
"Apa kau mencoba mengelabuiku dengan menggunakan kata-kata anak-anak?" Mata Professor Franklin menyipit seolah-olah menyidik pada Aya. Ia masih belum percaya bahwa Aya yang masih terlihat muda dan cantik itu sudah memiliki seorang anak.
"IBU.., Aku juga ingin melihat ruangan ini dari dalam." Ujar Arka yang tiba-tiba masuk tepat pada waktunya sambil berlari di dalam ruangan itu kemudian memeluk kaki Aya.
Professor Franklin terbelalak kaget melihat Aya benar-benar tidak berbohong. Wajah Arka yang sama persis dengan Mikael tidak dapat dibohongi.
"Ibu, ini siapa?" Arka berpura-pura bertanya pada Aya. Namun sebenarnya ia sedang bersembunyi dari Alex. Arka melakukannya dengan sengaja untuk memberikan waktu untuk Arya melakukan sesuatu.
Namun sangat disayangkan rencana dua bocah itu nampaknya tidak berhasil dengan lancar, Alex lebih dulu mengetahui sehingga ia tidak mengejar Arka melainkan mengawasi Arya. Tetapi mereka masih memiliki rencana b dengan melibatkan Aya.
"Aya, apakah benar kau sudah memiliki anak dengan monster itu?" Professor Franklin masih tidak percaya. sudah lima tahun ia bekerja pada Mikael tetapi ia tidak tahu sama sekali bahwa Mikael memiliki seorang istri sekaligus anak.
"Siapa yang Kakek bilang Monster?" Tatapan mata Arka yang sangat tajam seolah-olah ada aura ingin membunuh yang sangat besar terpancarkan begitu saja lewat tatapannya.
Franklin tertegun ternyata bukan hanya wajah mereka saja yang sama tetapi aura membunuh yang begitu pekat lewat tatapannya itu tidak jauh berbeda diantara keduanya.
"Tidak, arka sayang maksud Professor dia sedang membicarakan pengalaman penelitiannya. Arka sebaiknya kau bersama Paman Alex, ibu sedang sibuk mengerjakan proyek besar milik papa." Sambil tersenyum Arka memperlihatkan kasih sayangnya yang begitu besar kepada Arka di hadapan Professor Franklin.
"Oalah, apakah aku boleh melihatnya, Bu?" Arka kali berulah seperti anak kecil pada seusianya.
"Tidak, sayang. Professor nampaknya aku harus melakukan sesuatu dulu." Aya meminta izin Professor Franklin dengan kata-kata halus.
"Ya, tidak apa-apa." Jawaban terburu-buru dari profesor terlihat sekali walaupun ia sangat mempercayai Mikael tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa di dalam hatinya pun masih ada sedikit rasa hati-hati dan takut kepada Mikael.
__ADS_1
Aya pun pergi meninggalkan Professor Franklin untuk sementara. Untuk sekedar membuat Arka keluar dari ruangan itu. Karena seperti yang dikatakan oleh Mikael ini adalah proyek rahasianya. Aya tidak mungkin memberitahukannya pada siapapun termasuk Arka dan Arya.
Karena setahu Aya anak kecil selalu mengatakan hal penting dengan polosnya. Sehingga tidak dapat menjamin bahwa rahasia ini akan dipegang dengan benar oleh Arka.
"Ibu.., aku hanya ingin melihat ibu seperti dulu kita berada di pulau itu." Arka mengeluhkan apa pilihan yang di pilih oleh Aya.
"Arka, Ibu sedang bekerja situasinya berbeda dengan saat di pulau." Aya menasehati Arka dengan lembut.
Setelah mereka tiba di depan pintu laboratorium, tepat pada saat itu Arya yang sedang dipangku oleh Alex membuat Arka terbelalak kaget. Alex benar-benar sulit dikendalikan. Arya tidak berhasil kabur untuk diam-diam Mikael dan membalaskan dendam mereka berdua pada Zen yang selama ini sudah membuatnya menderita.
"Sepertinya anak-anak sedang berbuat nakal." Tiba-tiba suara yang sangat tidak asing dan membuat jantungnya tiba-tiba bergetar.
Mikael tiba-tiba saja muncul dihadapan Aya, Alek juga Arya dan Arka. Mereka semua tertegun dengan kemunculan Mikael yang tiba-tiba saja muncul itu.
Arka sedikit kecewa, Apakah Mikael tidak jadi membalas dendam pada mantan Ayahnya Zen dalam kepala Arka menebak-nebak apa yang terjadi hingga Mikael bisa muncul secepat itu dihadapan mereka.
Disisi lain di dalam laboratoriumnya Aya yang di tarik masuk kedalam oleh Mikael secara tiba-tiba membuat hatinya tiba-tiba berdegup dengan kencang.
"Nampaknya kau sudah mengganti bajumu dengan baju yang ada di dalam ruangan ku ya? Sayang sekali. Kau sangat cantik dengan gaun itu." Ujar Mikael begitu masuk kedalam laboratorium, menempelkan bibirnya di telinga Aya.
Aya pun mendorong Mikael menjauh dengan wajah merona. "Diam dan cepatlah kita selesaikan ini, jangan lupa dengan janjimu. Aku harus menemui Edward Dirgantara." Ujar Aya mencoba tegas kepada Mikael.
"Ehemm.. ehemm.." Professor Franklin berpura-pura tenggorokan merasa kering. Namun sebenarnya ia tidak suka melihat pemandangan yang tidak diinginkan itu terjadi melihat kedekatan Aya dan Mikael seperti itu.
__ADS_1
"Ah, maaf Professor Franklin. Anda pasti tidak merasa nyaman." Aya langsung meminta maaf kepada Professor Franklin karena ia sangat mengerti apa yang dipikirkan oleh Professor.
Mikael pun berjalan mendekati Professor sambil menarik tangan Aya. "Bagaimana Professor apakah proyek ini bisa diselesaikan dengan cepat?" Mikael tidak berbasa-basi terlebih dahulu ia langsung mengatakannya secara to the point mengenai proyek besar yang akan di kerjakan.
"Sepertinya akan selesai cepat jika Aya yang membantu. Karena aya merupakan lulusan terbaik sebelumnya di universitas dunia." Professor Franklin langsung menjawab Mikael setelah mempertimbangkan beberapa hal.
"Memangnya proyek apa yang akan aku dan Professor Franklin kerjakan?" Aya bertanya karena ia sendiri masih kebingungan dengan apa yang akan ia kerjakan sebenarnya.
"Ini adalah senjata paling canggih. Aku ingin membuat bom yang berupa chip kecil. Sebagai ganti orang-orang yang mengincar chip milik Kai yang ada di tanganmu." Mikael menjawab dengan serius.
"Maksudmu chip yang berhubungan dengan perdugaan penculikan Arya dan Arka waktu itu?" Aya masih mengira-ngira tujuan apa yang sebenarnya Mikael membuat bom chip itu.
"Benar, aku sudah menyelidiki keseluruhan. Zen masih mengincar chip yang ada di tanganmu. Pelaku yang menyebarkan aplikasi yang di buat oleh Arka juga sudah dipastikan dengan seluruhnya bahwa pelakunya adalah Zen."
"Zen? Tapi bukankah harta dan keluarganya telah kau hancurkan sebelumnya?"
"Pasti orang itu memiliki dukungan yang sangat kuat." Professor Franklin tiba-tiba menyela.
"Benar, maupun sudah tahu bukan bahwa dukungannya adalah Raphael."
"Jadi apa rencana mu?" Aya menatap Mikael serius seolah-olah dirinya tanpa sadar sudah memasuki dunia mafia milik Mikael.
"Sebenarnya Raphael juga tidak memiliki kekuatan yang begitu besar, mengingat sebelumnya dia adalah orang yang banyak kekurangannya dibandingkan denganku. Tapi keluarga Alfonso di sebrang sana adalah penguasa mafia di Italia setelah Dominguez.
__ADS_1
Sekarang kedua keluarga besar itu sedang ada di negara ini. Entah apa yang mereka lakukan tapi catatan kejahatannya akan segera aku temukan."