ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
133. TERSULUT EMOSI.


__ADS_3

Sementara itu, di dalam rumah mewah, diadakannya acara arisan.


Tampak Elin dan Gisel duduk di sofa sambil menikmati minuman yang sudah disediakan oleh sang empunya rumah.


Elin sebenarnya ingin sekali berbaur dengan Ibu-Ibu pengusaha yang hadir saat itu. Tapi dia kasihan pada Gisel bila ia tinggal seorang sendiri tanpa ada yang menemani.


Melihat mertuanya sedari tadi gelisah, Gisel mulai memegang bahu perempuan parubaya itu.


"Kesanalah Bu! Gisel baik-baik saja kok disini. lagian, sebentar lagi Melly datang untuk menemaniku. Jadi Ibu tidak usah kuatir." ucap Gisel yang melihat kegelisahan pada mertuanya.


"Benarkah,! Kamu baik-baik saja bila Ibu meninggalkanmu?." ucap Elin menatap lekat kearah Gisel.


"Iya Bu! Gisel baik-baik saja kok. Ibu kesanalah biar Gisel menunggu Melly disini." balas Gisel meyakinkan mertuanya.


"Baiklah, Ibu akan kesana sebantar menemui teman-teman Ibu, setelah itu Ibu akan kembali lagi kesini. Tapi ingat! Kamu jangan kemana-mana sebelum Ibu kembali." ucap Elin sambil berdiri dari tempat duduknya.


Gisel hanya mengangguk pelan sembari tersenyum manis kepada Elin menandakan kalau ia setuju dengan apa yang di ucapkan mertunya itu.


Elin melangka menjauhi Gisel dan berbaur dengan para Istri pengusaha yang datang dari dalam kota maupun yang datang khusus dari luar kota untuk mengikuti arisan yang setiap tiga bulan mereka adakan.


Sepeninggalan Elin Gisel mengambil gelas minuman yang ada diatas meja. Sesekali ia menyeruput minuman dalam gelas tersebut sambil menikmati suasana pesta.


Ada yang ketawa ria, bernyanyi dan banyak juga yang saling ngobrol menanyakan kabar masing-masing. Benar-benar suasana pesta begitu riuh oleh suara cempreng Ibu-Ibu dan suara musik Bugis Pinrang yang mendayu indah di telinga.

__ADS_1


Sakin asyiknya menikmati suasana pesta, tanpa Gisel sadari, seorang perempuan parubaya yang sedari tadi mengawasinya tanpa mengedipkan mata.


Tampak dari wajah perempuan parubaya itu merasa tidak senang dengan keberadaan Gisel di tempat itu.


Perempuan parubaya itu meletakkan gelas minuman yang sedari tadi ada di tanganya lalu melangkah mendekat kearah Gisel.


Gisel yang asyik memandang kearah kerumunan orang banyak tanpa ia sadari kalau seseorang sudah berdiri di sampinya dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Sudah puas menikmati acara para bangsawan!" ucap perempuan parubaya itu.


Gisel yang sedari tadi fokus menatap kearah kerumunan orang sedikit kaget dan memalingkan wajahnya kearah datangnya suara.


Matanya yang oval seketika membulat sempurna melihat siapa yang sedang berdiri di samping kananya saat ini.


Rika yang melihat Gisel menyodorkan tangan kearahnya segera menepis keras hingga membuat Gisel meringis kesakitan.


"Awo...." Ringis Gisel sambil megusap-usap tangan kananya menggunakan tangan kirinya.


"Jangan coba-coba menyentuhku! najis Aku disentuh oleh Anak terbuang sepertimu!." ucap Rika yang masih saja sinis memandang kearah Gisel.


Entahlah, dendam apa yang ada di hati perempuan parubaya itu terhadap wanita polos seperti Gisel.


"Baik Tante!" balas Gisel sambil mendudukkan tubuhnya diatas sofa seperti sediakala.

__ADS_1


Gisel kembali memandang kearah kerumunan orang yang sedang berpesta ria tanpa mempedulikan kalau saat ini masih ada seseorang yang berdiri di sampingnya.


"Hay...Kamu! Kamu benar-benar wanita tidak tahu tata krama. Ada orang Tua di dekatmu dan mengajakmu bicara, kamu malah tidak peduli. Kamu anggap Aku ini. Astaga anak ini benar- benar ya!. Pantas saja Hambali dan Tina mengusirmu dari rumah mereka, ternyata begini kelakuanmu. Untung saja Dirga anakku lebih memilih Dewi sebagai calon istrinya di banding dirimu. Kalau tidak, entah bagaimana nasib Dirga bila hidup bersamamu" ucap Rika sambil mendorong sedikit tubuh Gisel.


Gisel tak peduli sama sekali dengan perkataan dan perlakuan Rika padanya. Baginya, lebih baik diam dari pada harus meladeni Rika yang orangnya tidak perna bisa mengalah.


Dari kejauhan, tampak seorang perempuan parubaya datang menghampiri mereka berdua.


Wajahnya begitu gembira ketika melihat siapa yang sedang duduk di sofa.


"Besan, kenapa bisa, Anak sialain ini berada di tempat orang-orang terhormat seperti kita." ucap Tina yang baru saja tiba di tempat itu sambil memandang kearah Gisel.


Gisel yang sudah tidak asing lagi dengan suara itu makin cuek. Dia Benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan kedua perempuan yang selama ini membencinya.


"Coba lihatlah bekas anak tirimu ini. Orang tua ada di dekatnya dan mengajaknya berbicara, Dia malah cuek seakan-akan kita ini dianggap manusia tidak berwujud alias setan."ucap Rika sambil menunjuk kearah Gisel.


"Dia memang seperti itu sejak dulu. Makanya, Ayah Dewi mengusirnya dari Rumah. Maklumlah dari kecil Ibunya tidak pernah memberi pelajaran adab dan sopan santun," Tina sedikit menekan kata Ayah Dewi dengan Tujuan membangkitkan emosi Gisel sekaligus menyakiti hatinya.


Umpan Tina pada Gisel benar-benar Jitu. wajah Gisel yang tadinya putih kini berubah menjadi merah kebiruan menahan emosi. Tubuhnya seketika bergetar dan tatapanya begitu tajam pada Tina.


Gisel bangkit dari tempat duduknya dan mendorong tubuh Tina hingga hampir terjatuh. Untung ada Rika yang cepat menangkap tubuhnya. Kalau tidak, mungkin perempuan parubaya itu sudah terjungkal diatas lantai.


"Hay ...., Tina! Kamu boleh mengatakan kalau Hambali itu Ayah Dewi dan bukan AyahKu. Aku sama sekali sudah tidak peduli. Tapi ingat, Jangan coba-coba Kamu Menghina Ibu dihadapanku. Masalah adab dan sopan santun, Ibuku lebih mengerti darimu bila di ukur dengan akal sehat. Pelakor sepertimu mana ada punya adab dan sopan santun, milik orang lain saja Kamu embat apa lagi yang lain. Dan kamu Rika! Tadi Aku sudah sopan kepadamu. Tapi kamu malah memperlakukan dengan kasar. Dan apa Aku salah, bila Aku tidak menghormati orang yang sama sekali tidak bisa menghormati orang lain?. Soal Dirga, jangan kuatir Aku tidak akan mendekatinya lagi karna Aku sudah memiliki seseorang yang takkan perna tergantikan walau sapai kapan pun. Jadi kalian pergilah menjauh dan jangan mengusikku lagi" Gisel yang tersulut emosi terhadap kedua perempuan yang sedari dulu membencinya.

__ADS_1


Catatan : Ayo sebelum tutup tangga 8 bulan 11 jam 23.59. berlomba-lombalah beri vote dan menangkan hadianya.


__ADS_2