ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
120. PEMERAH PIPI


__ADS_3

Tidak lama kemudian. Ke empatnya sudah berada dalam mobil. Gisel, Melly dan Rindu diduk di belankang sementara Jony duduk di depan.


Rindu sebenarnya canggung untuk menaik mobil mewah tersebut, tapi karna Gisel dan Melly terus saja memaksanya, terpaksa Rindu mau tidak mau harus ikut juga dengan mereka. Maklumlah seumuur umur dirinya belum pernah menaiki mobil mewah seperti yang di naikinya saat ini. Jangankan menaiki membayangkan saja baginya mungkin sudah Jauh.


"Sell ini mobil Kamu ya! mewah benar,?" ucap Rindu sambil mengusap usap punggung tempat duduk yang sedang Ia sandari sekarang ini.


Gisel yang sedang fokus memandang kearah kedepan saat itu, segera berpaling kearah Rindu yang sedang duduk ditengah tengah mereka.


"Ini mobil punya bapaknya anak anak" ucap Gisel sekenanya hingga membuat Rindu melipat tujuh dahinya.


"Kamu udah Nikah Sell,?" ucap Rindu sedikit kaget.


"Iya..! Dia ini Nyonya besar, Istri dari pemilik perusahaan terbesar di kota kita ini, dan juga Hotel tempat Kamu bekerja" ucap Melly memotong pembicaraan mereka.


Ucapan Melly, lagi lagi membuat mata Rindu jelalatan, tapi bukan cuma matanya kali ini yang ikut merasa kaget, tapi rahangnya juga ikut ikutan merasa tersentak lantaran kagetnya.


"Apa Kamu Istri Tuan Aldo, yang tampan, keren, kaya, tersohor itu ,!" ucap Rindu sembari melototkan matanya kearah Gisel.


"Iya..! Dia itu suamiKu tapi ini rahasia ya. Kamu jangan bagi tahu ke orang orang sebelum semua rencanaKu berhasil," ucap Gisel.


"Iya Aku janji Nyonya. Tolong maafkan Saya bila selama ini Saya tidak sopan kepada Anda," ucap Rindu sambil menundukkan kepalanya kearah Gisel.


"Isst...lebay de! Gak usah Saya Saya'an gitu. Santai saja seperti sebelum sebebelumnya. To lagian bukan Aku yang kaya tapi SuamiKu"balas Gisel sedikit risih dengan ucapan dan tingkah Rindu yang begitu hormat padanya.


"Iya baiklah Nyonya...ups Sell, " ucap Rindu tersenyum manis pada Gisel.


"Gitu dong..,!" ucap Gisel memeluk Rindu.


Jony yang asyik menyetir mobil sambil mendengarkan perbincangan tiga wanita yang sedang duduk di belakanya saat itu.


Dia begitu takjum mendengan tutur kata Gisel yang menurutnya luar biasa. Sudah menjadi Nyonya besar, Kaya dan memiliki suami tampan dan tersohor tapi tetap saja rendah hati dan tidak memandang dengan siapa Ia bergaul.


"Oh ..TuhanKu, berikanlah juga Aku wanita sebaik dan secantik Nyonya ..Aamiin" Doa Jony dalam hati.


Setelah mengantar Melly dan Rindu ke rumah mereka masing masing. kini tinggal Gisel dan Aldo yang sekarang berada dalam mobil.


Mobil yang di kemudikan Jony melaju dengan kecepatan sedang.


"Jo sebenarnya apa yang terjadi tadi di restaurant itu! Kenapa tiba tiba dua wanita itu memanggil Rindu dengan sebutan Kepala pelayan,?" ucap Gisel kepada Jony yang masih asyik mengemudikan mobilnya.


Jony sedikit mengalihkan pandanganya kearah Gisel, tapi hanya sepersekian detik saja dan kembali fokus mengemudikan mobilnya.


"Tadi, kedua wanita itu menghina Nona Rindu, karna melihat dari pakaian yang Ia gunakan. kata mereka, Nona Rindu tidak layak duduk atau makan di restaurant mahal. Dan parahnya lagi kedua wanita sombong itu hampir saja menyeretnya keluar dari restaurant. Untungnya Saya cepat tiba di tempat itu, kalau tidak, mungkin kedua wanita tak beradab itu sudah menyeretnya seperi kerbau keluar dari restaurant!" ucap Jony menjelaskan kejadian sebenar di restaurant.


"Astaga! setega itu kah mereka pada Rindu sahabatKu! apakah orang orang sombong seperti mereka itu tidak menyadari betapa terlukanya orang yang mereka "zalimi". Terus Kamu yang mengangkat Rindu sebagai kepala pelayan,?"ucap Gisel lagi.


Jony tidak menjawab Ia hanya mengangguk pelan tanda membenarkan ucapan dari Gisel.

__ADS_1


"Sekretaris Jo, besok kamu belikan pakaian bagus dan terbaik buat Rindu dan Melly. kemudian kirimkan kerumah mereka masing masing. Tapi jangan sampai mereka tahu kalau itu dari Aku. Soal ukuran baju mereka ntar Aku kirim lewat SMS saja. dan, mengenai Uangnya Aku trasfer ke nomor rekening kamu, Oke" ucap Gisel lagi pada Jony.


"Baik Nyonya, sesuai dengan keinginan Nyoya" balas Jony tanpa melihat kearah Gisel.


Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah berada di depan pintu gerban Mension.


Setelah La' baddu membukakan mereka pintu. kembali Jony menjalankan mobilnya lebih masuk lagi kedalam gedung megah itu.


Gisel keluar dari dalam mobil setelah sebelumnya Jony membukakan pintu untuknya.


"Trimah kasih Jo" ucap Gisel sambil mempercepat langkahnya menuju arah pintu Mension.


Tetapi belum juga Gisel menari gagang pintu, Bi surti sudah terlebih dulu membuka pintu, untuk menyambut kedatanganya.


"Selamat malam Nyonya,!" ucap Bi Surti sambil menundukkan kepalanya.


"Malam Bi'! Tuan ada dimana,?" balas Gisel sambil mengarahkan pandangannya kesetiap penjuru bangunan Mension mencari keberadaan Aldo.


"Tuan ada di dalam bilik! tadi Bibi lihat beliau sagat gelisah menunggu kedatangan Nyonya, " jawab Bi Surti .


"Astaga ! trimah Kasih informasinya Bi. Bibi boleh istrihat sekarang, tak baik buat kesehatan Bibi, jika Bibi sering begadang seperti ini" balas Gisel menepuk punggung Bi surti dan berjalan tergesah gesah menuju bilik kamarnya.


Gisel terus melangkah. Ada rasa bersalah dalam hatinya telah membuat Aldo masuk dalam perangkat Dewi.


Setelah tiba di depan pintu kamar. Gisel menarik pelan pelan gagang pintu dan mendorongnya dengan sangat hati hati sekali.


Gisel mendekat dan duduk di sudut pembaringan sambil mengantung kakinya begitu saja tanpa menyentuh lantai.


Wajah Aldo terlihat merah di tambah lampu ruangan yang remang reman membuat wajah pria tampan itu terlihat seram.


"Kenapa wajahnya bisa semerah ini! apa obat perangsang itu masih aktif dalam tubuhnya,?" ucap Gisel sambil membelai wajah suaminya.


Tidak lama kemudian, Aldo pelan pelan membuka matanya dengan tatapan tidak seperti biasanya.


"Yang Kamu sudah pulang! Tolong Kanda, Kanda sudah tidak kuat lagi,!" ucap Aldo dengan tatapan kosong sambil menggenggam kedua tangan istrinya.


"Iya Sayang! Kamu diam saja, ya?,.


Aldo mengangguk pelan tanda kalau dia setuju dengan Ide istrinya.


Pagi harinya, Gisel terbangun terlebih dulu untuk membereskan sisa sisa pertempuran mereka semalam.


Setelah semuanya beres Gisel masuk dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. tak lama kemudia wanita cantik itu keluar dalam bilik kamar mandi dengan berpakaian lengkap.


Gisel duduk di depan lemari Rias sambil menyisir rambutnya yang masih terlihat basah.


Tidak lama kemudia Aldo bangun sambil bersiul merdu dan langsung masuk dalam bilik kamar mandi, tanpa menyapa istrinya terlebih dulu seperti biasa yang rutin Ia lakukan.

__ADS_1


Gisel merasa heran tapi Ah masa bodoh. Gisel bangkit dari tempat duduknya dan mengumpulkan semua baju kotor Aldo yang semalam Aldo pake dan membawanya ke keranjang pakaian kotor yang ada dalam bilik itu.


Tapi, belum juga Gisel memasukkan baju kotor Milik Aldo dalam keranjang, tiba tiba Sebuah botol kecil terbuat dari plastik jatuh dari saku celana Aldo.


Gisel memasukkan semua baju kotor Aldo kedalam keranjang lalu mengambil botol kecil yang tergeletak diatas lantai.


"ANTI RACUN DAN RANGSANGAN ?" Gisel membaca tulisan yang melekat pada botol kecil tersebut.


Tidak lama kemudian, ketukan pintu terdengar dua kali dari luar kamar.


Gisel melangkah menuju pintu dan menarik gagang pintu tersebut.


"Ibu .." ucap Gisel


"Pagi sayang....,!" ucap Elin tersenyum


"Pagi Bu...," balas Gisel membalas senyuman Elin.


"Ibu Mau mengambil pemerah pipi yang semalam kamu pinjam," ucap Elin


"Pemerah pipi semalam Aku pinjam,?" ucap Gisel mengeryitkan dahinya.


"Iya sayang! Kata Aldo, kamu menyuruhnya meminjam pemerah pipi pada Ibu" balas elin


Gisel hanya terdiam sambil berpikir keras mengingat semua kejadian dari pagi sampai malam.


"Sudahlah Nak kalau kamu lupa! terus Aldonya mana,?" tanya Elin lagi.


"Aldonya lagi mandi Bu! apa perlu Gisel panggilin,?" ucap Gisel.


"Tidak usah Nak, nanti saja setelah Aldo selesai mandi Ibu kembali lagi! bye..." ucap Elin memutar tubuhnya dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


Gisel terus berpikir dengan semua kejadian aneh pagi ini yang membuatnya harus memeras otak lebih.


"Anti racun dan perangsang!, pemerah pipi," hanya itu yang terucap berkali kali dari mulut Gisel hingga ...


Sementar itu Aldo yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya terbelalak tak kala membuka pintu kamar mandi dan melihat tiga keranjang pakaian kotor sudah tergeletak diatas lantai tepat di depan pintu kamar mandi dan mendapati Gisel berdiri disitu sambil memegang botol kecil dan pemerah pipi.


Aldo tersenyum manis lalu memperlihatkan deretan gigi putihnya kearah Gisel.


Bukanya membalas senyum, Gisel malah memplototkan matanya seakan akan ingin menelan mentah- mentah tubuh Aldo.


"Iya maaf! sebagai perminta maaf kanda, kanda akan mencuci ini semua" ucap Aldo mengaruki kepalanya lalu mengambil tiga keranjang berisi pakaian kotornya dan membawahnya masuk kedalam bilik kamar mandi.


catatan: Author akan terus update tiap hari kecuali hari minggu dan betul betul ada halangan. tapi waktu tidak menentu karna Author bekerja di kebun bantu ortu...trimah kasih.


đŸ‘‰terus bagi like, coment , vote dan rate bintang limanya ya ...trimah kasih...

__ADS_1


__ADS_2