
Gisel segera mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan kain lembut itu.
Kenangan tadi siang membuatnya begitu tertekan mengingat kedatangan Ibu tirinya dan Dewi ke studio permotretan.
Tidak terasa air matanya jatuh begitu saja membasahi pipinya.
"Kenapa perempuan Tua itu terus saja membayangi hidupku seperti hantu! apa Ia belum puas dengan apa yang telah Ia lakukan padaKu dulu" ucap Gisel terseduh seduh dari dalam selimut.
Aldo yang tiba tiba merasa ada suara tangisan segera membuka matanya.
"Kenapa Dia menangis! Apa dia marah kalau Aku tidur disini ? ucap Aldo dalam hati dan mencoba mendekat kearah Gisel.
"Hay kenapa kamu menangis! ucap Aldo sambil membuka selimut yang di gunakan Gisel.
Gisel tidak menjawab sama sekali pertanyaan Aldo, Ia hanya melap Air matanya yang keluar dari ke dua sudut matanya itu.
"Kemarilah ! Jangan memendam sendiri kesedihanMu" ucap Aldo menarik tubuh Gisel dan menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.
"Kenapa Kau menagis! Apa kau marah kalau Aku tidur di dalam kamarMu ini? ucap Aldo dengan lembut.
Gisel hanya menggeleng pelan tanpa mengeluarkan suara.
"Terus apa yang membuatMu sesedih Ini!"lanjut Aldo sambil membelai pucuk kepala Gisel.
Mendapat perlakuan seperti itu rasanya Gisel begitu nyaman dan terbuai dibuatnya.
Gisel sedikit mendongakkan kepalanya menatap kearah Aldo yang sedang duduk bersandar di punggung tempat tidur.
"Apa Tuan akan menceraikanKu dan membuangKu setelah ini" ucap Gisel dengan mata berkaca kaca.
Aldo mengerytkan dan sedikit menunduk memandan ke arah Gisl.
__ADS_1
"Maksud kamu?" ucap Aldo yang tidak mengerti ucapan dari Gisel.
"Apa Tuan Akan membuangKu sama seperti orang TuaKu membuangku ketika Ibu Elin sudah sepenuhnya sembuh" ucap Gisel mencoba menggeser kepalanya dari dada bidang Aldo.
"Tetaplah disitu" ucap Aldo menarik kembali kepala gisel ke posisi semula.
Aldo menarik napas panjam dan menghempaskanya begitu lembut.
"Tetaplah disini! Aku akan terus menjagaMu dan jangan sesekali mencoba untuk pergi dariKu! Kau paham itu" ucap Aldo sambil mrmbelai lembut pucuk kepala Gisel.
Gisel mengangguk pelan dan mengeratkan pelukanya ke tubuh Aldo .
"Tidurlah Aku akan menjagaMu dan Kau tak usah takut apa yang akan terjadi kedepanya karna ada Aku yang selalu ada untuk melindungiMu" ucap Aldo sambil membelai rambut panjang milik Gisel.
Gisel mencoba memejamkan mata tanpa terasa kini dirinya sudah terlelap dalam mimpi indanya .
Aldo kemudian meletakkan kepala Gisel datas bantal dengan sangat lembut.
"Tidurlah...! jangan mengingat lagi hal buruk yang selama ini menghantuiMu! Karna Aku akan selalu ada bersamaMu apapun yang terjadi nantinya" ucap Aldo sambil mencium pucuk kepala milik gisel.
Pagi pun tiba matahari menampakkan wajahnya diufuk timur. Suara burung burung saling bersautan menyambut sang sang surya menyinari mayapada.
Sinarnya merambat masuk melalui pentilasi udara membuat penghuni kamar itu sedikit demi sedikit membuka matanya.
"Umm...." suara Gisel khas orang yang baru terjaga dari tidurnya.
Tapi tiba tiba matanya terbelak ketika melihat siapa yang berada di bawahnya saat ini.
Ternyata Aldo membaringkan tubuh kecil Gisel di atas tubuh besarnya dan memeluknya seperti sedang memeluk bantal Guling.
"Tuan apa yang Anda lakukan" ucap Gisel sembari merontah agar terlepas dari pelukan Aldo tapi sayang tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Aldo.
"Apaan si pagi pagi sudah seperi pasar" ucap Aldo pura pura kesal padahal sedari tadi Ia sudah terjaga.
__ADS_1
"Tuan lepaskan pelukanya! Saya mau bangun" ucap Gisel masih terus merontah.
"Boleh tapi ada satu syarat" ucap Aldo dengan senyum penuh Arti.
"Syarat..?" Ucap Gisel singkat.
"Iya ! Syarat...." balas Aldo .
"Apa syaratnya ..." ucap Gisel penasaran.
Aldo tersenyum tipis dan memanyunkan bibirnya kearah Gisel.
"Tidak ..tidak..! kita belum sikat Gigi" ucap Gisel menggeleng geleng kepalanya.
"Berarti kalau sudah sikat Gigi boleh dong" ucap Aldo memandang lekat kearah Gisel.
Gisel tak bisa menjawab sama sekali! sebenarnya ucapannya yang tadi hanya untuk menghindari supaya Aldo menghentika Niatnya untuk di cium ternyata jadi bumerang baginya.
Aldo yang melihat Gisel hanya terdiam tiba tiba mendekatkan bibirnya kearah bibir Gisel.
Gisel yang mendapat serangan tiba tiba tontak menganga dan membuat peluang besar untuk Aldo melanjutkan niat awalnya.
Aldo begitu rakus melum4t bibir mungil itu, seakan akan sudah menjadi candu yang memabukkan baginya.
"Uumm ...lepaskan" ucap Gisel ngos ngosan
sambil mendorong kasar tubuh Aldo karna oksigen dalam tubuhnya sudah hampir habis.
Aldo tekekekeke melihat tingkah Gisel yang menghirup banyak udara kemudian menghempaskanya kembali.
"Makanya mari Aku ajari " ucap Aldo ingin meraih tangan Gisel tapi segera Gisel tepis.
"Gak ......." ucap Gisel sambil berlari memasuki kamar mandi.
__ADS_1
👉tetap beri like ,vote ,coment dan favorite ya makasih.