
Semua mata mengarah kearah Tina dengan rasa kagum. Kekayaan begitu besar dengan mudanya ia dapatkan dan menjadi pemilik tunggal dari perusahaan nomor dua di kota itu.
Kalau di telusuri dari silsilah keluarganya, sangatlah mustahil kalau harta sebanyak itu dapat ia miliki. Ya namanya rezeki siapa yang tahu bukan!.
"Sungguh hebat Nyonya Tina itu, awalnya hanya sekertaris biasa kemudian menikah dengan miliader no dua terkaya di kota ini. Eee ..dalam usianya yang sudah tidak muda lagi, ia menguasai seluruh harta milik suaminya. Sungguh sangan diluar dugaan bukan?" ucap seorang perempuan seumuran Tina pada seorang temanya yang sedang berdiri di sampingnya sambil terus memandangi Tina yang sedang disalami orang-orang diatas sana.
Ada rasa kagum di hatinya tapi ucapanya sedikit ngambang antara mengagumi atau cemburu melihat keberhasilan Tina.
"Betul sekali ucapanmu! Tuan Hambali benar-benar suami idaman bagi kaum perempuan. Sakin cintanya pada istrinya, ia relah menyerahkan semua saham dan perusahaannya kepada Nyonya Tina. Ah kapan kira-kira hidup kita bisa seberuntung Nyonya Tina itu? Di usia yang sudah tidak terbilang muda lagi tapi harta warisanya tidak main-main jumlahnya lho. Andaikan tidak ada Tuan Aldo, Nyonya Tinalah orang yang paling kaya di kota ini" balas temanya yang sama kagumnya melihat keberhasilan Tina.
"Perhatian semuanya! Sebentar lagi acara pelelangan akan segera di mulai. jadi, mohon kesedian saudara-saudara untuk diam sejenak, karna Miliader baru kita Nyonya Tina akan memberika kata sambutanya. Untuk mempersingkat waktu, mari kita sambut dan dengarkan sepatah dua kata dari Nyonya Tina selaku pemilik sekaligus orang yang akan melelang kekayaanya. Untuk itu dengan rendah hati kami persilahkan Nyonya Tina untuk naik ke atas podium." ucap seorang MC mempersilahkan Tina untuk memberikan kata sambutan.
Tina pun dengan bangganya berjalan lenggak-lenggok bak model menuju arah podium yang sudah di sediakan oleh pihak kantor pelelangan.
Gemuruh teputangan dan siulan para peserta lelang terdengar riuh memenuhi seisi ruangan itu.
"Tes..." ucap Tina sembari memukul-mukul microphone menggunakan jari jemarinya sehingga suaranya terpantul di setiap dinding ruangan itu.
"Selamat siang semuanya. Sebentar lagi acara pelelangan saham dan pelelangan perusahaanku akan segera dimulai. Jadi, persiapkan diri kalian, karna hanya satu kali kesempatan besar seperti ini terjadi dalam hidup kalian semua. Tidak usah panjang lebar lagi, Aku akan mempersilahkan Sekertaris Aku untuk memulai pelelangan pada siang hari ini. Tony tolong kemari dan mulailah lelang satu- persatu harta kepemilikanku." ucap Tina memanggil Tony untuk maju dan memulai pelelangan.
__ADS_1
Tony maju membawa beberapa map ditanganya menuju kearah podium dimana Tina sedang berdiri disana.
Mereka berdua saling tersenyum, sampai akhirnya Tina sedikit bergeser dari posisi sebelumnya dan mempersilahkan Tony untuk menggantikan posisinya di podium itu.
"Trimah kasih atas kesedian dan antusias kalian dalam mengikuti pelelangan ini. Untuk itu, tidak usah panjang lebar lagi pelelangan akan segera Aku dimulai. Yang pertama perusahan swalayan yang berdiri di pusat kota. Masing-masing boleh menawar dan harga tertinggilah yang akan jadi pemiliknya." ucap Tony dengan nada bergema memenuhi seisi ruangan itu.
"Dua miliar." ucap Seorang pria gembul memakai jas hitam sambil mengangkat tanganya.
"Dua koma tiga miliar" balas seorang pria tinggi besar keturunan arab.
"Tiga miliar" suara seorang perempuan juga turut mengankat tanganya dari arah pojok ruangan itu.
Tidak ada lagi yang menawar diatas angka itu hingga Tony mulai angkat bicara.
"sepuluh miliar satu kali....., Dua kali ......., Ti...." ucap Tony tergantung karna tiba-tiba terpotong oleh teriakan seorang laki-laki.
"Tidak Jadi. " Sebuah suara yang datang dari arah pintu masuk sehinggan membuat Tina dan Tony mengarah pandandanganya kearah datangnya suara. Begitu pula dengan yang dilakukan oleh para tamu undangan yang sedang asyik mengikuti jalanya pelelangan.
Lagi- lagi Hambalilah yang muncul dari sana.
__ADS_1
Pria parubaya itu mempercepat langkah kakinya menuju kearah panggung.
Tapi belum juga kedua kaki jenjang pria parubaya itu menginjak pada anak tangga untuk menaiki panggung itu, tiba-tiba dua pria tinggi besar mencegal dan menghadang langkah kakinya.
Tina benar-benar sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Ia sadar kalau hal seperti ini pasti akan terjadi nantinya.
"Pak Hambali jangan naik atau kami berdua akan menyeret Anda keluar dari sini." ucap salah satu bodyguard suruhan Tina sambil menghalangi langka Hambali untuk menaiki panggung.
Hambali melipat dahinya seketika mendegar bodyguard itu memanggilnya Pak. Anak buahnya sendiri sudah tidak lagi memanggilnya sebagai Tuan seperti sebelum-sebelumnya mereka lakukan.
"Berani sekali Kamu memanggilku Pak dan mencegalku naik keatas. Apa kalian sudah bosan untuk hidup?." ucap Hambali geram dan di penuhi rasa emosi pada kedua bodyguard yang ada di hadapanya.
"Untuk apa kami menghormati orang yang sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Dengar baik-baik Pak Hambali, posisi Kamu dan Kami tidak ada bedanya sekarang, Kita sama, yaitu bawahan dari Nyonya Tina. Jadi, untuk apa kami menghormati orang yang levelnya sama dengan kami." ucap Bodyguard itu sambil mendorong dada sebelah kiri Hambali dengan jari telunjuknya.
Tubuh Hambali sedikit terdorong kebelakang hingga membuat keseimbanganya goyah.
Para peserta rapat hanya tercengan melihat peristiwa tersebut. Mereka saling memandang dan mengedipkan bahu mereka satu dengan yang lain tanda mereka tidak mengerti situasi yang sedang terjadi saat itu.
👉beri like, coment, vote dan rate bintang limanya ya trimah kasih.
__ADS_1