
Tina terus melangkah menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar milik Dewi berada.
Tina berhenti di depan pintu kamar anak gadisnya itu. Tina mengetuk pintu sebelum ia masuk. Karna tidak ada jawaban dari Dewi, Tina memutar dan sedikit mendorong gagang pintu tersebut.
Tapi belum juga full daun pintu tersebut terbuka, sebuah bantal mendarat ke arah daun pintu tersebut hingga Tina refleks mentupnya kembali.
"Dewi tenangkan dirimu." ucap Tina dari luar kamar dengan nada sedikit berteriak.
Lagi-lagi Dewi tidak menjawab, Membuat Tina untuk kedua kalinya memutar gagang pintu dan sedikit mendorongnya. Tapi kali ini Dewi sudah tidak beringas lagi seperti tadi. Tampak wanita muda itu sedang duduk diatas pembaringan dengan menyilangkan tanganya pada kedua kakinya yang sudah ia tekuk.
Keadaannya sungguh menyedihkan. Rambut acak-acakan dan tubuhnya sudah tidak terawat seperti sebelum-sebelumnya.
Tekanan batin yang ia rasa sungguh mengalahkan akal sehatnya.
Tina melangkah mendekat kearah Dewi. Dengan pelan sekali Tina duduk disamping Dewi dan membelai rambutnya dengan sangat lembut
"Dewi! kamu jangan seperti ini. Tujuan kita belum selesai. kita harus mendapatkan setidaknya setengah dari harta perempuan bodeh itu. Sebelum Tua bangka Hambali mengusir kita." ucapTina terus membelai lembut rambut Dewi yang bertujuan memberi ketenangan pada wanita itu.
Dewi tidak memberi respon sedikitpun, wajahnya hanya menunduk menciumi lututnya yang sedari tadi di tekuknya.
Tidak lama kemudian handpone milik Tina berbunyi dalam tas miliknya. Tina berdiri dan mengambil tas yang disimpanya tadi diatas meja rias sebelum mendekati Dewi.
__ADS_1
Tina membuka tas kecilnya dan mengeluarkan handpone miliknya dari dalam sana.
"Hallo Tony sayang. Ada perlu apa kamu menelponeku." ucap Tina dengan sangat lembut kepada lawan bicaranya di handpone.
"Sayang! kapan kamu membawa anak kita kemari. Aku sudah sangat kangen kepada kalian berdua." balas pria yang Tina panggil namanya dengan sebutan Tony.
"Sabarlah Tony sayang! sebentar lagi kami menyusul kamu kesana. Tapi sebelum kami kesana, Kami akan mengambil sebagian harta dari tua bangka itu dulu." balas Tina pada Tony.
"Oke kalau begitu. Tapi ingat jangan lama-lama ya! cukup sudah Aku menunggui kalian selama puluhan tahun lamanya. Tinggalkan manusia breksek itu dan mari kita bina rumah tangga kita yang selama ini hilang karna dendammu pada Diana." cap Tony sedikit memohon pada Tina.
"Baiklah sayang "miss you." balas Tina sembari menutup panggilanya.
Dina dan Tina satu kampus tapi beda jurusan.
Sakin terkenalnya Diana membuat pria berlomba-lomba untuk menjadikanya kekasih, bakan banyak yang ingin langsung melamarnya termaksud pria incaran dari Tina.
Disinilah bermula dendam Tina dimulai. Ia terus melancarkan Aksinya untuk mencelakai Diana tapi terus saja gagal.
Hingga Tina mencoba masuk dalam perusahaan keluarga Diana dan mendaftar sebagai sekertari Hambali yang saat itu kebetulan kosong. Tina mencoba merayu dan mempengaruhi Hambali yang saat itu menjadi General menager sekaligus sudah menyandang status sebagai suami dari Diana karna perjodohan dari Sutomo ayah dari Diana.
Hanya butuh waktu dua bulan saja aksinya berasil. Hambali terpikat dan mulai berhianat, rasa terimah kasih Hambali pada keluarga Sutomo yang memungutnya dari keluarga tidak berada menjadi terpandang seolah-olah hilang begitu saja karna rayuan maut seorang Tina.
__ADS_1
"Mam....." Teriak Dewi dibelakan Tina.
Semua pembicaraan Antara Tina dan Tony terdengar jelas di telinga Dewi yang sejak tadi sudah berdiri di belakangnya.
"Dewi...! biar Mama jelasin semuanya, tapi Kamu tenangin diri dulu ya!." ucap Tina memegangi lengan Dewi sembari mendekatkan wajahnya kearah wajah Dewi.
"Lepasin! Sebenarnya papa kandung Dewi itu siapa! Papa Hambali atau orang yang barusan Ibu telephone." ucap Dewi merontah-rontah mencoba melepaskan diri dari pegangan Tina.
Lama Tina menjawab. Rahasia yang berpuluh-puluh tahun ia sembunyikan akhirnya terungkap juga.
Tina menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskanya dengan kasar.
" Hambali, orang yang selama ini kamu panggil papa sebenarnya hanya papa mainanmu. Kamu itu benih berkualitas yang ditanam Tony dalam rahim Mama. Ibu sengaja melakukanya demi membalas dendam Mama pada perempuan bodoh yang bernama Diana, dengan cara mengelabuhi Hambali si pria parubaya itu sebagai orang yang telah menghamili Mama. Karna Dianalah, lelaki incaran Mama melakukan bunuh diri karna mendapatkan penolakan cinta darinya. Sebelum semua keturunanya punah, hidup ibu tidak akan tenang. Diana telah lenyap!. Sekarang anaknya Gisel yang akan menanggung penderitaanku. Jadi Mama mohon bantu Mama untuk membalaskan dendam ini. Kalau kita tidak bisa melenyapkan Gisel, sebagai gantinya semua Harta dan kekayaan yang mereka miliki harus jatuh di tangan kita bukan pada pria brengsek seperti Hambali itu. Dengan cara itulah sudah di pastikan, keturunan terakhir dari Diana akan melarat dan takan mungkin bisa bangkit lagi seperti sediakala" ucap Tina memegangi kuat lengan Dewi yang saat itu merontah-rontah ingin melepaskan diri darinya.
"Mam! Tapi Dewi mau papa Hambali." ucap Dewi yang mulai melunak dan tidak merontah lagi seperti semula.
"Dewi Kamu ingatlah. Hambali itu bukan Papamu, dan apa Kamu lupa juga apa yang telah ia lakukan padamu.Dia menyiksamu dan ikut mengataimu gila. Apa papa seperti itu yang Kamu ingini, kasar dan relah membuang keturunannya sendiri demi menguasai hartanya. Anak kandungnya sendiri dia buang apalagi anak pura-pura sepertimu." ucap Tina semakin gencar meyakinkan Dewi.
Dewi terdiam apa yang dikatakan Tina masuk akal baginya. Perlakuan Hambali padanya sudah tidak mencerminkan perlakuan seorang papa pada anaknya.
👉maaf para reader , Author lambat up soalnya lagi sibuk bangat ..sekali lagi maaf ya...
__ADS_1