
Mikael menarik pelatuknya dan membunuh satu persatu orang yang berada di lobi tempat Billiar itu dan menyuruh anak buahnya untuk mencari informasi tentang keberadaan Bryan Gumelar yang sedang bersembunyi itu. Wajahnya masih tenang dan tidak menunjukan ekspresi apapun.
Darah berlinang dan bersimbahan di Billiar itu, untungnya tempat biliar itu cukup sembunyi dan juga hari ini tidak begitu banyak tamu yang datang ke tempat Billiar itu. Sehingga ia tidak perlu membunuh banyak orang dengan menyia-nyiakan peluru yang berkualitas puluhan juta itu.
Mata Mikael benar-benar sudah gelap dan tidak bisa melihat rasa sedih ataupun merasa iba pada orang yang telah dibunuhnya. namun akhirnya ia menemukan tempat persembunyian Bryan yang sedang minum banyak alkohol dengan di temani banyak wanita.
Mikael tidak mengatakan sepatah kata apapun pada Bryan, tetapi Aura yang mendominasi dan mencengkram milik Mikael membuat Bryan membeku seketika itu juga. Tubuh Bryan berguncang hebat, terlihat sekali bahwa ia sedang ketakutan setengah mati.
Setelah melihat Bryan yang seperti itu, Mikael berubah pikiran dan ingin memilih memberinya pelajaran terlebih dahulu. Agar dia mengerti betapa marahnya Mikael padanya. Namun Bryan dengan mengumpulkan sedikit keberanian ia menodongkan pistolnya pada Mikael.
Mikael masih tidak bergeming sedikitpun, namun ia tiba-tiba saja langsung menarik pelatuk pistolnya tanpa ada aba-aba apapun pada paha kaki Bryan. Sehingga ia tidak sempat menghindar.
"Ahhhhkkkk..." Bryan berteriak nyaring sekali, para wanita yang sebelumnya berada di samping Bryan itu langsung berlarian keluar. Namun anak buahnya Mikael dengan sigap langsung membunuh para wanita itu. Jas Mikael terkena cipratan darah dari salah satu wanita itu. Mikael langsung mengeluarkan sebuah tisu untuk membersihkan bekas darah itu. "Ck, Darah wanita kotor baunya sangat busuk." Mikael pun pergi keluar dan menyuruh anak buahnya itu menyuntik bius Bryan untuk di bawa ke tempat yang disebut sebagai tempat bermain dimana tempat itu khusus digunakan untuk Mikael untuk menghukum orang yang membuatnya benar-benar kesal.
Mikael tidak pernah memandang bulu, baik itu wanita ataupun pria. Dia tidak pernah memaafkan orang yang berani mengusiknya sedikit saja.
__ADS_1
Kini celana bagian bawah dan juga sepatunya penuh dengan darah yang bergelimang, Mikael memanfaatkan satu hal lagi dari kejadian ini yaitu mengambil semua harta orang yang datang ke Billiar itu dan juga mengambil uang berangkas yang ada di dalam Billiar itu. Semua benda berharga yang ada di dalam Billiar itu berhasil ia rampas semua.
Orang-orang benar-benar tidak ada yang berani menodongkan pistol kearahnya, kecuali anaknya sendiri karena sikap nekatnya yang sama seperti Mikael dan sifat cerobohnya seperti Aya.
Mikael mengelap pistol mahalnya itu dengan kertas tisu yang baru. Hingga mengkilap kembali dan memasukannya kedalam saku dalam jasnya. Lalu menyuruh anak buahnya itu untuk membereskan mayat-mayat yang bertebaran dimana-mana itu untuk segera di bakar atau dikirimkan langsung pada keluarganya.
Mikael berjalan dengan tentang tanpa rasa bersalah sedikitpun, Matanya sudah gelap jika amarahnya benar-benar sudah tidak bisa ditahan seperti itu. Namun saat membuka pintu keluar Mikael berpapasan dengan Aya dan Giovanni. Aya menabrak dada bidang Mikael yang keras yang membentur hidungnya dengan keras.
"Awhh.." Teriak Aya ketika menabrak Mikael. Semuanya terbelalak kaget ketika Bryan berhasil ditangkap dan sedang dibopong oleh anak buah Mikael.
Prok..prok.. prok ..., suara tepuk tangan dari kejauhan di tempat parkiran, tepatnya di depan mobil merah yang berada di hadapannya. Namun Mikael mengacuhkan hal itu begitu saja.
"Mikael kau sangat hebat!" Orang itu perlahan mendekati Mikael. namun Mikael hanya diam tidak bergeming apapun. Pria itupun menepuk bahu Mikael "Nampaknya kau sedang bersenang-senang bukan?' Pria itu berbisik pada Mikael.
"Seperti yang kau lihat. Ada apa denganmu Rudolf? Kau bukannya tidak mau terlibat dengan dunia mafia lagi. tapi kau masih saja menulis buku tentang seorang mafia. Apa yang sebenarnya kau inginkan Rudolf? Kau sudah menjadi model sekaligus penulis, masih perlukah kau turun tangan hanya untuk bersenang-senang sepertiku?"
__ADS_1
Aya langsung terbelalak setelah mendengar penulis buku mafia, Suara dan rambutnya tidak salah lagi. Dia adalah R.G. sang penulis buku yang bertemakan tentang mafia. Dengan kata-kata yang kental dan mudah dipahami membuat pembacanya hanyut dalam ceritanya. Aya yang begitu mengetahui bahwa ia adalah Rudolf Gumelar a.k.a R.G. langsung hendak meminta tanda tangannya. Namun di halangi oleh Mikael.
"Kau salah aku kesini hanya ingin menolong mu, dan mencari inspirasi buku terbaruku." Rudolf hanya bisa mengatakan hal itu karena tujuan sebenarnya adalah mencegah perpecahan di dalam keluarga. Karena hal itu adalah hal yang sangat diinginkan oleh Raphael.
Semerbak bau darah yang mengering mulai tercium keluar, Rudolf langsung menendang pintu itu yang ternyata semuanya berisikan mayat dan sumbangan darah dimana-mana. Aya terbelalak kaget dan rasanya ingin muntah untuk yang kedua kalinya setelah di bawa berkendara oleh ngeri dengan apa yang telah ia lihat di balik pintu.
"Wah Kau sangat keren Mikael. Hanya sendiri saja sudah bisa menghapuskan nyawa manusia yang begitu banyak begini." Senyumnya berubah menjadi wajah serius kita ia akan melanjutkan kata berikutnya. "Apa kau ingin mengikuti jejak Raphael, Mikael?" Mikael sontak merasa tertegun mendengar kata dari Rudolf.
"Kau sebaiknya cepat menikah dan punya anak Rudolf, atau kak Rudolf? Umurmu kan lebih tua dariku atau kau tertarik menjadi pemimpin mafia Keluarga Gumelar saat ini? Dulu kau dan Raphael adalah kandidat yang sangat cocok. tapi kenapa tiba-tiba kau memilih meninggalkan semuanya?
Apa kau ada hubungannya dengan penyiksaan
yang diterima Raphael saat itu? hingga ia berubah menjadi seorang psikopat yang membunuh Keluarga kita?" Mikael hanya asal menebak pada Rudolf tapi nampaknya Rudolf sangat tertegun dengan perkataan Mikael.
"Ck, kau masih tidak mengakuinya. Saat itu dia sedang menunggumu bukan? Kenapa kau tidak datang?" Rudolf membalikan perkataan pahit yang diucapkan oleh Mikael.
__ADS_1
"Bukankah kau orang yang menghalangiku pergi ketempat itu?" Mikael membalasnya dengan lebih jelas lagi.
"Sudah Mikael, sebaiknya kita pulang. Mau sampai kapan kau harus menutup mataku seperti ini?" Aya langsung angkat berbicara untuk melerainya. Karena perkataan Rudolf ada benarnya, tidak boleh terjadinya perpecahan internal dalam keluarga mafia jika itu terjadi musuh akan lebih mudah melukai mereka. Pikir Aya yang masih ditutup kain matanya oleh Mikael.