
Rika begitu tercengang melihat perubahan besar pada Gisel. Dulu kalau Rika menyiksanya bersama Tina, Gisel hanya bisa diam atau menagis.
"Tina, Kenapa dia bisa berubah seperti iblis yang menakutkan. Apa sebenarnya terjadi saat dia berada diluaran sana?."ucap Rika sedikit berbisik kearah Tina.
"Aku juga tidak tahu Rika! kenapa secepat itu dia berubah. Atau jangan-jangan dia itu bukan Gisel yang asli!. Ya semacam kembaranya
gitu." balas Tina juga ikut berbisik ketelingan Rika.
"Kau ini bodoh sekali!, kalau dia itu bukan Gisel yang asli tidak mungkin bukan ia mengenali kita." ucap Rika menatap kearah Gisel dengan nada suara yang sangat pelan sekali.
Gisel yang melihat Tina dan Rika saling berbisik mulai menyungkinkan bibirnya.
Dia tahu kalau kedua perempuan parubaya yang sering menyiksa fisik dan hatinya dulu, mulai takut denganya.
"Kalian berdua ingin melanjutkan pertengkaran ini atau segera menjauh dari hadapanku." ucap Gisel menatap sinis kearah mereka berdua.
"Berani sekali Kamu berkata seperti itu kepada kami berdua. Rika tangkap dia, biar Aku yang akan memukulnya sampai babak belur atau sekalian kita lenyapkan saja nyawanya lalu kita buang bangkainya disungai," ucap Tina mengajak Rika untuk menyakiti Gisel.
"Aku juga sedari tadi berpikiran seperti itu. Ayo kita keroyok habis-habisan wanita iblis ini supaya Dia menyesal sudah berurasan dengan manusia seperti kita." Rika yang sudah siap menerkam tubuh Gisel.
"Majulah, Aku tidak akan takut dengan nenek peot seperti kalian berdua." balas Gisel sembari memasang gaya kuda-kuda untuk menangkis serangan kedua perempuan parubaya itu.
Tina dan Rika meju menghampiri Gisel, kedua perempuan itu bersiap-siap untuk Memukul dan menangkap tubuh Gisel. Tapi sayang sungguh Sayang, belum juga kedua tangan mereka menyentuh tubuh kecil Gisel tiba-tiba keduanya meringis kesakitan.
"Aduh ....." ringis keduanya secara serentak.
"Jangan coba-coba menyentuh temanku sebelum kalian berdua berhadapan denganku" ucap Melly yang menjambaki rambut kedua perempuan parubaya itu dari arah belakang.
"Lepasin..... sakit!." ringis Tina dan Rika sambil merontah-rontah dan mencoba melepaskan rambut mereka dari jambakan Melly.
Melly tidak menggubris sama sekali ucapan dan rintihan dari Rika dan Tina.
__ADS_1
Semakin mereka ingin melepaskan rambutnya dari genggaman Melly, maka semakin kuat pula Melly menjambakinya.
"Sudah Tahu sakit, lalu kenapa kalian berdua mau menyakiti temanku. Sebelum mencubit orang lain, kalian harus mencubit diri kalian dulu. Kalau kalian merasa sakit, maka seperti itu pula yang di rasa orang lain saat kalian cubit, paham!." ucap Melly memberikan petuah pada pada Tina dan Rika sambil terus menjambaki rambut mereka berdua.
"Jangan coba menasehatiku wanita sialan!, cepat lepaskan rambutku atau kamu akan merasakan akibatnya nanti." ucap Rika mengancam Melly.
"Nanti itu masalah lain. Sekarang kalian rasakan jambakan dari spidergirl ini." balas Melly menarik ulurkan rambut mereka hingga keduanya merasa sangat kesakitan. Makin kuat mereka melawan makin kuat juga jambakan yang di beri Melly terhada rambut Tina dan Rika.
"Awo....sakit wanita gila." teriak Rika dan Tina bersamaan.
"Minta ampun dulu pada temanku baru Aku lepasin kalian." ucap Melly pada mereka berdua.
"Minta ampun kepalamu!, cepat lepaskan sakit tahu." ucap Tina yang sudah hampir mengeluarkan air mata.
"Ya sudah kalau kalian tidak mau, Aku tidak akan melepaskanya." balas Melly.
"Baiklah -baiklah kami akan minta ampun!." ucap Rika yang juga sudah tidak sanggup menahan rasa sakit akibat jambakan dari Melly.
Gisel terus cengegesan melihat ulah Melly memberi pelajaran pada kedua kadal tanah itu.
"Ampunkan kami Gisel" ucap Tina dan Rika sambil mengatupkan tanganya didepan dada.
"Sell bagaimana? apa Kamu menerima permohonan ampun dari mereka?." ucap Melly sambil menatap Gisel.
Gisel yang masih terus cengegesan segera mengangguk tanda setuju.
"Ampun kalian berdua di terima. Dan siap-siaplah Aku akan melepaskan kalian. Satu, dua, tiga." ucap Melly sambil mendorong tubuh Tina dan Rika hingga tersengkur diatas lantai.
"Ha ..ha ...ha .....rasaain itu Nyai lampir." ucap Melly terbahak- bahak di ikuti juga oleh Gisel.
Tina dan Rika mengelus-elus kulit kepalanya. Beberapa helai rambut mereka rontok akibat jabakan dari Melly tadi.
__ADS_1
Kedua perempuan parubaya itu hampir mirip dengan gembel yang ada diemperan pertokoan. Rambut yang tadinya rapi kini acak-acakan bagai sarang burung gereja.
Sementara itu, di kumpulan para Ibu-ibu yang sedang menikmati suasana pesta.
Musik yang tadinya berdayu-dayu dan riuhnya suara cempreng Ibu-Ibu sosialita itu, tiba-tiba hening setelah mendengar pertengkaran mereka.
Mereka berlari kecil mendekat kearah Gisel, Melly, Tina dan juga Rika.
Bukanya menolong, para Ibu-Ibu itu malah terbahak- bahak melihat keadaan kedua perempuan sombong itu.
"Tina dan Rika, kalian memang besan yang sehati, sejiwa dan sepenanggungan. Satunya gembel yang lain ikut gembel." ucap seorang perempuan gembul menatap kearah mereka berdua.
Kembali ruangan itu di penuhi dengan suara tawa Ibu-ibu setelah mendengar ucapan perempuan tadi.
Tina dan Rika begitu malu, baru kali ini mereka di tertawakan didepan orang banyak.
Tina dan Rika bangkit. Kedua mata mereka memerah menatap kearah Melly dan Gisel yang sedang berdiri tepat di depan mereka saat itu.
"Puas kalian mempermalukan kami. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup senang. Akan kujadilan hidup kalian bak neraka." Tina begitu geram dan kembali ingin menyerang Gisel.
Tapi lagi-lagi niatnya itu harus dia urungkan karna mendengar suara yang datang dari arah belakangnya.
"Coba saja kalau kamu berani menyentuh kedua putriku.Kamu akan berhadapan denganku dan kupastikan hidupmu akan seperti hidup di neraka jahannam." Elin mendekat kearah Gisel dan Melly sambil membenturkan bahunya dengan bahu Tina.
Para Ibu pengusaha yang hadir di sana saling memandang heran satu dengan yang lain setelah mendengar kata putriku dari mulut Elin.
Kenapa tidak, selama ini mereka hanya mengetahui kalau Elin hanya memiliki anak tunggal yaitu Aldo sang penguasa kota ini.
Sementara di posisi Tina dan Rika, mata mereka seketika membulat, rahan mulut mereka pun tiba-tiba jatuh begitu saja mendengar Elin menyebut kata putriku terutama pada Gisel.
catatan: Terus bagi vote karena waktu tinggal dua hari lagi. Author akan membagi pulsa pada tanggal 9-10 bulan ini.
__ADS_1