendengar tentang Arka di rapat petinggi keluarga Gumelar.
__ADS_1
"Ya, kau nampaknya lebih ceria daripada kembaran mu itu. Dia memiliki Aura yang kuat dan dominan seperti kepala keluarga sebelumnya." Geo melajukan mobilnya dengan kecepatan standar, agar bisa berbincang-bincang pada Arya.
"Kau sepertinya melihat ia ketika saat rapat petinggi saja ya? Kalau kau lihat kelakuannya dirumah dia adalah anak kecil yang menyebalkan. Setiap hari kerjaannya menghabiskan makanan yang ada didalam kulkas, memainkan video game milikku dengan seenaknya. Bahkan jika membeli es krim di toko itu ia selalu pesan es krim rasa greentea dengan toping lemon yang asam di tambah dengan parutan keju dan juga kismis dalam porsi besar. Menurut ku itu rasa yang paling mengerikan yang pernah ada." Arya menceritakan panjang lebar tentang Arka untuk mencairkan suasana.
"Sepertinya kalian para anak-anak sama sekali tidak memiliki banyak beban pikiran."
"Kau salah paman, tugas kami sangat banyak dan yang paling utama adalah menjaga Ibu." Arya mengatakan hal itu dengan senyumnya yang sangat ceria.
"Kelak jika suatu saat kau tumbuh dan menjadi kepala keluarga Gumelar apa yang akan kau capai?" Geo mengatakan point pembicaraannya dengan cepat dan terburu-buru, karena mereka sudah akan segera sampai.
"Tentu saja menjadi kepala keluarga itu sangat keren, tapi lebih keren lagi jika aku bisa melindungi semua keluargaku." Arya dengan sigap menjawab pertanyaan itu, karena Arya sudah mengetahui maksud dari perkataan Geo.
"Kurasa Giovanni tidak berbicara bohong padaku, kalian adalah anak yang sangat menarik dan juga cerdik. Kau kira kau bisa mengelabui ku ya dengan tingkah kekanak-kanakan mu itu?" Setelah Geo mengatakan hal itu suasananya berubah drastis. Arya kembali mewaspadai Geo yang berada di sampingnya itu.
Apakah aktingku akhir-akhir ini memburuk? Bagaimana orang-orang tahu niatan ku yang sebenarnya, apa isi otakku mulai transparan seperti otak milik ibu. Arya berkata dalam hatinya. Karena tidak Pria jas merah atau Jas biru mereka keduanya langsung bisa membaca isi pikiran Arya.
"Paman Giovanni? Sepertinya aku belum pernah bertemu dengannya. Apakah Paman yakin yang di bicarakan oleh Paman itu aku dan bukan adikku? Dia memiliki sifat random yang banyak Lo!" Arya menantang keyakinan Geo dengan menggoyahkan kepercayaannya kepada Giovanni yang memberikan informasi tentang Arya dan Arka saat para Keluarga Gumelar mencari mereka.
"Kau! hehehe, anak kecil harus duduk manis ya!" Geo tahu semakin berkata, semakin banyak racun yang Arya tebar dalam otaknya. Kemampuannya yang seperti ini mirip sekali dengan Mikael ketika ia masih kecil menurut isi kelapa Geo.
Arka mirip sekali dengan paman Dewa sedangkan Arya mirip sekali dengan Mikael ketika kecil. Apakah ini bencana atau apapun itu. Harusnya aku bertindak lebih awal. Kalau tidak orang-orang itu akan berbuat lebih jauh lagi.
__ADS_1