
Hari terus berganti. Genap sudah 4 hari Gisel berada di rumah sakit bersama dengan kedua jagoanya.
Nyonya Elin dan Bi Nining bergantian menemani Gisel saat Aldo berangkat ke kantor. Kedua perempuan parubaya itu merasa sangat senang bila giliran mereka menunggui bayi kembar yang imut dan sangat menggemaskan itu.
Gisel terkadang merasa tidak enak hati pada mereka berdua. Tapi, mau diapa lagi, hanya kedua perempuan itu yang paling dekat dengan dirinya apa lagi dari segi merawat bayi, mereka berdualah ahlinya.
Lagi pula Aldo tidak mengizikan orang baru menyentuh bayi-bayinya. jadi, mau tidak mau memang kedua perempuan parubaya itulah yang memang cocok diposisi itu.
Sore itu Aldo baru pulang dari kantor dan langsung menuju ke arah rumah sakit dimana Gisel sedang dirawat. La' Baddu sebagai supir pribadi Aldo saat itu dengan lihai menyetir kendaraan mewah Tuanya menuju ke arah rumah sakit.
Tidak butuh waktu lama, kini kendaraan yang mereka tumpangi sudah memasuki halaman luas rumah sakit tersebut.
Setelah memarkir mobil. La' Baddu keluar dari dalam mobil dan berlari kecil untuk membukakan pintu buat Tuannya.
"Silahkan Tuan." ucap La' Baddu membuka lebar pintu mobil sambil menundukan kepalanya.
Aldo cuma mengangguk pelan sembari mengangkat tangan kananya sebagai jawaban.
Aldo keluar dari dalam mobil. Tapi, sebelumnya ia memakai kaca mata hitamnya terlebih dulu yang sedari tadi di gantung di selah-selah kancing kemejanya.
Aldo melangkah menuju pintu masuk rumah sakit. Karisma seorang Aldo benar-benar tidak bisa di indahkan oleh orang-orang yang ada di rumah sakit itu.
Baik para pengunjung maupun staf rumah sakit terkagum-kagum belihat sosok yang sedang berjalan di hadapan mereka.
Seketika orang-orang pun berhenti dari aktifitasnya seraya memandang kearah Aldo. Baik pria maupun wanita sama-sama terkesima dengan Ceo muda, tampan dan dan paling tersohor di kota itu.
"Telanjangika Ayah." ucap seorang wanita dengan nada centil tanpa berkedip menatap kearah Aldo.
"Telanjangi kepalamu. Biarpun kamu telanjang di hadapan Tuan Aldo, mana mungkin ia mau denganmu. Melihat sekujur tubuhmu saja pasti beliau merasa jijik apa lagi menyentuhnya.., wey jangan mimpi jadi cinderella di siang bolong" balas Temanya yang juga tidak berkedip menatap kearah Aldo.
"Apaan si! Bagaimana pun Tuan Aldo itu laki-laki normal pasti Beliau akan tertarik melihat bokong seperti bokong milikku ini." balas wanita yang pertama tadi sembari menepuk-nepuk bokongnya yang memang terlihat sangat padat.
"Owe.....Tertarik menendangnya maksudmu! ha ha ha..." balas temanya sambil terbahak.
Wanita tadi tidak menjawab lagi ia hanya memayun-mayunkan bibirnya mendengar ejekan dari kawannya.
Aldo terus melangkah menuju ruang dimana Gisel sedang dirawat. Rasa kangen pada Istrinya dan kedua buah hatinya membuatnya sudah tidak konsentrasi mendengar sapaan orang-orang yang tertunduk hormat padanya.
__ADS_1
Aldo terus saja mengayun langkah kakinya kearah kamar yang saat ini di tempati oleh Gisel dan bayi kembar mereķa.
Tidak lama kemudian, Aldo sudah tiba di depan pintu ruangan, dimana Gisel sedang dirawat. Aldo mengetuk daun pintu sembari mengucapkan salam.
Elin yang mendapat giliran menjaga Gisel dan kedua bayinya saat itu segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah kearah pintu.
Elin memutar gagang pintu kemudian menariknya sedikit. Hingga tampak Aldo sedang berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
"Assalamu alaikum Bu!" ucap Aldo tersenyum manis pada Ibunya.
"Wa'alaikum salam. Ayo masuk atau kamu mau Ibu tutup kembali pintunya?" balas Elin sambil sedikit mendorong gagang pintu tersebut dan ingin menutupnya kembali seperti semula.
Dengan cekatan Aldo menahan daun pintu itu menggunakan kakinya.
"Ibu tegah bagat si!" ucap Aldo protes.
Bukanya menjawab Elin malah cengegesan melihat tingkah Aldo.
Keduanya pun masuk kedalam ruangan itu dan melangkah mendekat kearah Gisel.
"Iya sayang Aku sudah mulai merasa Nyaman. Kata Dokter besok Aku sudah dibolehkan pulang." ucap Gisel yang saat itu sedang duduk diatas tempat tidur sambil menyandarkan tubuhnya di badan tempat tidur tersebut.
"Syukurlah sayang, akhirnya mension akan kembali ramai dengan kehadiranmu apa lagi di tambah dua jagoan kita pasti membuat membuat mension semakin berwarna. Ngomong- ngomong jagoan-jagoan kanda dimana sayang." ucap Aldo sembari menatap kearah Gisel.
"Mereka ada di sana. Ibu di bantu perawat sudah memandikanya dan Aku sudah memberinya asi kiri dan kanan." baras Gisel sambil menunjuk kearah inkubator.
Aldo mengeryitkan dahinya sesaat.
"Sayang mereka berdua sudah merebut hak milikku. Terus ntar bagian Kanda bagian mana dong!." ucap Aldo asal coplos tanpa mempedulikan Elin yang sedang duduk tidak jauh dari mereka sambil membaca majallah.
"Bagian kamu ntar Aku bikini satu pas di tengah-tengahnya bagimana?." ucap Gisel asal
membuat Elin menggeleng gelengkan kepalanya.
"Dasar pasangan aneh" ucap Elin sedikit besar membuat Aldo dan Gisel terdiam dan saling memandang.
Setelah puas berbincang dengan istrinya. Aldo melangkah kearah inkubator dan mendapati kedua bayinya sedang terbangun.
__ADS_1
"Eee ..Jagoan Ayah udah bangun! Pasti kalian berdua rindu dengan Ayah ganteng kalian ini bukan?. Kalau begitu Ayah akan gendong kalian tapi satu-satu ya! karna Ayah ganteng kalian ini hanya punya dua tangan. Ayah akan mulai menggendong kakak dulu ntar baru giliran adik ya!." ucap Aldo sambil mengambil salah satu putranya dalam inkubator.
Aldo dengan gemas mencium putra sulungnya itu. Tapi belum juga beberapa menit Aldo menggendong putra sulungnya itu tiba-tiba Aldo sedikit membulatkan matanya.
"Aduh nak, kenapa kamu pipis si di baju Ayah!" ucap Aldo menggaruki kepalanya sambil menatap Elin dan Gisel bergantian.
Elin dan Gisel hanya tersenyum memandangi Aldo yang baru saja mendapat hadiah lahar panas dari putranya sulungnya.
Aldo meletakkan kembali bayi sulingnya ke dalam inkubator dan beralih ke putra bungsunya.
"Kamu jangan nakal ya seperti kakakmu itu." ucap Aldo mengambil putra bungsunya dari dalam inkubator satunya.
Kembali lagi Aldo mengeryitkan dahinya setelah beberapa menit menggendong putra bungsunya itu. Tanganya terasa panas ada semacam zat lengket menempel di kulit tanganya.
"Aduh Nak, kenapa kamu memasang ranjau bukan pada tempatnya si." ucap Aldo kembali mengaruki kepalanya.
Elin dan Gisel terbahak- bahak membuat Aldo sedikit merasa malu oleh ulah kedua putranya.
Setelah puas bermain dengan kedua putranya Aldo menuju kearah kamar mandi untuk mencuci bekas pipis dan PUP dari kedua putranya.
Tidak lama kemudian Aldo keluar dari kamar kecil sambil membuka kemeja yang tadi ia pakai.
Aldo mengambil handpone dalam saku celananya dan menghubungi seseorang melalui benda pipih miliknya itu.
"Jhony..Cepat kerumah sakit! Dan bawakan Aku pakaian baru secepatnya kemari." ucap Aldo pada Jhony melalui hubungan telpon.
"Loh, kan tadi Tuan sudah Aku bawakan pakaian ke kantor." balas Jhony.
"Ah ..tadi baju yang kamu bawakan kepadaku habis kena lahar dan ranjau dari kedua putraku. Jadi kamu jangan banyak protes cepat kemari atau......" ucap Aldo terputus karna mendengar suara Jhony terbahak-bahak di dalam sana.
"Ha ..ha ...ha ......" suara Jhony dari ujung telpon genggam milik Aldo.
"Jhony.........." Teriak Aldo sehingga membuat Elin dan Gisel kaget dan mengalihkan pandangan mereka berdua kearah Aldo yang sedang menghubungi seseorang tidak jauh dari mereka berdua saat itu.
"Maafkan Saya Tuan." ucap Jhony seketika terdiam dari tawanya setelah mendengar bentakan dari Tuanya.
"Terus beri like, coment , vote dan rate bintang limanya ya trimah kasih.
__ADS_1