Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Aya pun masuk kedalam taksi itu. Ia duduk tepat dibelakang di sebelah Mikael. Saat ini Mikael memerhatikan sikap Aya yang sangat aneh itu, menurutnya Aya adalah orang yang sulit ditebak, karena keunikan Aya.


"Wanita jaman sekarang emang suka sekali berhalusinasi ya!?" Mikael memulai percakapan dengan Aya walaupun sedikit canggung. Tapi yang di katakan oleh Mikael sangat tepat sasaran. "Makanya jangan banyak-banyak baca novel online atau drama-drama. Kita hadapi saja dunia ini dengan cara kita sendiri." Mikael menasehati Aya yang sebelumnya ketahuan suka meniru karakter antagonis novel.


"Pria emang tidak mengerti isi hati wanita, makanya jangan berlagak paling mengerti!" Aya memalingkan wajahnya karena malu dia memang suka sekali membaca komik-komik dan novel online lewat ponselnya.


Keheningan tercipta selama beberapa saat. Mikael mengetuk ngetukan jarinya di jok mobil sedangkan Aya berpura-pura memainkan ponselnya, sebelum akhirnya pak supir itu mengatakan sampai.


Aya dan Mikael pun turun dengan hati-hati, lalu Mikael memberikan uang ongkosnya sesuai dengan nominal yang menggantung di layar ponselnya.


Mikael merangkul bahu Aya, untuk masuk kedalam restoran mewah yang Aya minta. Namun tampaknya Aya tidak terbiasa dirangkul bahunya, Sehingga ia menepis tangan Mikael untuk melepaskan tangannya.


Mikael dan Aya memilih tempat yang begitu nyaman untuk mereka mengobrol. Lebih tepatnya Mikael menggunakan tempat VVIP yang sangat istimewa dan juga hanya mereka berdua di dalamnya. Mikael menggeserkan kursi untuk Aya, Aya pun duduk lalu Mikael pun pergi duduk di hadapan Aya.


Aya mulai membayangkan apa yang pernah ia baca di novelnya ketika peran protagonis saling mengungkapkan cinta di kencan mewah mereka.


"Aku tidak tahu, kau itu ternyata adalah orang yang sudah benar-benar teracuni novel-novel online." Kata-kata Mikael begitu mengena sekali, Aya jadi malu sendiri dengan kelakuannya yang kekanak-kanakan itu.


"Jangan banyak bicara dan cepat langsung ke inti pembicaraannya!" Aya setengah marah pada Mikael yang bisa membaca pikirannya yang tengah menikmati khayalannya.


"Seperti apa kakak pertamamu?" Tanpa basa basi Mikael langsung mengatakan hal yang ingin dia tanyakan itu.

__ADS_1


"Tunggu dulu Aku mau pesan makanan paling enak di restoran ini!" Dengan penuh semangat Aya ingin mencicipi makanan yang paling enak dari restoran paling mahal ini untuk diam-diam mencuri resep rahasia masakan tersebut melalui kemampuan lidahnya.


"Aku sudah memasangnya lebih dulu. Kau tenang saja dan jawab pertanyaan ku!" Mikael kesal melihat Aya yang bertingkah seperti anak kecil ini, padahal Arka dan Arya yang merupakan anaknya mereka berdua suka bertingkah seperti orang dewasa padahal mereka masih berumur 5 tahun.


"Tadi kau menanyakan Apa aku tidak dengar." Wajah Aya benar-benar tanpa dosa ia, dengan datar dia mengatakan bahwa ia tidak mendengar perkataan Mikael.


"Kau!" Mikael emosi dengan Aya yang sangat bertingkah seperti itu. Namun ia harus menahan emosinya karena takut Aya akan pergi kabur lagi. "Seperti apa wajah kakak pertama mu?" Mikael memegang keningnya sambil bertanya pada Aya.


"Kenapa tiba-tiba menanyakan kakak pertamaku? Apa kau sudah menemukannya? Dimana? Dimana dia sekarang?" Aya malah menarik kerah Mikael dan balik menanyakan tentang keberadaan kakak pertamanya.


Mikael langsung melepaskan kerahnya dari cengkraman tangan Aya dan merapihkan kembali bajunya yang sudah di buat kusut oleh Aya. "Aku kan bertanya lebih dahulu padamu, Seperti Apa kakak pertama mu!?" Mikael mengeluarkan Aura dominasi yang menakutkan. namun hal itu tidak pernah berpengaruh pada Aya.


"Bukankah kau ingin mencari kakak pertama mu? Sekarang aku sedang membantu mu! Besok kita harus ke KUA untuk mengurus surat nikah kita." Mikael mengatakannya tanpa menimbang-nimbang terlebih dahulu.


"Kenapa terburu buru? Apakah ada sesuatu yang sangat mendesak?" Aya bertanya tanpa memikirkannya terlebih dahulu.


"Benar! Ini sangat mendesak dari apapun dan sekarang cepat jawab pertanyaan ku seperti apa kakak pertamamu!?" Mikael benar-benar sabar menghadapi Aya yang begitu menyebalkan itu.


"Tentu saja dia itu mirip sekali denganku. Aya menunjukan Fotonya saat bersama kakak pertamanya. Ternyata benar kakak pertama Aya dan Aya mirip sekali, namun berbeda dengan Kai Warna rambutnya berbeda.


Apa kakak pertamamu rambutnya memang coklat terang seperti milikmu?" Mikael bertanya seolah-olah ia seorang polisi yang sedang mengintrogasi kliennya.

__ADS_1


"Benar, tapi satu hal yang membuatku ganjal. Aku pernah bertemu dengan orang yang mirip sekali dengan Kak Kai, tapi aku melihat sendiri Kak kai sudah meninggal enam tahun yang lalu. Aku juga berpikir bahwa kakak pertama ku mungkin mencat rambutnya dengan warna yang sama seperti rambut kak Kai makanya aku tidak bisa menemukannya." Aya mengucapkan semua


"Dimana kau bertemu dengannya?" Mikael penasaran karena Aya tidak pernah cerita padanya sebelumnya.


"Sebenarnya orang yang menabrak ku waktu aku kabur dari villa mu saat itu adalah orangnya. tapi aku tidak sempat mengucapkan terimakasih atau melihat wajahnya dengan jelas. tapi saat ku tanya pada sister rumah sakit nama orang yang menabrak ku itu adalah bernama Aji Dirgantara. Aku tidak ingat memiliki kerabat bernama Aji."


Mikael terbelalak kaget mendengar Aya mengucapkan nama Aji. Nama yang sebelumnya Kai ceritakan bahwa suatu saat nanti namanya akan ia ganti menjadi keluarga Dirgantara sesungguhnya. Nama pemberian Kakaknya yang tak lain adalah Angga Dirgantara.


"Apa kau serius!?" Mikael masih bingung dengan teka-teki yang masih rancu seperti ini.


"Kenapa kau sepertinya jadi kurang sehat?" Aya melihat Mikael yang wajahnya berubah menjadi pucat.


Aya pun berdiri dan melangkah mendekati Mikael untuk menyentuh keningnya memeriksa demamnya. Ternyata benar nampaknya Mikael belum pulih sepenuhnya namun ia harus pergi keluar hanya untuk menanyakan pada Aya tentang kakak pertamanya.


Makanan yang di pesan oleh Mikael sudah datang, namun waktunya tidak tepat. Akhirnya Aya menyuruh pelayan itu membungkus makanannya dan mengantarkannya ke Alamat yang Aya berikan, yaitu alamat apartemen Mikael.


Aya memapah Mikael sampai ke mobil taksi. Setelah berhasil memapahnya Aya ikut pulang bersamanya. Suhu tubuhnya terus naik. Padahal Aya sudah memberikan obat diatas meja makan, Apa dia tidak meminum obatnya. Tanya Aya dalam kepalanya.


Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba Mikael mendapatkan sebuah pesan. Aya sempat melihat siapa pengirimnya. Pengirimnya berasal dari Giovani Gumelar. Mikael langsung membuka isi pesan itu, sedangkan Aya membiarkan Mikael membuka pesan dari Giovanni karena Aya pikir pesan itu tidak terlalu penting.


Namun ketika itu Mikael menyuruh supir taksi itu menurunkannya saat itu juga. Ia terburu-buru pergi. Aya yang khawatir karena fisiknya belum sembuh total itu, ikut turun dan memberikan ongkos taksinya. Kemudian mengejar Mikael.

__ADS_1


__ADS_2