
Setelah mendapat kartu identitasnya dari tangan Rindu, Dirga memasukkan kembali kartu identitasnya tersebut kedalam dompet kecilnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada IbuMu! kenapa Ia bisa terbaring lemah diatas pembaringan itu," ucap Dirga pura-pura tidak tahu padahal Ia sudah mendengar percakapan antara Rindu dengan Dokter Herman tadi.
Rindu malah melangkah mendekat kearah pembaringan dimana Ibunya sedang tergulai lemas diatas disana.
"Ibuku menderita kangker rahim dan harus segera diangkat" balas Rindu sambil membelai lembut kening Ibunya.
"Terus kenapa beliau tidak segera di operasi!apa Kamu menunggu malaikat maut yang akan mengangkatnya,!"ucap Dirga sedikit membentaki Rindu.
Lama rindu terdiam. Hingga deru nafasnya derdengar sangat kasar keduar dari kedua lobang hidungnya.
"Segala upaya telah Aku lakukan. Mulai mejajalkan makanan dan gorengan ke kewarung warung, sampai bekerja sebagai pelayan di sebuah Hotel di kota ini. Tapi, belum juga bisa mencukupi biaya operasi Ibuku. Bukan cuman sampai disitu saja usahaKu, bahkan seluruh keluarga Almarhum Ayah, telah Aku datangi untuk meminta batuan atau pinjaman pada mereka. Tapi, lagi lagi hasilnya nihil bukanya mendapatkan bantuan malah hinaan dan usiran dari merekalah yang Aku terimah. Demikian juga hal dari pihak keluarga IbuKu mereka seakan akan sudah tidak menganggap Kami ini keluarga mereka lagi. Kami bagai keluarga terbuang yang tidak ada lagi artinya bagi mereka" ucap Rindu dengan deraian air mata yang tak habis habis keluar dari kedua kelopak matanya.
Sementara Dirga yang sedari tadi mendengar cerita Rindu merasa sedih dan juga tidak enak hati, sudah menuduh Rindu hanya bersantai santai saja dan tidak melakukan apa apa untuk mencari biaya pengobatan Ibunya. Ternyata Ia sudah salah besar menilai gadis itu, perjuangan demi perjuangan Rindu sudah Ia lakukan demi mendapatkan biaya operasi ibunya tanpa kenal lelah walau Ia harus menanggung malu dari keluarganya sendiri.
"Maafkan Aku,!" ucap Dirga sedikit menundulkan kepalanya.
__ADS_1
"Maaf untuk apa,?" balas Rindu tanpa memandang kearah Dirga.
"Karna Aku sudah merusak motorMu dan tadi membentak serta menuduhMu yang buka bukan. Sekali lagi tolong maafkan Aku" ucap Dirga dengan suarah sedikit parau.
"Sudalah semuanya sudah terjadi,Kamu tidak sepenuhnya bersalah dalam hal. Untuk kedepanya Kamu harus berhati hati lagi karna tidak menutup kemungkinan kejadian yang sama akan terulang kembali," balas Rindu.
"Trimah kasih banya atas wejanganya. Sebagai tanda perkenalan kita, Aku akan membiayai semua biaya operasi IbuMu dan biaya biaya lainya selama beliau di rawat dirumah sakit ini, bagaimana,?" ucap Dirga sambil duduk diatas pembaringan.
Sontak mata Rindu terbelalak mendengar ucapan Dirga barusan.
"Apa Kamu serius! Kita baru kenal belum juga sampai satu hari tapi, Kamu sudah mau membantu pengobatan Ibuku, Ku harap kalau bercandalah jangan keterlaluan," ucap Rindu yang mulai berani menatap kearah Dirga.
Rindu mengeryitkan dahinya mendengan persyaratan yang belum disebutkan sama sekali oleh Dirga padanya.
"Persyaratan apa dulu! kalau aneh aneh Aku tak mau. Nanti Kamu mengambil kesempatan dalam hal ini." balas Rindu.
"Aku belum bisa mengatakanya padaMu. Itu pun Kalau Kamu mau. Kalau tidak, itu juga tidak masalah bagiKu bukan,! karena dalam hal ini Kamulah yang perlu bukanya Aku," ucap Dirga berdiri dari tempat duduknya dan berencana keluar dari bilik itu.
__ADS_1
Tapi belum juga dirga melangkah Jauh Rindu langsung berbalik.
"Baiklah akan Aku terimah. Tapi, ini semua semata-mata untuk Ibuku saja bukan yang lain" balas Rindu
Dirga menghentikan langkahnya dan membalikkan badanya.
"Oke kalau begitu! Ini kartu identitasKu nama, alamat serta nomor handponeKu semua tertera di sana jadi Kamu bisa hubungi Aku kapan saja Kamu mau," ucap Dirga memberi sebuah kartu tanda pengenal dirinya pada Rindu.
Rindu mengambil kartu kecil dari tangan Dirga dan membaca dalam hati.
"Baiklah Rindu, Aku akan menyelesaikan seluruh biaya adimistrasi Rumah sakit dan secepatnya Ibumu akan segera di operasi" ucap Dirga sambil berbalik arah seperti tadi dan langsung menuju kearah pintu keluar.
"Dari pada Kamu mengetahui namaku?" ucap Rindu sedikit berteriak kearah Dirga.
"Itu tidak perlu Kamu tahu," balas Dirga membuka daun pintu dan menutupnya kembali.
"Dasar......" ucap Rindu dan membalikkan badanya lagi kearah Ibunya.
__ADS_1
"Ibu Akhirnya! seorang malaikat, TUHAN turunkan untuk membantu kesusahan Kita. Sekarang Ibu tenanglah karna sebentar lagi Ibu akan sembuh seperti sediakala," ucap Rindu menciumi punggung tangan Ibunya.
👉tetap beri Vote ,Like , Koment dan rate bintang limanya ya makasih.