ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
92. RAMBO.


__ADS_3

Sementara itu di ruang pelelangan tender nampak Rudy dan ketiga temanya sedang duduk disana.


Bisikan Jony ke telinga Rudy tadi, membuat mereka berempat mulai panik.


Mereka berempat sangat gelisah menunggu kedatangan Aldo.


"Pak Rudy apa yang harus kita lakukan! Ucap taddy yang baru datang dari kamar kecil.


"Aku juga tak tau! Entah apa yang membuat Tuan Aldo menyuruh kita menungguinya disini" balas Rudy sambil meletakkan kepalanya diatas meja.


"Apa Tuan Aldo mengetahui kerja sama kita dengan Hambali?" ucap Teddy sambil duduk di sambing Rudy.


Ketiganya langsung melotot kearah Teddy dengan wajah ketakutan.


"Kalau itu benar adanya maka, tamatlah kita kali ini" ucap Gedy dengan lesuh.


"Tapi mustahil Tuan Aldo mengetahui kerja sama itu! andaipun beliau tau pasti dari kemarin kemarin Ia sudah menindak kita satu persatu satu" Balas sandy.


"Kau tidak tau saja siapa CEO dingin itu! Ia bagai hantu gentayangan bila menyangkut kecurangan dalam perusahaanya! mengenai memberi hukuman, mungkin ada hal yang membuat Ia menundanya"balas Rudy.


"Kalau benar benar begitu tamatlah karir kita" balas teddy.


"Bagus kalau cuman karir kita yang tamat! Tapi kalau nyawa kita melayang bagai mana?" balas Rudy.


Ke tiganya semakin panik mendengar ucapan Rudy.


Tidak lama kemudian jejak langkah terdengar dari arah pintu masuk.


Keempatnya memandang kearah pintu dengah wajah panik.

__ADS_1


Daun pintu terbuka, kini kepanikan mereka berubah menjadi murka.


"Sialan kau babu" ucap Rudy melempar gelas kearah kepala seorang clening service yang ingin membersihkan ruangan itu.


"Awoo....." ringis Dedy seorang clening service di perusahaan itu.


Dedy memegangi kepalanya yang berlumuran darah.


Bukanya kasihan atau menolongnya Rudy dan ke tiga temanya malah mencaci, membentaki serta menendangnya.


"Rasakan itu Babu! Siapa suruh menakut nakuti kami" ucap Rudy sambil menendang perut Dedy yang sudah tersungkur di lantai sambil meringis kesakitan.


"Ampun Tuan Saya benar benar tak tau kalau Tuan Tuan masih ada di dalam ruangan ini" ucap Deddy sambil memegangi perut dengan tanganya.


"Ah alasan ....!" ucap Rudy kembali ingin mendaratkan pukulanya kewajah Dedy tapi tertahan oleh tangan sesorang yang ada belakanya.


"Tu...an Aldo" ucap Mereka berempat secara bersamaan.


"Iya! Aku kenapa kau keberatan" ucap Aldo sambil menghempaskan tangan Rudy.


Keempatnya terdiam, tertunduk dan mundur satu langkah ke belakang.


Aldo mengangkat tubuh Dedy yang sudah tak berdaya dan mendudukkanya diatas kursi.


"Hay Kau ! cepat panggilkan Docter persuhaan kemari" ucap Aldo kepada seorang bodyguardnya.


"Baik Tuan! balas bodyguard itu sambil berlari meninggalkan tempat itu.


"Tuan Aldo tidak usah! Ini cuman luka kecil buat pekerja hina seperti saya ini" ucap Dedy merasa tidak enak kepada Aldo.

__ADS_1


"Luka kecil kataMu Ah bodoh! Kau sudah berdarah darah begini Kau masih bilang luka kecil ah! dimana otakMu Kau simpan?. Kau itu bukan Rambo yang sudah hampir mati tapi masih bilang tidak apa apa. Dan kau itu bukan pekerja hina, kau itu pahlawan yang membersihkan kotoran debu dan sampah seperti mereka berempat itu" ucap Aldo membentaki Dedy sambil menunjuk ke arah Rudy dan kawan kawanya.


Rudy dan teman temanya hanya terdiam dan tertunduk tanpa bisa berkata kata mendengar Aldo mengatai mereka sampah.


Tidak lama kemudian dari balik pintu nampak Bodyguard Aldo muncul bersama seorang Docter pria dengan menenteng tas hitam di tangan kananya.


"Cepat obati Rambo kantor ini" ucap Aldo memerintah Docter perusahaan miliknya.


Mata Docter itu terbelalak mendengar kata Rambo tapi Ia tidak banyak bertanya, takutnya kemarahan Aldo berhimbas padanya.


Docter itu pertama tama membersihkan luka Dedy dengan Alkohol. Setelah benar benar bersih Ia mengolesi luka Dedy dengan obat, kemudian menutupnya dengan kain putih berserat dan melekatkan plaster di pinggir dan bagian tengahnya.


"Ini resepnya! Minumlah secara teratur. Dua hari kedepan lukaMu akan mulai mengering" ucap Docter itu sambil memberikan beberapa bungkus obat kepada Dedy yang diambil dari dalam tasnya.


"Trimah kasih Doc.." Balas Dedy sambil mengambil obat dari tangan Doter.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan! ucap Docter itu sambil menundukkan kepalanya.


Aldo cuma terdiam sambil mengayun ayunkan punggung tanganya seperti orang yang sedang mengusir ayam.


Setelah kepergian Docter itu, Dedy berdiri dan ijin untuk pergi dari tempat itu.


"Tuan Aldo! Saya juga permisi dan trimah kasih atas semuanya" ucap Dedy sambil menundukkan kepalanya.


"Kau jangan pergi dulu! sebelum Kau mengikuti permainanKu" ucap Aldo mencekal Dedy untuk pergi.


Dedy terpaksa mendudukkan tubuhnya kembali dan menunggui apa sebenarnya keinginan dari Tuannya itu.


👉like, coment, vote dan rate bintang lima ..makasih.

__ADS_1


__ADS_2