ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
149. TITIK NOL.


__ADS_3

Kurang lebih tiga bulan semenjak peristiwa itu. Tina dan Dewi sudah tidak lagi berani menampakkan batang hidungnya di Mension milik Aldo. Kedua perempuan itu sudah tidak ingin lagi mengusik ketenangan Gisel selama masih ada Aldo yang terus berada di sisinya. mengusik Gisel sama halnya mencari mati bagi mereka berdua.


Sementara itu di Mension, perut Gisel sudah terlihat membesar sempurna. Kata Dokter kandungan yang menangani Gisel kalau paling lama dua minggu kedepan Gisel sudah pasti melahirkan.


Aldo yang juga mendengar ucapan Dokter kandungan pribadinya itu, Memutuskan untuk melakukan pekerjaan kantornya di rumah saja. Sementara meeting dengan klien diserahkan sepenuhnya kepada Jhony.


Walaupun merasa jemu dengan perlakuan Aldo padanya, terpaksa Gisel menerimanya demi kebaikan dirinya dan juga buah hati mereka.


Pagi itu Gisel yang sudah selesai mandi dan merias diri, duduk di sofa dalam kamar mereka sambil menikmati acara tivi sebuah stasion swasta yang ada di negari ini.


Aldo yang berada di meja kerjanya saat itu, sedang sibuk mengerjakan pekerjaan yang lumayang banyak. Walau Aldo terlihat sibuk, tapi tatapan saja matanya tidak henti-hentinya ia layangkan kearah Gisel untuk memantau apa yang di lakukan oleh calon Ibu dari anaknya itu. Meja kerja sengaja iya pindahkan kedalam kamar pribadinya untuk lebih mempermudah dan lebih leluasa dirinya mengawasi istrinya selama ia bekerja. Calon Ayah muda itu sesekali menegok sembari tersenyum memandangi kearah Gisel.


Matanya terkadang fokus menatap ke layar laptop tapi sepersekian menit saja kembali mata tajamnya itu diarahkan kearah istrinya. Kadang ia merasakan sendiri ketakutanya terhadap Gisel sangatlah berlebihan, tapi itu ia lakukan demi menjaga orang yang ia sayangi.


Tidak lama kemudian dua ketukan terdengar dari arah daun pintu kamar milik mereka.


Gisel yang mendengar dengan jelas suara ketukan dari daun pintu itu segera bangkit dari tempat duduknya. Ia ingin membuka sendiri pintu tersebut karna melihat Aldo sedang sibuk bekerja. Tapi belum juga ia melangkah Aldo sudah sedikit berteriak kearahnya.


"Eetss... Dinda jangan coba-coba bergerak selama Kanda ada di sini. Sekarang Kanda yang akan jadi bawahanmu selama Dinda dalam keadaan hamil besar. Tapi selepas itu posisi ketukar kembali dan semuanya normal seperti sedia kalah oke!." ucap Aldo mencegah Gisel sambil berdiri dan ia melangkah menuju kearah pintu kamar tersebut.


Setelah tiba di depan pintu kamar, Aldo dengan pelan-pelan sekali memutar gagang pintu dan sedikit menariknya sehingga, daun pintu itu sedikit terbuka dan mendapati Bi surti sedang berdiri di sana sambil membawa nampan berisi bubur Ayam dalam mangkuk besar beserta satu gelas air mineral dalam gelas besar pula.


"Maaf Tuan! saya sedikit mengganggu kegiatan Anda. Saya datang kemari membawa bubur untuk Nyonya Gisel. Apa boleh Saya masuk dan menyerahkan langsung kepada Beliau." ucap Bi Surti sedikit menundukkan kepalanya di hadapan Aldo.


"Tidak usah Bi, biar Aldo yang akan membawakan untuk Nyonya. Tolong kemarikan itu padaku." ucap Aldo sambil menjulurkan tanganya kearah Bi Surti.


Dengan senang hati Bi Surti menyerahkan nampan tersebut sambil tersenyum kearah majikanya.


"Perubahan Tuan Aldo sungguh sudah sangat terlihat. Dulu mana mau dia melakukan ini untuk orang lain. Nyonya Gisel benar-benar sudah merubah Tuan dingin ini menjadi orang yang bisa menghargai orang lain. Semoga kedepannya Beliau bisa lebih baik lagi Aamiin." ucap Bi Surti dalam hati setelah menyerahkan nampan yang ada tanganya kepada Aldo.


"Baiklah Tuan! Kalau begitu Saya undur diri dulu, karna masih banyak hal yang harus Bibi kerjakan. Apabila Tuan dan Nyonya membutuhkan sesuatu tolong hubungi Saya biar segera Saya menyiapkanya untuk Tuan dan Nyonya." ucap Bi Surti yang sudah ingin meninggalkan tempat itu.


"Baiklah Bi dan terimah kasih atas semuanya." balas Aldo sambel tersenyum.

__ADS_1


"Sama-sama Tuan" balas Bi Surti sambil berbalik badan meninggalkan tempat itu.


Setelah kepergian Bi surti, Aldo menutup kembali pintu kamarnya dengan menggunakan bokonya karna saat itu ia memegangi nampan berisi bubur dan air mineral dengan kedua tanganya.


Aldo melangkah kearah Gisel, setelah tiba di sana Aldo kemudian meletakkan nampan ke atas meja.


"Nyonya Gisel, Tolong makanlah dulu, Saya sudah menyiapkan bubur yang paling enak buat Anda. Nontonnya sebentar lagi di lanjutin ya! soalnya dede bayi pasti sudah sangat kelaparan di dalam sini." ucap Aldo sedikit menirukan ucapan pelayan sambil memegangi perut Gisel yang sudah sangat membuncit.


Perlakuan seperti inilah yang kadang-kadang membuat Gisel geli-geli sendiri tapi, ujung-ujungnya pasti ia tertawa juga melihat kekonyolan suaminya itu.


"Baiklah Bi Alda, Dengan senang hati Aku akan memakan makanan buatanmu ini. Karna Aku kuatir suami bawelku Aldo pasti akan marah bila anaknya dalam kandunganku ini sampai kelaparan dan apa lagi sampai terkena busung lapar." ucap Gisel memegangi wajah suaminya dan mengusapnya dengan sangat lembut.


"Kok Bi Alda Shi!" ucap Aldo sedikit protes sambil memanyunkan bibirnya kearah Gisel sehingga membuat istrinya itu terawa terbahak-bahak.


Selama bersama Aldo dalam dua, tiga bulan ini, Gisel lebih suka mengerjain suaminya itu untuk menghilangkan kejenuhannya di dalam kamar tersebut.


"Sudah-sudah, Dinda jangan ketawa terus takutnya karet ban dalammu akan putus karna tidak kuat menahan perut besarmu ini. Baiknya Dinda makan dulu biar Kanda yang akan menyuapimu." ucap Aldo sembari mengambil mangkok yang ada diatas meja dan tak lupa mengambil sendok yang sedari tadi tergeletak diatas nampan.


Tapi belum juga ia membuka mulutnya, matanya terbelalak melihat kelakuan suaminya. Aldo sudah dua kali memasukkan bubur dalam mulutnya sendiri dan menikmati dengan sangat lahap.


"Apaan shi, kata mau nyuapin kok Kanda sendiri yang melahapnya." protes Gisel sambil membulatkan matanya.


"Kanda melakukan ini dengan tujuan mengetes terlebih dulu, apa ini layak atau tidak untuk Dinda dan dede bayi." ucap Aldo biasa-biasa saja dan kembali memasukkan lagi beberapa sendok bubur kedalam mulutnya.


"Al mengetes itu satu, dua kali saja kali, tapi Kamu ngetesnya udah sampai separuh dari isi dalam mangkuk itu. Sebenarnya bubur itu untuk Kami atau untuk Kamu shi!." ucap Gisel yang terus memplototkan matanya kearah Aldo.


"Iya-iya ini untuk kalian berdua. Kikir amat shi!. Coba buka mulutnya sayang biar Suami tampanmu ini menyuapimu. Aaa..Aaa." ucap Aldo sambil mencontohkan membuka mulutnya.


Gisel membuka mulutnya seperti arahan Aldo. Aldo menyuapin istrinya dengan sangat telaten. Sesekali juga ia menyuapin dirinya sendiri karna merasa ngiler melihat Gisel makan begitu lahap.


Hanya beberapa menit saja Bubur dalam mangkuk tersebut ludes oleh mereka berdua.


"Ye habis! Kamu memang sangat rakus ha...ha ..ha." ucap Aldo tersenyum sambil meletakkan mangkok kosong diatas dan mengambil gelas berisi air yang juga ada diatas meja.

__ADS_1


Gisel merasa malu sendiri dengan ucapan Aldo mengatainya rakus. Tapi mau diapa itu kenyataanya. Semenjak hamil nafsu makan Gisel berlipat ganda, mungkin karena ia sudah tidak sendiri lagi, ada calon buah hati mereka di dalam rahimnya.


"Na sekarang minumlah. Dan tolong sisahkan sedikit untuk lakimu ini, karna beliau juga sudah sangat ke haus ." ucap Aldo memperlihatkan deretan gigi putihnya kearah Gisel.


Gisel mengambil Gelas berisi air dari tangan Aldo dan meminum seper empatnya saja.


Gisel kemudian mengambil butiran vitamin diatas diatas meja lalu menatap kearah Aldo yang sedari tadi memperhatikanya.


"Apa Kanda juga mau mengetes ini." tanya Gisel sambil menyodorkan sebua tablet berwarnah putih menyerupai kancing baju kearah Aldo.


Sontak pria itu menutup mulutnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Gisel tertawa terbaak-bahak melihat tingkah Aldo yang mirip anak kecil yang takut makan obat.


Setelah habis meminum vitamin, Gisel menyerahkan gelas yang masih berisi air setengahnya kearah Aldo.


Aldo menyambutnya, dan segera meminum air dalam gelas tersebut hingga mentok tak tersisa.


Setelah membersihkan piring dan Gelas. Aldo kembali ke tempatnya semula untuk menemani istrinya bersantai sambil menonton tivi.


Aldo memindahkan cannel drama korea yang sedari tadi di tonton oleh Gisel. Menurutnya drama seperti itu sangat membosankan baginya.


Lama Aldo mencari siaran hingga tangannya terhenti mengontrol remote tivi pada sebuah stasion televisi yang menyiarkan berita.


"Selamat pagi pemirsa. Kabar sangat mengejutkan dan mengemparkan di dunia bisnis akan segera terjadi. Tiba- Tiba perusahaan Tina Grup yang dulunya bernama Hambali grup akan melelang semua saham mereka pagi ini tanpa ada pemberitahuan terlebih dulu di media atau stasion pertelevisian. Bagi para pengusaha yang ingin memiliki perusahaan tersebut diharap datang langsung ke kantor pelelangan karna, dua jam lagi pelelangan perusahaan besar tersebut akan segera di mulai. Sekian dulu sekilas informasi dari kami dan selamat pagi.


Kira-kira begitulah isi berita yang dibacakan oleh wanita pembawa acara di dalam televisi.


Aldo seketika menatap kearah Gisel. Ia ingin melihat perubahan pada mimik wajah istrinya itu. Bukanyanya kekuatiran yang ia dapat pada istrinya, malah senyum indah menghiasi wajah cantik wanita hamil itu. Hingga membuat Aldo harus melipat tiga kali dahinya karena merasa heran.


"Akhirnya kalian berdua akan merasakan titik nol hari ini" ucap Gisel sembari tersenyum.


👉beri like,vote, coment dan jangan lupa follow Author ya, supaya bisa memantau novel terbaru dan kabar dari author ..makasih.

__ADS_1


__ADS_2