Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
(Season2) Awal permainan 2


__ADS_3

"Maafkan Kak Malik, Aya. Dia memang seperti seorang binatang buas yang hendak menerkam. Tetapi kelakuan Guntur memang tidak bisa dimaafkan." Alex tersenyum palsu ragu pada Aya.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" Ujar Aya penasaran memangnya kekacauan apa yang disebabkan oleh Guntur yang seorang Gumelar itu.


"Beberapa hari yang lalu ia mendengar bahwa Rio tiba-tiba kaya hanya bermain di kasino. Tentu saja adikku itu mencoba hal yang sama. karena mereka selalu bersaing satu sama lain." Alex sebenarnya tidak bisa menjelaskan lebih dalam lagi teringat waktu yang yang seharusnya mereka gunakan untuk keluar dari gedung.


"Lalu apa yang terjadi." Aya masih penasaran dengan kehidupan mafia yang menurutnya masih ia harus selidiki.


"Tentu saja dia kalah besar. Aya sebaiknya kita segera bergegas pergi." Alex melihat jamnya lalu mengajak Aya untuk segera pergi.


"Arya, Arka, sebaiknya kalian lepaskan kaki Paman Alex ayo kita pergi ke AngelTech." Ujar Aya melihat kedua anaknya begitu kegirangan bertemu dengan Alex.


"Ayo Bu!" Seru Arka bersemangat.


Mereka pun meneruskan jalan mereka menelusuri lorong dan menaiki lift untuk turun ke parkiran. Beruntung Mobil Alex terparkir tidak begitu jauh dari lift dimana Aya dan yang lainnya turun dari sana.


Begitu suara lift berdenting menandakan mereka sampai di parkiran. Alex langsung menekan tombol yang ada di kunci mobilnya sehingga mobilnya bersuara, menandakan bahwa itu mobil kepunyaan miliknya.


"Ayo kita naik!" Alex tersenyum pada Arya dan Arka. Alex tidak menyangka bahwa dua anak yang mengerikan ini ketika bersama Aya begitu manja dan menggemaskan. Kini Arya dan Arka nampak seperti anak-anak pada umumnya.


"Ayok!" Seru Arka dan Arya mengatakannya secara bersamaan.


Mereka pun naik ke dalam mobil Alex, Alex membukakan pintu untuk Aya serta Arya dan Arka untuk naik kedalam mobilnya. Setelah itupun ia menutup pintu mobilnya dan berlari ke arah kursi sopir untuk segera mengendarai mobilnya. Ia membuka pintu untuknya dan masuk kedalam mobilnya kemudian ia menutup pintunya dari dalam.


Alex memakai sabuk pengaman di dalam mobilnya, lalu segera mengendarai mobilnya keluar dari parkiran. Suara decitan ban terdengar dengan jelas. Alex paham betul bahwa tidak lama lagi sesuatu akan terjadi.

__ADS_1


Mereka pun berhasil keluar dari parkiran. Rasa lega Alex setelah keluar dari parkiran itu sungguh-sungguh membuatnya menjadi lebih tenang dari pada sebelumnya.


"Ibu, tau tidak bahwa Paman Alex ini seorang dokter? Kalau kita bersama Paman Alex kita akan lebih aman dibandingkan Paman bau kencur itu."


"Siapa yang kau maksud Arka" Arya pura-pura bertanya seolah-olah ia tidak tahu siapa yang Arka maksud.


"Tentu saja Paman Guntur! oops" Arka menutup mulutnya ia baru sadar membicarakan Guntur di depan kakaknya.


"Yang di katakan oleh Arka tidak salah, Guntur terlalu di manjakan oleh Ayah dan Ibu, sehingga tidak bisa mengontrol dirinya." Alex tersenyum walaupun mereka dalam mode anak-anak biasa tetapi pemikiran mereka tetap kritis.


Tidak lama mereka meninggalkan gedung itu suara ledakan yang dashyat terdengar dengan sangat jelas. Arka dan Arya segera melepaskan sabuk pekannya dan melihat kearah belakang mobil.


Tampak kobaran Api dan asap hitam yang mengepul di udara berasal dari gedung yang indah, dimana tempat pernikahan Aya dan Mikael berlangsung.


"Beruntung kita sudah keluar dengan cepat." Alex membagikan rasa leganya pada Aya dan si duo kembar jenius itu.


Namun hati Aya sebenarnya masih tidak tenang mengingat Mikael masih berada di dalam gedung untuk melakukan sesuatu. Aya khawatir Mikael tidak akan selamat.


Aya teringat tidak seharusnya ia mengkhawatirkan Mikael, sehingga Ia meyakinkan dirinya bahwa rasa khawatirnya itu bukanlah rasa suka, melainkan rasa khawatir kepada siapa lagi ia meminta bantuan untuk mencari kakaknya.


Tanpa sadar Mobil Alex dan mobil Zen saling berpapasan. Beruntung Zen tidak menyadari bahwa Aya ada di dalam mobil itu.


Merekapun berkendara hingga tiba di AngelTech dengan selamat. Kantor AngelTech benar-benar sepi dan hening bahkan hanya terparkir satu mobil saja yaitu mobil milik peneliti yang bekerja di AngelTech bernama Ferdy Dramana.


"Sepertinya profesor sudah sampai lebih dulu." Ujar Alex memarkirkan mobilnya di sebelah mobil yang terparkir sendirian itu.

__ADS_1


***


"Sialan! Dasar orang edan si Rudolf itu. Hanya dia saja yang benar-benar gila di keluarga Gumelar." Celotehan Zen mengeluhkan apa yang terjadi padanya karena Rudolf.


"Sudah kubilang untuk menghindari orang itu, kau terlalu gigih untuk membawa mantan istri mu." Ujar Raphael dengan tenang. " Aku bukannya takut dengan pria sialan itu, hanya saja perlu beberapa waktu untuk menyiapkan kejutannya." Raphael memainkan cincinnya sambil berpikir secara tenang memikirkan rencana yang akan ia lakukan.


Mereka pun melihat gedung pernikahan Aya dan Mikael yang terdapat Asap tebal yang mengepul di udara itu. 'Sebaiknya kita tidak perlu kesana, seseorang sudah melakukannya dengan baik." Raphael menyuruh Zen untuk putar balik sambil melihat keadaan gedung itu.


"Apa kau-" Zen belum menyelesaikan kata-katanya. tetapi tangan Raphael memaksa wajah Zen untuk melihat gedung yang mengepul dengan asap hitam itu.


"I,ini ulah mu?" Ujar Zen senang melihat gedung yang terdapat Asap tebal itu.


"Bukan, jika saja kita sedikit lebih cepat. kita bisa melihat kode ledakan bom milik siapa yang beraninya mengusik Mikael. Di hari pernikahannya." Raphael begitu tenang, Zen pun mengikuti arahan Raphael untuk memutar balik mobilnya.


"Seseorang itu, pasti orang yang memiliki dendam pada Aya." Dalam hati Raphael ia tertawa karena terpikirkan satu hal yang akan ia lakukan pada Mikael.


"Apa kau baru saja memikirkan sesuatu?" Zen bertanya pada Raphael. Namun Raphael membalasnya dengan mencekik leher Zen.


"Hehehe, senang rasanya memiliki teman sepermusuhan yang sama. Bagaimana kalau kita melakukan serangan diam-diam sambil memanfaatkan orang yang melakukan bom itu?" Zen kesulitan nafas di tambah lagi ia sedang mengendarai mobil, sehingga membuat setirnya sedikit tidak stabil.


Raphael pun melepaskan tangannya dari leher zen, dan Tertawa puas mengingat idenya benar-benar brilliant.


uhuk..uhuk... Zen terbatuk-batuk begitu Raphael melepaskan tangannya dari lehernya. Dalam hatinya ia mengkritik Raphael "Benar-benar gila, untuk apa aku bekerjasama dengan orang gila ini. pasti waktu itu aku sudah kehilangan akal sehat ku. Setiap hari tangannya tidak bisa tidak berlumuran darah." Zen begitu ngeri dengan sifat Raphael.


Namun mau bagaimana lagi, dia membutuhkan kekutan yang sangat besar untuk menghancurkan Mikael yang sudah merebut Aya dan membantai keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2