ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
130. PANTI ASUHAN KASIH IBU.


__ADS_3

Lina terus membuntuti motor yang di kendarai Jony. Makin laju Jony mengendarai kendaraannya makin laju pula Lina membututinya dari belakang.


Tidak lama kemudian motor yang di tumpangi Jony berbelok masuk ke sebuah gedung yang ukuranya lumayan besar dengan halaman begitu asri dan di tumbuhi berbagai macam janis tanaman bunga tumbuh subur di dalamnya.


"YAYASAN PANTIH ASUHAN KASIH IBU" seperti itulah tertulis di depan bangunan itu.


" Stop dulu Mba Lin, Kita awasi dia dari sini saja untuk sementara waktu" ucap Melly menepuk punggung Lina.


"Baiklah pelangganKu, sesuai dengan keinginanmu" balas Lina menghentikan kendaraanya di depan pintu gerban bagunan yang dimasuki Jony.


Setelah Jony turun dari motor sportnya dan melangkah masuk dalam gedung itu, Melly dan Lina turun dari atas motor dan masuk mengikuti kemana arah Jony melangkah.


Jony terus memasuki gedung itu dan berhenti di sebuah ruangan besar semacam Aula. Jony berdiri di depan pintu dan kemudian ia mengetuk daun pintu ruangan tersebut sembari mengucap salam.


Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan beberapa anak panti berhamburan keluar setelah melihat kedatangan Jony.


"Ayah ..." teriak Anak panti sambil berlari memeluk Jony yang saat itu berjongkok dan membentangkan kedua tanganya.


Mata Melly melotot setelah mendengar anak-anak tersebut memanggil Jony dengan sebutan Ayah.


"Ayah ...,Apa kura kura ninja itu punya anak sebanyak itu" ucap Melly sambil menutup mulutnya dengan telapak tanganya.


Bluk.......


Sebuah pukulan tiba-tiba melayang di pundaknya.


"Bodoh...tak mungkinlah pria muda sepertinya memiliki anak sebanyak itu. Memang ya, kalau otak jarang dibawa." ucap Lina sambil memukuli pindak Melly.


"Apaan si Mba Lin, sakit tahu. Terus kalau bukan Anak-Anaknya kenap sampai Anak-anak itu memanggil sekretaris Jony dengan sebutan Ayah coba.!"ucap Melly sambil memandangi Lina yang sekarang ini berdiri di samping kirinya.


"Astaga ini Anak, Itu cuman kata kiasan. Mungkin sekretaris itu sudah akrab dengan mereka dan Anak-anak itu sudah merasa nyaman dengannya, makanya anak-anak itu menganggapnya sebagai Ayah mereka walau tidak ada ikatan darah sama sekali. Kamu paham tidak." ucap Lina sedikit menjelaskan pada Melly.


"Oh seperti itu, ternyata sekertaris itu juga memiliki sisi baik yang jarang orang mengetahuinya." balas Melly yang terus memandangi Jony merangkul anak-anak panti satu persatu.


"Kamu ini, sejahat-jahatnya manusia pasti ada sisi baiknya tahu" ucap Lina sambil ikut memandang kearah Jony.


Sementara itu, Jony yang sudah memberi pelukan hangat pada Anak-anak panti kemudian berdiri dan melangkah masuk kedalam ruangan besar itu.


Jony kemudian duduk diatas Kursi dan membuka tas rangsel yang sedari tadi dia bawa.

__ADS_1


"Ayah bawa oleh-oleh buat kalian! tapi kalian jangan rebutan. Ayah pastikan Setiap orang dapat satu oke.!" ucap Jony sambil mengeluarkan isi dalam rangselnya.


"Oke, Ayah." ucap Mereka secara bersamaan sembari berjejer rapi di depan Jony.


Jony kemudian memanggil nama mereka satu persatu sembari memberikan sebuah bingkisan kecil yang sudah dihiasi sedemikian rupa.


Tidak lama kemudian semua bingkisan yang ada di tangan Jony sudah habis ia bagikan kepada anak-anak panti.


"Nah, Karna kalian sudah mendapatkan bingkisan dari Ayah maka kembalilah belajar seperti semulah." ucap Jony menatapi mereka satu persatu.


"Baik Ayah dan trimah kasih." ucap Mereka bersamaan dan kembali keposisi mereka seperi sediakala sebelum Jony datang ditempat itu.


"Sama-sama sayang." balas Jony sembari tersenyum.


Lama Jony terduduk disana. Kenangan-kenang masa lalunya, sewaktu ia masih tinggal di panti terputar kembali.


Sesekali bibir pria tampan itu tersenyum dan tidak sedikit pula raut wajahnya berubah menjadi suram.


Entalah apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu pada pria itu.


Tidak lama kemudian, seorang perempuan parubaya datang dari arah pintu sambil memberikan senyuman manis kearah Jony.


"Ah.., Ibu Yati ini ada-ada saja! Aku tidak perlu sambutan-sambutan seperti yang Ibu Yati katakan tadi. Sudah melihat mereka tersenyum hati Aku sudah merasa senang." balas Jony sambil mengarakah padanganya kearah Anak -anak panti yang sedang asyik belajar.


"Tuan Jony memang orang baik dan juga rendah hati. Diantara ribuan orang kaya yang ada di kota ini hanya Anda dan Tuan Aldo sajalah yang selalu memperhatikan nasib Anak-anak. Andai tidak ada kalian berdua, mungkin nasib mereka tidak seberuntung sekarang ini. Sekali lagi terimah kasih." ucap Ibu Yati berdiri sambil menindukkan kepalanya kepada Jony.


"Sudalah Bu, Ibu tidak usah seperti ini. Selagi Aku mampu, Aku akan terus membatu semampu Aku. Lagian Ibu tahu sendiri, Aku juga dulu sama dengan mereka hidup dan besar di panti. Andaikan tidak ada Tuan Aldo mengankat derajatku, mungkin saat ini Aku masih di panti ini bersama dengan mereka." ucap Jony pada Ibu Yati.


Keduanya pun terdiam dan memandangi aktifitas belajarAnak-anak yang ada di hadapan mereka.


Sementara itu, Melly dan Lina yang masih asyik bersembunyi ikut terharu mendengar percakapan mereka berdua.


"Sungguh baik sekertaris itu. Walau ia agak menyebalkan tapi, hatinya begitu lembut, selembut sutra" ucap Melly sedikit menjinjikan Kakinya mengintip dari arah kaca trasparan.


"Jangan bilang kalau Kamu sudah jatuh cinta dengan Sekertaris Tuan Aldo." ucap Lina menatap kearah Melly.


"Kalau ia kenapa? apa Kamu juga menyukainya.?" balas Melly pada Lina.


"Ide bukan tipe Que kali." balas Lina sedikit sewot.

__ADS_1


"Oh maaf .., Tipe kamu Kan Labaddu satpam di Mension Tuan Aldo yang kumisan itu bukan?." ucap Melly asal yang membut Lina menggelitiknya perutnya hingga Melly tertawa sakin gelinya.


"Ha ..ha ..ha.. .ampun mba....ampun" Melly tertawa sembari menghindari gelitikan Lina.


"Sekali lagi kamu menjodohkanku dengan dia awas" ucap Lina sambil mengepalkan tanganya kearah Melly.


Tidak lama kemudian dari dalam ruangan, tampak Jony berdiri sembari memberikan dua buah Amplop berwarna putih kepada Ibu Yati.


"Bu ini ada sedikit rezeki buat Ibu dan anak-anak panti dari Tuan Aldo dan juga dari Aku pribadi, Semoga sedikit dapat membatu kebutuhan Ibu dan anak anak disini."ucap Jony sembari menyodorkan amplop ke tangan Ibu Yati.


"Trimah kasih banyak Tuan Jony dan tolong sampaikan juga rasa terimah kasih kami pada Tuan Aldo" balas Ibu Yati mengambil dua buah amplop yang di sodorkan Jony padanya.


"Sama-sama Bu, nanti Aku sampaikan pada Tuan Aldo." balas Jony.


Setelah berpaminatan dengan Ibu kepala dan anak-anak panti, Jony pun melangkah menuju pintu keluar.


Melihat pergerakan dari Jony, Melly dan Lina berlari bersembunyi disebuah ruangan kecil tak jauh dari ruangan tempat Jony, Ibu Yati dan anak-anak panti berada saat ini.


Keduanya hanya terdiam di dalam sana sambil terus mendengarkan jejak langkah Jony yang makin lama makin menghilang.


"Ayo kita keluar sekertaris Jony pasti sudah pulang" ucap Melly mengajak Lina keluar dari ruangan itu.


Lina hanya mengangguk tanda setuju.


Tapi belum juga Melly menarik gagang pintu tiba-tiba pintu tersebut terbuka dan tampak Ibu Yati berdiri disana.


"Siapa kalian! dan kenapa bisa kalian berdua ada diruangan Ini.?" ucap Ibu Yati menatapi mereka berdua.


catata : Untuk bulan depan Author akan memberi pulsa bagi tiga reader yang votenya paling banya di novel ini.(untuk bulan 11 dan terbaca di bulan 12).


untuk pemenang pertama 75 ribuh


untuk pemenang kedua 50 ribuh


dan pemenang ke tiga juga 50 ribuh


Jadi sekaran author yang akan memberi pada reader sakin cintanya Author dan tanda terimah kasih Author pada kalian semua. Jadilah, mulai berlomba lomba beri vote yang banyak dan menangkan hadianya bulan depan Oke..Author hitung mulai dari sekarang . 1 , 2 , 3......


đŸ‘‰terus beri vote, like, coment dan rate bintang limanya ya trimah kasih.

__ADS_1


__ADS_2