
Seorang pria menemukan sebuah ponsel mati di mobilnya, ponsel itu adalah milik Aya. Sebelumnya ponsel Aya sengaja dimatikan oleh Aya sendiri karena ia takut Arka atau Mikael dapat melacaknya lewat ponselnya itu.
Pria itu menghidupkan ponsel yang berada di dalam mobilnya itu dan melihat notifikasi yang menggantung di depan layar ponsel itu. Notifikasi itu banyak berasal dari panggilan tak terjawab dari Arya.
Pria itu tidak mengenali siapa pemilik ponsel itu. Lalu ia melihat latar belakang layar kunci ponsel itu. Terdapat foto Arya dan Arka saat pertama kali masuk sekolah. Pria itu langsung mengenali wajah Arya dan Arka yang mirip sekali dengan Mikael. Ia menjadi ragu untuk mengembalikan ponsel itu. Pada pemiliknya.
Pria itu teringat dengan wanita yang kemarin ditabraknya dan menyimpulkan bahwa pemilik ponsel itu adalah Istri dari Mikael. Karena Istri Mikael tidak memiliki hubungan apapun dengannya, pria itu memutuskan untuk mengembalikan ponsel itu pada pihak rumah sakit. Alih-alih jika wanita itu mencari ponselnya di rumah sakit.
Pria itu memutarbalikkan mobilnya dan melaju melesat membelah kota, menuju rumah sakit yang arahnya berlawanan dengan tujuan utamanya. Sampai di rumah sakit ia menitipkan ponsel itu pada perawat di lobi. tetapi suster itu menolak karena pasien yang ia bawa kemarin sudah keluar ketika itu juga.
Pria itu kebingungan, lalu memutuskan untuk menitipkan ponsel itu jika ada yang mencarinya. karena pria itu juga tidak mengenal siapa orang yang ia tabrak kemarin. Suster itu tetap tidak mau direpotkan oleh pria itu. Akhirnya pria itu mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar suster itu dan mengatasnamakan dirinya sebagai orang yang mengembalikan ponsel itu.
Disisi lain Aya sudah agak merasa bosan berlama-lama berada di ranjang rumah sakit. Ia pun hendak pergi ke luar untuk mencari angin. Namun ia tidak sengaja berpapasan dengan pria yang membawanya ke rumah sakit kemarin.
Aya tidak tahu bahwa pria itu adalah orang yang membawanya kerumah sakit, namun Aya menyadari sesuatu bahwa pria itu mirip sekali dengan kakaknya. Ia tidak mengetahui bahwa ia adalah kakak pertamanya atau kakak keduanya. namun kakak keduanya sudah meninggal artinya dia adalah kakak pertamanya.
Aya mengejar orang itu tetapi orang itu cepat sekali menghilang dari hadapanya, atau mungkin saja Aya yang lambat karena jalannya masih terpincang-pincang setelah tertabrak sebelumnya. Aya yang tidak sempat mengejarnya pun memutuskan untuk menanyakan pria yang baru saja dari lobi rumah sakit itu. Namun suster kebingungan karena banyak pria yang baru saja dari lobi rumah sakit itu.
Salah satu suster menyodorkan sebuah ponsel. "Apakah ini ponsel milik mbak?" Suster itu bertanya pada Aya.
Aya terbelalak kaget, kenapa bisa ponselnya ada di bagian lobi rumah sakit. "Benar ini ponsel saya!" Aya mencoba meyakinkan suster yang menyodorkan ponselnya itu.
"Kalau begitu apa anda bisa membuka layar kuncinya, saya hanya ingin memastikannya saja." dengan nada profesionalnya suster itu menyuruh Aya untuk menekan password layar kunci ponsel yang ia sodorkan itu.
Tentu saja Aya bisa membuka password layar kunci ponsel itu, karena ponsel itu memanglah miliknya. Suster itu pun percaya pada Aya. Akhirnya memberikan ponsel itu pada Aya dan menjelaskan tentang pria yang menitipkan ponsel itu padanya.
__ADS_1
"Barusan ponsel ini dititipkan pada saya untuk pasien yang kemarin bapak ini tabrak, kalau tidak salah namanya adalah Aji Dirgantara". Aya merasa tidak asing dengan nama itu, namun ia tidak ingat pernah mendengarnya dimana. Karena nama kakaknya yang pertama adalah Angga, sedangkan nama kakak keduanya adalah Kai.
Aya memikirkan nama belakang pria itu yang bernamakan sama dengannya, yang artinya berasal dari keluarga yang sama yaitu keluarga Dirgantara. Aya pun kembali ke ruangan pasien. Sambil memikirkan orang yang baru saja ia temui di lobi rumah sakit itu dan mengingat-ingat nama orang tersebut.
Aya mengusap kepala Arka dengan lembut, mengenang kenangan lamanya bersama kedua kakaknya itu. Di sela-sela itu Aya baru saja teringat dengan kakak keduanya yang tidak bermarga Dirgantara. namun Aya juga tidak mengingat jelas apa nama marga keluarga yang digunakan oleh kakak keduanya itu.
Aya mulai berpikir mungkin masih ada harapan kalau ia masih bisa menemukan kakaknya yang sudah lama menghilang dari hadapanya itu. Ia juga ingin mengetahui lebih jauh tentang insiden kematian kakak keduanya. karena tidak mungkin kakak pertamanya melakukan pembunuhan hanya karena perebutan kekuasaan dan harta keluarga.
karena setiap harinya keluarganya adalah keluarga yang sangat harmonis, bahkan Kai dan Angga sering menciptakan sebuah inovasi-inovasi baru yang selalu membuat Aya terkesan. Aya melihat keduanya sangat akur sekali sehingga tidak mungkin keduanya berseteru memperebutkan kekuasaan.
Di saat Aya sedang kebingungan memikirkan tentang kakaknya itu. Tiba-tiba saja Arka terbangun. "Ibu..." Arka merengek memanggil Aya. Sudah lama sekali Aya tidak mendengarkan rengekan Anak kembarnya itu. Aya senang sekali mendengarnya dan tahu bahwa Arka baik-baik saja.
"Arka ibu tidak suka Arka yang bertindak sok jadi pahlawan untuk orang dewasa." Aya memarahi Arka, agar Arka mengerti bahwa dirinya sangatlah berarti untuk Aya.
"Kau tidak tahu ibu setakut apa kehilanganmu. Rasanya ibu sangat membenci diri ibu sendiri karena Arka ingin menolong ibu."
"Baguslah ibu takut, makanya ibu harus tetap disisi papa Mikael supaya aman."
"Arka! dia itu orang asing. ibu tidak bisa menggantungkan diri ibu pada pria yang ibu tidak kenal."
"Kalau begitu ibu tinggal menikah saja, terus pacaran setelah itu. Katanya orang yang pacaran setelah menikah, pernikahannya bakal awet."
"Arka kamu belajar dari mana hal yang begitu?"
"Aku tidak belajar hal yang tidak penting seperti itu. Tapi aku tahu karena Arya yang memberitahu ku."
__ADS_1
"Arya?"
"Iya, si bodoh itu sebenarnya tidak bodoh. Dia mau main belakang dengan kepintaran ku. Bahkan dia berhasil menghadapi para anak buah mafia itu dengan rencana bodohnya. Aku tidak boleh kalah."
"Menghadapi mafia!?"
"Iya, Bu. ternyata si Arya itu licik juga.., padahal kukira dia itu bodoh."
"Kalau begitu kita akan pindah rumah ke daerah pedesaan yang letaknya jauh dari ibukota dan para mafia itu."
"Tidak mau ibu aku ingin disini sama papa Mikael."
"Tapi hidup mafia itu tidak pernah tenang seumur hidupnya."
"Aku tidak peduli!"
"Terserah kau saja ibu dan Arya akan pergi."
"Ibu apa kau ingin merelakan toko peliharaan mu?"
"Apa maksudmu?"
"Aku tahu, di bawah toko peliharaan ibu itu terdapat ruang rahasia yang besar bukan?"
Aya terbelalak kaget, sebenarnya seberapa jauh Arka mengetahui tentang ruang rahasia itu.
__ADS_1