Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
(Season2) Kepala polisian dan Lamaran


__ADS_3

Rio dan Rekannya itu pun keluar dari mobil mereka. Lalu memasuki gedung kantor kepolisian pusat. Gedung tidak kantor itu terlalu besar seperti gedung-gedung perusahaan keluarga Gumelar yang sampai mencapai bertingkat-tingkat.


Gedung kepolisian ini hanya memiliki beberapa tingkat lantai saja. Walaupun begitu Rio tidak pernah iri dengan keluarga Gumelar yang lain.


"Hei, bagaimana kau akan menemui kepala kepolisian?" Rekan Rio itu bertanya sambil berjalan dibelakang Rio diantara lorong-lorong ruangan kepolisian.


"Aku tidak akan langsung bicara dengannya, aku mau masuk ke ruang ku dulu. Untuk berjaga-jaga aku harus punya file salinannya."


"Kau penuh perhitungan Rio."


"Diam, atau aku laporkan prilaku mu selama ini."


"Prilaku?"


"Ya, bermalas-malasan saat bekerja, bertindak tidak sesuai prosedur, dan masih banyak lagi."


"Baiklah aku akan diam."


Tepat di ujung lorong ruangan Rio, menaiki sebuah lift untuk menaiki lantai tiga. Setelah ia menaiki lift itu ia menemukan tombol lantai tiga, seketika itu pintu lift pun tertutup dan melesat naik menuju lantai tiga.


Tring..


Suara lift berbunyi menandakan bahwa Rio sudah sampai di lantai yang ia tuju. Rio-pun melangkah keluar bersama rekannya itu. Tepat di ujung sebelah kiri lift itu adalah ruangan tempat dimana Rio mengumpulkan berkas-berkas penyelidikannya.


Namun ketika Rio akan memasuki ruangannya, ternyata ada seseorang yang sudah masuk sebelum dirinya. Entah siapa itu, kini pintu ruangan Rio terbuka lebar. Membuat Rio harus sedikit waspada siapa yang memasuki ruangannya.


Padahal pintu ruangannya adalah pintu otomatis dan hanya bisa di akses oleh beberapa orang yang diizinkan saja. Rio menyuruh rekannya untuk bersiap. Sedangkan Rio akan masuk terlebih dahulu.


Rio menempelkan punggungnya di sebuah pintu geser otomatis yang terbuka lebar itu. Ia bersiap mengeluarkan pistolnya tepat di sebelah pinggangnya.

__ADS_1


Dan Rio pun masuk dengan melakukan gencatan senjata, namun ternyata orang yang berada di ruangannya itu adalah Kepala polisi yang hendak di temui oleh Rio, setelah ia menyalin file bukti kejahatan Reino.


Rio yang tengah mengacungkan pistolnya itu terkejut melihat siapa orang yang ia acungkan pistolnya. "TUAN KEPALA KEPOLISIAN!???" Rio terbelalak kaget melihat atasannya itu sedang terduduk santai di kursinya.


"Rio kerjamu sangat bagus, tapi bukankah aku sudah bilang untuk tidak meneruskan kasus tentang Reino?" Kepala kepolisian itu dengan aura yang menekan, membuat suasananya menjadi sulit bagi Rio.


"Hehe, kau sudah disuap berapa miliar oleh Kakek tua itu, sampai kau mengkhianati negara demi uang."


Rio tidak takut dengan nada ancaman itu, tidak satupun yang membuatnya takut kecuali, hal yang menyangkut orang yang disayanginya.


"Selama ini aku selalu memuji kerja kerasmu yang sangat kompeten, tetapi tidak disangka kau ini sangat keras kepala." kepala polisi dengan pakaian polisi dan atribut lengkap itu, seperti sedang menunjukan pangkat yang lebih tinggi dari Rio.


"Aku tidak peduli dengan hal itu, aku akan menyelesaikan ini dengan caraku sendiri walaupun kau tidak mendukungku."


"Tidak apa, sebenarnya urusan Reino sudah tidak aku pedulikan lagi, tapi ini soal Kai Gumelar. Aku tahu kau akan menyelidiki tentang Kai setelah atasan mu mendengar fakta dari Reino dan menyuruhmu untuk menyelidikinya disini."


Rio tertegun dengan apa yang diucapkan oleh kepala kepolisian itu tebakannya sangat tepat, Rio mulai mencurigai sangkut paut kepala kepolisian dengan Kai gumelar yang merupakan orang yang sedang Mikael selidiki saat ini.


Mikael terbangun. Demamnya sudah mulai turun, namun ia mendapati Aya yang sedang tidur di sebelahnya. Mikael memandangi Aya lekat-lekat. Penglihatannya sangat jelas sekali bahwa Aya sangat cantik. Bahkan saat tertidur seperti ini Mikael dapat melihatnya dengan jelas.


Aya mulai terbangun juga, karena ia merasa ada suatu aura seseorang yang menatapnya seperti orang cabul, menurut instingnya itu.


Perlahan-lahan Aya membuka matanya. Melihat gerakan Aya yang segera bangun. Mikael pun mengubah pandangannya. Pipinya tersipu malu dengan apa yang ia lakukan barusan.


"Kau sudah bangun?" Sahut Aya dengan nada layaknya orang yang baru saja terbangun dari tidur. "Apa demam mu sudah turun?" Sahutnya lagi.


"Aya! Apa kau ingin keluar bersamaku?" Ajakan Mikael yang tiba-tiba membuat Aya tertegun.


"Sepertinya aku sedang malas keluar." Aya menjawab pertanyaan Mikael dengan maling kan wajahnya.

__ADS_1


"Kalau begitu.." Mikael turun dari ranjangnya. Lalu ia pun tiba-tiba berlutut di bawah ranjang, sambil mengeluarkan cincin yang sangat indah dari dalam kotak yang sangat cantik. "Maaf aku tidak bisa melamar mu dengan baik, aku bukan pria romantis seperti yang dilakukan Zen saat kalian berpacaran."


Kata-kata Mikael tiba-tiba terjeda membuat Aya penasaran apa kata yang akan dikatakan selanjutnya. Mikael menelan ludahnya karena kering. lalu ia melanjutkan lagi kata-katanya dengan nada rendah seperti bukan dirinya.


"Aku tahu aku terlalu tiba-tiba, tetapi aku melakukannya dengan benar nanti, karena kita sudah tidak punya banyak waktu lagi. Akan terjadi sesuatu yang sangat besar. Aku ingin menikahi mu sebelum hal itu terjadi."


"Apa setelah menikah kau akan meninggalkanku?" Aya memotong kata-kata yang diucapkan oleh Mikael.


"Tentu saja tidak, tapi bukankah pernikahan kita ini dilakukan untuk keuntungan mu?" Mikael sungguh tidak bisa mengatakan kata yang sebenarnya ia ingin ucapkan. Ia hanya bisa melimpahkan kata-katanya pada hal yang lain.


Aya tertegun mendengar ucapan Mikael yang seperti itu tadinya Aya sempat berharap, jika Mikael sungguh-sungguh mengatakan perasaannya, namun semua itu hanya sebuah prosedur belaka. Aya pikir bahwa Mikael melakukannya hanya demi kerjasama yang sudah disepakati sebelumnya.


"Kau benar, pernikahan kita hanya demi sebuah bentuk kerja sama. tapi bisakah kau mengatakannya sekali lagi sambil menatapku dengan benar?"


"Mengatakan apa?"


"Kata-kata lamaran mu tadi sambil menatapku."


"Baiklah."


Mikael yang masih berlutut itu pun melihat wajah Aya lekat-lekat. Sungguh ia tidak sanggup untuk menap Aya yang begitu cantik dihadapannya itu. "Aya mau kah kau menikah denganku?"


Aya sedikit tersipu, karena ia merasakan sedikit ketulusan yang Mikael lontarkan walaupun hanya sedikit saja.


"Ya.." Aya menjawabnya dengan singkat, namun dilanjutkan dengan kata-kata lain. "Tapi setelah menikah, aku ada sedikit peraturan kita.."


Mikael menyematkan cincin lamarannya itu di jari mungil Aya dengan lembut. Ia tidak terlalu mendengarkan ucapan yang sedang Aya bicarakan. Ia hanya cukup dengan mendengar ucapan ya saja dari Aya. Delebihnya ia tidak peduli.


Setelah memasangkan cincin itu ditangan Aya. Ia pun mendongak mendekat tepat di dekat wajah Aya. Aya yang sedang asyik berbicara itu tiba-tiba, mendapatkan ciuman yang manis dari Mikael.

__ADS_1


Bibirnya yang begitu lembut, sekali lagi membuat Aya sedikit terhanyut kedalamnya.



__ADS_2