ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
108. KEKONYOLAN ALDO.


__ADS_3

Sementara itu di Mension. Aldo yang baru pulang dari perusahaannya melangkah masuk kedalam Mension.


Tidak seperti biasanya, setiap Ia pulang pasti para pelayan akan menyambut kedatangannya dengan berbaris di depan pintu di pimpin oleh kepala pelayan, siapa lagi kalau bukan Bi Surti.


Aldo melangkah memasuki kamar dan mencari istrinya yang sudah dari tadi Ia rindukan.


"Yuhui........DindaKu!" ucap Aldo sambil merengganggakan dasinya dan membuang tas kerjanya begitu saja di sembarang tempat.


Selayang pandang, matanya diarahkan keseluruh penjuru ruangan tapi tak juga menemukan sosok yang sedari tadi dirinduinya.


"Pasti dalam bilik kamar mandi" ucap Aldo sembari tersenyum dan melangkah kearah kamar mandi.


Aldo mengetuk beberapa kali daun pintu kamar kecil itu, tapi tidak juga mendapat jawaban dari dalam sana.


Sakin lamanya menunggu tak ada jawaban. Aldo memutar gagang pintu bilik kecil itu dan mendapati bilik itu dalam keadaan zonk alias tidak berpenghuni.


"Pelayan......................." teriak Aldo memecah keheningan Mension tersebut.


Suaranya Aldo yang cempren membuat seisi Mension seakan akan bergetar dibuatnya.


Bi Surti yang kebetulan lewat di depan bilik Aldo begitu kaget dan berlari lontak lanting menuju bilik Aldo dan mendobraknya begitu saja.


Rasa kaget wanita parubaya itu membuat tenaganya berlipat ganda.


"Jangan coba coba menyakiti TuanKu" ucap Bi Surti memasang gaya kuda kuda mirip karateka dunia yang sudah masuk final.


Aldo yang berada dalam ruangan itu mengeryitkan dahinya sembari memutar mutar kedua bola matanya melihat gaya Bi Surti yang siap menghabisi lawan lawanya.

__ADS_1


"Awas encok! Bibi itu udah tuwir, jadi jangan sok soan jadi Wonder Women versi nenek nenek" ucap Aldo mendudukkan dirinya diatas pembaringan.


"Maaf Tuan Muda......" ucap Bi Surti menggaruk garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"DindaKu dimana...! ucap Aldo memandang kearah Bi asurti.


"Dinda?" Balas Bi Surti yang tak tahu maksud perkataan Aldo.


"Ah ..Bibi ini! Yayang GiselKu Bi!" ucap Aldo sembari berdiri melepas dasinya.


Bi Surti seraya tersenyum senyum geli mendengar ucapan Tuan Mudanya yang sangat jarang berucap romantis, kalau kasar si emang sering malah.


"Oh nyonya Muda maksud Tuan!" Balas Bi Surti.


" Iya masak nyonya Menir" ucap Aldo Asal.


"Tidak usah Bi! Biar Aku saja kesana! Bibi duluan saja kesana, tapi ingat, jangan biarkan Nyonya Muda menyentuh bunga berduri yang ada di dalam taman itu ! Aku tak mau GiselKu sampai terluka atau berdarah sedikit pun, Bibi paham!" ucap Aldo menegaskan kepada Bi Surti.


"Baik Tuan! kalau begitu Saya permisi dulu" ucap Bi Surti mengangguk pelan dan berbalik arah keluar dari bilik itu.


Sepeninggalan Bi Surti Aldo segera mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai miliknya.


Setelah dirasa cukup Aldo melangkah kearah pintu, kemudian membukanya.Sebelum Ia melangkah lagi tak lupa Aldo menutup kembali pintu kamarnya.


Senyum kegembiraan terus terpancar dari wajah pria tampan itu. Hatinya berbunga bungan kalau mengingat sebentar lagi Ia akan bertemu dengan kekasih hatinya.


Dari kejauhan, tampak Gisel sedang duduk diatas kursi yang ada dalam taman itu. Dan kelilinggi beberapa pelayan yang sedang menungguinya disana.

__ADS_1


Aldo memang sudah menyuruh para pelayan untuk tidak lagi menyambut kedatanganya saat pulang, tapi dengan gantinya menyuruh mereka menemani Gisel dimanapun Ia berada saat dirinya tidak berada di Mension.


Aldo melangkah mendekat kearah Gisel sembari terus tersenyum riang.


"YayanKu ......." ucap Aldo sembari membentangkan tanganya ingin memeluk tubuh Istrinya.


Gisel yang mendengar suara yang sudah sangat tak asing baginya itu segera menoleh kearah datangnya suara sembari tersenyum melihat tingkah Aldo yang mirip Syahrul khan dan film bollywood.


"Cup......." satu ciuman lembut mendarat di pipi sebelah kiri milik Gisel.


"Ah ..Kamu ini selalu saja melakukan hal yang tidak senonoh di depan umum" ucap Gisel yang rada rada malu di lihatin oleh para pelayan yang sedang berdiri tak jauh dari tempat mereka saat ini berada.


"Tidak senonoh bagaimana si yayangKu! Kanda hanya melakukan hal yang menurut Kanda wajar wajar saja, kecuali Kalau Kamu mau kita melakukan hal fulgar di tempat ini!" balas Aldo sambil tersenyum dan mengedip ngedipkan kedua matanya mirip kucing jantang yang sudah lima tahun tidak menemukan pasanganya.


Gisel tidak meladeni sama sekali ucapan dan tingkah lakunya suaminya yang menurutnya begitu menjijikan baginya.


Gisel malah mengelus elus perutnya yang masih terlihat rata.


"Nak! kelak Kamu jangan seperti AyahMu ya! Arogant, mesum dan konyolnya diluar batas manusia normal.Mending Kamu seperti Ibu baik hati,lembut dan penyayang" ucap Gisel sambil mengelus elus lembut perutnya.


Aldo yang mendengan ucapan Gisel segera berjongkok di hadapannya dan menciumi bertubi tubi perut Gisel yang di dalamnya sudah menyimpan benih cinta mereka berdua.


"Sayang Kamu tegah bangat si! melapor salah salah pada dede bayi! Nak ibuMu berbohong, Ayah ini orang baik, ganteng, kaya, terkenal dan semua hal hal baik itu ada pada Ayah, jadi kelak saat Kamu dewasa nanti, Kamu akan setampan, sekaya, sebaik dan setenar AyahMu ini bukan?" ucap Aldo membela diri kepada Anaknya yang di dalam sana mungkin baru sebesar biji kedondong.


Gisel terbahak bahak sambil menggeleng gelengkan kepalanya melihat kekonyolan suaminya itu.


Gisel benar benar tak percaya kalau orang sepintar dan sesejenius Aldo bisa Ia kerjai dengan mengatas namakan anaknya yang toh belum tentu bisa mendengar ucapannya yang tadi.

__ADS_1


👉 beri vote, like , coment serta rate bintang limanya ..trimah kasih.


__ADS_2