
"Kau selalu saja bisa membujuk bibi kalau begitu, masuklah. Malik baru saja pulang bersama Guntur beberapa waktu lalu." Dewi pun mempersilahkan Mikael dan Aya untuk masuk.
Mikael dan Aya pun masuk sambil bergandengan. Aya dan Mikael pun mencium tangan Dewi sebagai rasa hormat mereka. lalu Mikael pun bertanya "Edward ada dimana?"
"Dia sedang di perjalan bersama pamanmu. Ada apa kau menanyakannya?" Sambil berjalan masuk kedalam rumah Dewi menjawab pertanyaan Mikael dengan keheranan.
"Aya, apa tidak apa apa pria kejam ini akan mendampingi mu untuk kedepannya?" Dewi pun tiba-tiba bertanya seperti itu didepan Mikael kepada Aya.
"Jangan dengarkan perkataan bibi. Jika aku kejam aku sudah pasti membunuhmu dari dulu."
Aya hanya bisa tersenyum palsu mendengarkan kata-kata yang membuatnya merinding. "Iya bibi, Mikael baik sekali kok padaku. Bahkan Arya dan Arka sangat senang meniru ayahnya sendiri."
Aya pun menyombongkan bakat aktingnya pada Mikael tanpa memikirkan masalah yang dia timbulkan akibat perkataannya.
"Arya dan Arka, Ayah??" Dewi terbelalak kaget mendengar hal itu. "Jadi bernar ya kalau kalian sudah memiliki anak. Kenapa selalu aku yang telat mendapatkan informasi sepentin ini..hiks hiks..
Dan bagaimana Apa mereka anak kembar? berapa umur mereka sekarang? Apa mereka sudah sekolah? Kalau nenek tahu bagaimana?"
"Bibi tenang, bi." Aya mencoba menenangkan Dewi yang tiba-tiba menangis sedih.
"Bibi, tidak udah berlebihan begitu. Kau pasti sudah lebih dulu mendengarnya dari guntur. Bahkan saat itu juga bibi sudah tahu."
"Mikael, jahat! bibikan cuman tahu kalau mereka anak kembar saat di pesta pernikahan bahkan bibi tidak tahu apa kesukaan mereka apa."
Aya tidak menyangka bahwa Dewi Gumelar seperti anak kecil dihadapannya. Beberapa kali ia pernah mendengar dari Ken tentang Dewi Gumelar saat akan menjelang pernikahan. Ia mengatakan bahwa Dewi adalah sosok wanita yang sangat tegas dan bijaksana.
Namun apa yang dihadapannya tidaklah sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ken. Kini dihadapannya hanya ada wanita tua yang sedang merengek manja pada anaknya.
__ADS_1
"Ibu, apakah aku harus dihukum seperti ini?" Guntur merengek nangis meminta bantuan pada Dewi. "Mikael?" Ujar Guntur begitu melihat Aya dan Mikael bersama Dewi.
"Pokoknya ibu, akan potong uang jajan mu. Dan sebagian perusahaan yang tersisa akan ibu berikan pada Arka." Tiba-tiba sosok aura yang terkuat muncul dalam diri Dewi dalam waktu sekejap. Nampaknya Dewi sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh Guntur kali ini.
"Apa ini karena kalah judi beberapa waktu lalu?" Mikael langsung menebak dengan tepat apa yang terjadi pada Guntur.
"Sepertinya aku juga mendengar seperti itu dari kak Malik atau Alex ya?" Aya mencoba mengingat-ingat apa yang pernah ia dengar sebelumnya.
"Itu benar-benar, bocah itu sudah dewasa tetapi kelakuannya seperti anak yang masih dalam usia pubertas. Jika dibiarkan terus ia akan semakin kelewatan."
"Ibu aku hanya menghabiskan satu Miliar saja."
"Guntur apa satu miliar itu adalah uang yang mudah untuk didapatkan?" Tiba-tiba Malik muncul dari belakang Guntur.
Guntur bergidik ketakutan. Hingga ia pun berlari turun dari tangga untuk mendekati Dewi.
"Tapi Rio mendapatkannya dengan mudah, huaaa..." Sifat kekanak-kanakan Guntur benar-benar tidak bisa hilang. Walaupun Guntur dan Aya memiliki umur yang sama namun Dimata Aya kini Guntur terlihat seperti anak kecil. Bahkan Arya dan Arka sendiri bersikap lebih dewasa daripada Guntur.
"Kak Malik!" Mikael tiba-tiba berteriak keras hingga terdengar ke telinga Malik yang berada di lantai dua.
"Ada apa?" Jawaban ketus dari Malik tidak pernah berubah menurut Mikael.
"Kau bawa siapa saat dipernikahan ku?
Deg, Malik merasa tertegun mendengar perkataan Mikael. Padahal ia sudah menyembunyikannya dengan benar tanpa celah bahkan di pintu masuk sekalipun, Kai memposisikan dirinya dengan baik.
"Apa?? Jadi tadi kau membawa seseorang bukan istri mu?" Dewi Gumelar pun tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Mikael.
__ADS_1
"Malik turun dan duduk disini, Mikael, Aya kalian juga duduk di sofa ini." Dewi Gumelar pun menyuruh Malik , Mikael, Aya untuk duduk di sofa untuk membicarakan suatu masalah yang terjadi pada hari itu.
"Aku bagaimana Bu?" Ujar Guntur yang baru saja turun dari tangga.
"Kau renungkan saja semua kesalahanmu. Bisa-bisa ibu mati dalam waktu dekat akibat ulah mu." Dewi menyuruh Guntur untuk pergi menjauh, karena ia sudah terlalu pusing dengan apa yang dilakukan oleh Guntur. "Malik cepat turun!"
"Bibi aku menolak untuk duduk sekarang, sepertinya Aya kelelahan setelah kami menikah seperti yang Bibi tahu kami harus menghentikan acara pernikahan di karenakan adanya sebuah bom di dalam gedung itu. Setelah itu Aya harus pergi ke kantor karena mendapat panggilan dari profesor Franklin. Jadi hari ini kami butuh istirahat segera. Sebaiknya kita bicarakan ini besok saja."
"Ah, kau benar maafkan bibi. Aku hampir melupakan hal seperti itu. Pelayan tolong siapkan kamar tamu utama untuk Aya dan Mikael."
"Sebaiknya kita bicarakan hari ini aku tidak punya waktu lagi. Malam ini aku harus pergi ke luar kota untuk memantau rumah sakit yang ada diluar kota." Malik dengan dinginnya tidak ingin menunda pembicaraan mereka. Malik menatap tajam Mikael.
"Sudah-sudah kau bawa Aya ke kamar dulu. lalu kau bicarakan masalah kalian hari ini. Mikael tidak apa kan kau mengalah sedikit, Malik adalah pria yang sangat keras kepala."
"Baiklah, aku tidak keberatan selama tidak mengganggu jadwal tidurku dengan Aya karena malam ini masih hari pernikahan kami. Jadi kami harus melakukan beberapa hal."
Begitu mendengar hal dari itu dari Mikael. Wajah Aya tiba-tiba merona kepalanya tidak lagi bisa berpikir dengan jernih. Bahkan ia mulai membayangkan beberapa hal yang membuatnya malu.
"Hei, ada apa?" Bisik Mikael pada Aya.
"K,kau jangan mengatakan hal memalukan seperti itu."
"Hal memalukan seperti apa?" Bisik Mikael lagi.
"Pokonya itu."
"Kau sedang berpikir mesum ya? Padahal aku berniat mendiskusikan tentang Edward bersamamu dikamar. Jika kau berharap lain aku tidak keberatan melakukannya." Bisik Mikael tanpa ada rasa malu sedikitpun dimata Aya.
__ADS_1
Aya jadi semakin malu dengan apa yang dikatakan oleh Mikael. Dirinya tidak bisa mengontrol wajahnya yang sudah terlanjur memerah itu.
"Loh, ada apa ini kok wajah Aya menjadi merah begini. Apakah kau demam sayang?" Dewi tidak sengaja menangkap wajah Aya yang berubah menjadi semu merah, ia menyangka bahwa Aya sedang demam.