ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
147. RENCANA KEDUA RUBAH.


__ADS_3

Sementara itu Tina dan Dewi pulang menggunakan mobil mewah yang di kemudikan langsung oleh Tina.


Dewi yang duduk d samping kirinya sedang termenung kearah jendela mobil yang terbuat dari kaca trasparan sambil memandanggi hiruk pikuknya keramaian kota dan deretan bangunan mewah serta pertekoan yang berdiri kokoh di sepanjang jalan yang mereka lalui.


"Dewi kenapa Kamu hanya diam saja seperti orang yang sedang memikirpikir sesuatu yang rumit. Jangan bilang kalau kamu tidak ingin membatu Mama dalam merebut harta milik Diana dari tangan Hambali." ucap Tina memandang kearah Dewi dalam hitungan persekian detik dan kembali fokus mengemudikan kendaraanya.


"Bukan itu masalahnya Mam!. Dewi hanya berpikirir dengan rangkaian peristiwa yang selama ini terjadi." ucap Dewi tanpa mengalihkan pandanganya kearah Tina.


Tina sedikit mengeryitkan dahinya. Wanita parubaya itu melepas kaca matanya dan meletakkanya di depan stir mobil.


"Maksud Kamu apa Dewi dengan rangksian peristiwa yang selama ini terjadi!. Apa ini ada hubunganya dengan Gisel anak brens3k itu?." tanya Tina yang masih terus fikus mengemudikan kendaraanya.

__ADS_1


"Betul Mam. Coba Mama ingat-ingat dulu semua pertiwa sebelum Gisel meninggalkan rumah. Semua keinginan Dewi dan juga keinginan Mama bisa dengan mudah kita dapatkan. Setiap event dan perlombaan model pastii Dewilah pemenangnya. Tapi setelah Gisel meninggalkan rumah, hanya hitungan bulan saja perubahan besar terjadi pada dirinya. Perlombaan model saat itu dengan mudah ia menangkan. Gisel mulai berani melawan Mama saat berada di gedung pemotretan. Dan satu lagi pakain mewah yang sering Gisel gunakan sangat mengundang kecurigaan bagi Dewi. Jangan-jangan Tuan Aldolah yang ada belakang semua itu. Aldo tidak terjun langsung membatu Gisel memporak-porandakan keluarga kita, Tuan Aldo berperan sebagai sutradara mengontrol semua peristiwa yang menyangkut masalah Gisel sehingga dengan mudahnya Gisel mengalahkan kita." ujar Dewi panjang lebar merangkai semua kejadian yang cukup menjanggal.


"Betul juga kata-katamu! jangan-jangan Aldo sudah menyelidiki semua rencana kita. Coba ingat- ingat lagi peristiwa di Hotel itu!. Rencana yang sudah tersusun rapi dengan mudahnya Aldo lolos dari jebakan kita. Aldo sudah tahu lari kemana nantinya semua pergerakan rencana kita. Yang kedua pemenang tender yang menguras habis setengah dari kekayaan Hambali jangan-jangan Aldo juga yang berdiri di belakan si sial itu." ucap Tina dengan raut wajah yang sangat serius.


"Kalau begitu Mam. Kita tidak usah berurusan lagi dengan Gisel, karna tidak menutup kemungkinan, Aldo akan terus membatunya. bukanya Gisel yang akan sengsara malah kitalah yang akan kena dampaknya, karena Tuan Aldo tidak akan membiarkan orang-orang menyakiti miliknya." ucap Dewi yang sudah mulai putus asa.


Lama Tina berpikir, semua yang diucapkan Dewi memang logik adanya. Menyakiti orang di sekeling Aldo sama dengan menyakiti si Arogant itu. Kalau tidak ingin celaka maka jangan coba-coba berurusan denganya.


"Mama kenapa tertawa dan senyum-senyum sendiri seperti orang Gila. Jangan bilang kalau Mama kesembet roh Diana yang tidak iklas kalau Mama ingin menguasai hartanya." ucap Dewi yang terus menatap heran pada perubahan mimik wajah Ibunya.


"Ah Kamu ini! Mama ada rencana besar. Kalau kita tidak bisa lagi menyakiti Gisel, Biar orang lain yang akan melakukanya ha...ha ha...!. balas Tina sambil tertawa lepas dan sesekali memukul setir mobilnya menggunakan tangan kananya.

__ADS_1


Kembali untuk kesekian kalinya Dewi mengeryitkan dahinya menatap kearah Ibunya .


"Maksud Mama apa?. Dewi benar-benar tidak mengeri dengan ucapan Mama." ucap Dewi yang masih memberi tatapan tajam pada ibunya itu.


"Maksud Mama gini cantik! Kalau kita tidak bisa lagi menyakiti sialan itu biar Hambali yang akan melakukanya. Kita bikin mereka saling menyerang dan saling menyakiti satu dengan yang lain hingga, keduanya akan benar-benar terpuruk. Setelah itu kita yang akan menjadi pemenangnya. briliankan ide Mama!" balas Tina dengan tersenyum lebar .


"Good idea" Mama benar-benar perempuan cerdik dan tangkas dalam memecahkan sesuatu. Dewi benar-benar bangga memiliki Mama sepertimu." ucap Dewi memeluk dari arah samping ibunya.


Keduanya pun tertawa lepas. Beban, ke tegangan serta ketakutan mereka pada Aldo akhirnya hilang setelah Tina menemukan ide baru cara menyakiti Gisel tanpa harus mengotori tangan mereka.


đŸ‘‰sorry author lagi sibuk kalau ada waktu nanti lanjutin.

__ADS_1


__ADS_2