ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
162. RUANG LAPAS.


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Elin mereka berempat pun meninggalkan mension menggunakan mobil sport milik Aldo.


Aldo duduk di depat menyetir mobilnya sementara Gisel dan kedua putranya duduk di belakang kursi penumpang.


Sebenarnya maunya Aldo, salah seorang dari mereka bertiga itu menemaninya di depan, karna Aldo tidak mau orang -orang menganggap dirinya supir pribadi.


Ya itu lagi! dimana pun Gisel berada, pasti kedua putranya akan selalu lengket seperti perangko yang kadang membuat Aldo geleng-geleng kepala sendiri.


Kenapa tidak! berdua-duan bersama Gisel kini sudah jarang mereka lakukan lantara kedua jagoan mereka itu selalu ada dimana pun Gisel berada. Kecuali malam hari atau saat mereka lagi tidur siang.


Suasana dalam mobil tidak perna sunyi selama perjalanan mereka menuju Lapas dimana Hambali sedang mempertanggung jawabkan perbuatanya.


Ada-ada saja yang dilakukan kedua bocah itu supaya suasana selama perjalanan menuju lapas tidak terasa membosankan.


"Ade, kalau kamu besar mau masuk apa?" ucap Zaki pada Ziko yang berada di samping kiri Ibu sedangkan ia sendiri berada di samping kanan Ibunya.


"Mau masuk syurga dong! masa mau masuk neraka." balas Ziko cuek sembari memeluk tubuh Gisel.


Aldo dan Gisel sontak tertawa mendengar jawaban sibungsu.


"Ziko sayang! maksud kakak itu bila kamu dewasa nanti kamu mau jadi apa?." ucap Gisel membelai pucuk kepala Ziko.


Ziko melepas pelukanya pada Ibunya kemudian menatapnya.


" Kalau besar nanti Ziko mau menjadi seperti Ayah. Bos yang di segani oleh semua orang dan memiliki karisma yang membuat musuh-musuh akan berpikir dua kali untuk mengusiknya." ucap Ziko yang masih sedikit belepotan tapi dengan wajah yang cukup serius menanggapi pertanyaan ibunya.


"Na Ayah sangat setuju. Ada banyak hal yang belum kalian ketahui sepenuhnya tetang Ayah selain yang sebutkan Ziko tadi." ucap Aldo sembari tersenyum memandang ketiganya melalui kaca spion dalam mobil.


"Apa itu Ayah?." balas Zaki begitu penasaran sedangkan Ziko biasa saja.


"Baiklah Akan aku katakan pada kalian bertiga." ucap Aldo kembali tersenyum sedangkan Gisel mengalihkan pandanganya keduar melalui Jendela mobil.


Gisel sangat tahu ujung-ujung dari perkataan Aldo itu apa.


"Baiklalah-baiklah Ayah akan mulai. Selain yang di sebukkan Adikmu tadi, Ayah kalian ini disegani karna ketampananya, kekayaanya serta nama ayah tersohor dimana-mana dan ada satu lagi rahasia yang perlu kalian tahu mengenai Ayah yaitu, Ayah kalian ini adalah seorang ....


" ucap Aldo seketika terhenti karna perkataannya langsung terpotong oleh ketiga orang di belangnya itu.


"Ayah yang lebay dan narsis bukan?." ucapa Gisel, Zaki dan Ziko bersamaan sambil terbahak- bahak membuat Aldo menggaruki kepalanya sendiri.


Bukanya mendapatkan sanjungan dari kedua putranya malah Aldo harus malu sendiri karena ucapanya.


Mengalahkan ketiga orang itu lebih sulit bagi Aldo dari pada memenangkan tender bermilyar-milyar jumlahnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi pun sudah masuk kedalam lapas kelas tiga yang ada di kota itu.


Setelah sebelumnya mereka melakukan laporan terlebih dulu di pos penjaga.


Aldo memarkirkan mobil sportnya ke tempak parkir yang sudah disediakan oleh pihak lapas.


Mereka berempat pun keluar dari dalam mobil.


Aldo mengendong kedua purtanya. Zaki di tangan kirinya sedangkan Ziko si bungsu di tangan kananya.


Mereka terus melangkah memasuki gedung lapas.


Para staf yang bertugas saat itu seketika berdiri setelah melihat kedatangan mereka berempat.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya." ucap Kepala lapas yang sedikit ngos-ngosan sehabis berlari kecil mendekat kearah mereka.


"Pagi." Jawab Aldo singkat.


"Pak! Apa kami boleh menjeguk Ayah!." ucap Gisel.


"Tentu saja Nyonya!. Silahkan ikut Saya biar Saya menemani kalian menemui Beliau." ucap kepala lapas mepersilakan mereka menuju sebuah ruanga yang khusus di peruntuk untuk para penjeguk menemui narapidana agar mereka leluasa dalam mengobrol tapi masih dalam pantauan pihak lapas.


Tidak lama kemudian mereka pun tiba disebuah ruang yang cukup besar. Ada beberapa pengunjung yang juga berada dalam ruangan itu untuk menemui keluarga mereka yang masih dalam masa pembinaan di rutam itu.


Kepala lapas membawa mereka lebih kedalam yang sedikit jauh dari pintu masuk.


Dari ujung sana, tampak Hambali sedang duduk di sebuah kursi panjang di temani sesorang perempuan parubaya yang sudah tidak asing lagi bagi Gisel dan Aldo.


"Na! Tuan, dan Nyonya, itu pak Hambalinya. Silahkan Anda menemuinya mumpun beliau juga lagi kedatangan tamu." ucap Kepala lapas menunjuk kearah Hambali.


"Trima kasih pak atas bantuanya." balas Gisel tersenyum kearah pria yang memiliki badan tegak tapi lumayan seram karena memiliki kumis yang tebal.


Pak Kepala lapas hanya tersenyum sembari meninggalkan mereka di tempat itu.


Kembali Aldo dan Gisel melanjutkan langkah mereka mendekat kearah Hambali yang saat itu sedang mengobrol dengan tamunya.


"Kakek....." ucap Zaki dan Ziko berlari setelah turunkan dari Aldo gendonganya.


Hambali seketika tersenyum melihat kedua bocah yang sedang berlari kecil mendekatinya. Hambali berlutut di atas lantai dan membentangkan kedua tanganya untuk menyambut kedua cucu kesayanganya itu.


"Zaki, Ziko....cucu tampan kakek." ucap Hambali sembari memeluk kedua bocah itu lalu mendaratkan ciumanya ke pipi Zaki dan Ziko secara bergantian.


"Kakek sehat.....!." ucap Ziko sembari memegangi wajah Hambali dengan kedua tangan kecilnya.

__ADS_1


"Sehat dong sayang....kalian sendiri sehat tidak!" ucap Hambali memandang mereka secara bergantian.


"Sehat dong kek ..kalau sakit mana mungkin kami di sini! Ah kakek ini rada-rada aneh. Makanya jangan lama-lama disini dong cepat keluar dari kurungan ini supaya kami bisa bermain setiap hari dengan kakek. Zaki akan menunjukkan bakat terpendam Zaki pada kakek." ucap Zaki sembari memperhatikan dengan seksama wajah Hambali dari kiri dan kanan.


"Zaki..." ucap Gisel yang sudah tau maksud terselubung dari putra sulungnya.


"Iya Bunda! Hah gagal lagi de." gerutuh Zaki sembari menggaruki kepala bagian belakanya.


Hambali kembali duduk atas kursi seperti tadi dan tak lupa mendudukkan kedua cucunya di masing-masing pahanya. Zaki di paha kirinya sedangkan Ziko di paha kananya.


Aldo dan Gisel ikut duduk di kursi kosong yang sengaja di siapkan untuk para penjeguk.


"Nyonya Gisel, Selamat siang." ucap Seorang perempuan parubaya sedikit menundukkan kepalanya.


"Selamat siang Bi Nining." balas Gisel tersenyum tapi hatinya masih bertanya-tanya dengan keberaan Bi Nining di tempat itu.


"Maafkan Saya Nyonya kalau Saya lancang menemui Tuan dan membawakan makanan setiap harinya untuk beliau tanpa sepengetahuan Nyonya." ucap Bi Nining yang masih tertunduk di hadapan Gisel.


"Tidak apa-apa Bi. Gisel malah bersyukur ada yang memperhatikan Ayah selain kami anaknya." ucap Gisel menepuk lembut pundak Bi Nining.


"Trima kasih Nyonya atas pengertianya. Sebenarnya ini adalah amanah Nyonya Diana. Beliau berpesan kepada Bibi agar terus menjaga kalian setelah beliau meninggal. Karna Nyonya sudah ada Tuan Aldo yang menjaga maka, Saya fokus menjaga Tuan." ucap Bi Nining sedikit gemetar.


"Jadi Bibi setiap hari kemari untuk membawa makanan buat Ayah!. Terus makanan yang tiap hari Gisel kirim ke Ayah, Ayah di kemanain?." ucap Gisel menatap keara Hambali.


Sebelum menjawab Hambali tersenyum terlebih dulu.


"Ayah makan sebagian sisanya Ayah bagi-bagi ke teman-teman Ayah." ucap Hambali yang masih terus tersenyum.


"Terus bekal dari Bibi Ayah kemanain." ucap Gisel sembari mengeryitkan dahinya.


"Ayah simpan untuk makan siang. Masa bekal calon istri dikasih ke orang lain sih!." ucap Hambali sembari tersenyum kearah Bi Nining yang tersipu malu mendengar ucapannya.


Gisel dan Aldo sontak saling memandang tidak lama kemudian mereka berdua tersenyum-senyum geli.


"Apa kakek mau menjaga Bibi Nining seperti Ayah dan Ibu menjaga kami berdua?." ucap Zaki menatap kearah Hambali.


"Tentu dong sayang. Kakek akan menjaga Nenek Ninik seperti Ayah dan ibu kalian menjaga kalian berdua." ucap Hambali juga menatap Zaki.


"Cius, Kakek mau jaga Nenek Nining! sedangkan Ziko lihat, menjaga diri kakek sendiri saja Ziko masih ragu, apa lagi menjaga orang lain. Takutnya ni ya malah Nenek Nining yang jagain Kakek ..." ucap Ziko dengan gaya bicara biasa saja tapi kadang membuat hati gemes mendengarnya.


"Apa kamu bilang! Rasain ini ...". ucap Hambali sambari mendaratkan ciumanya diseluruh tubuh Ziko hingga membuat bocah itu terbahak-bahak sakin gelinya mendapat perlakuan seperti itu dari kakeknya.


"Iya ampun kek! Ziko percaya ..Ziko percaya." ucap Ziko sambil terus terbahak hingga membuat orang-orang disana ikut terbahak melihat keakrapan kakek dan cucu itu.

__ADS_1


👉 Terus vote ya karna tinggan 2 hari lagi. menangkan pulsa dari Author sebesar 50 ribuh untuk lima readers yang memiliki vote terbanyak......jangan lupa like, comentnya ya ..makasih.


__ADS_2