ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
118. PERLAWANAN RINDU.


__ADS_3

Aldo dan Jony melangkah keluar dari Hotel dan memasuki mobil dan pulang kembali ke Mansion.


Sementara itu, Gisel dan kedua sahabatnya menuju sebuah restaurant yang masih ada dalam kawasan Hotel tersebut.


Mereka terus melangkah menuju arah pintu restaurant.


"Silakan masuk Nona Nona," ucap seorang pelayan membukakan mereka pintu dengan tersenyum manis kearah Gisel dan Melly sedangkan pada Rindu pelayan itu serasa memandang rendah padanya.


Pelayan itu mengenal betul siapa Rindu.Mungkin karna mereka berdua bekerja sebagai pelayan dalam Hotel tersebut tapi berbeda tempat. Rindu di bagian Hotel sedangkan Dianya di bagian restaurant, tapi masih dalam satu kawasan yang sama.


"Trimah kasih" ucap Gisel dan Melly sedangkan Rindu hanya menundukkan kepala tanpa berani menatap pelayan tersebut.


Ketiganya menuju kearah meja kosong yang ada di bagian pojok restaurant itu.


Pengunjung restauran saat itu terbilang sepih. Mungkin karna sudah lewat jam makan malam atau harganya makanan dalam restaurant tersebut terbilang mahal, sehilagga para tamu Hotel lebih memili memesan dari luar melalui aplikasi online.


"Mell, Rind ! Aku ke "tandas" dulu ya kebelet nich" ucap Gisel yang sudah sedari tadi menahan diri ingin membuang air kecil.


"Tandas" apaan si Sell" balas Melly yang baru saja mendudukkan tubuhnya diatas kursi.


"Toilet sayang, bahasa Malaysia bah!" balas Gisel.

__ADS_1


"Kalau begitu Aku ikut Ah! dari tadi Aku juga sudah kebelet bangat" ucap Melly sambil bangkit dari tempat duduknya yang belum terlalu panas Ia duduki.


"Kamu Rind, apa Kamu tidak ikut juga bareng dengan Kami,?" ucap Gisel kepada Rindu yang asyik memainkan handponenya saat itu.


Rindu sedikit mendongakkan kepalanya dan menatap mereka berdua.


"Aku disini saja tungguin kalian, tapi jangan lama lama ya,?" ucap Rindu dengan raut wajah sedikit ketakutan.


"Iya ! Kami sebentar doang kok, tungguin ya,!" balas Gisel.


Rindu tidak menjawab Ia hanya pengangguk pelan tanda kalau dirinya setuju.


Gisel dan Melly melangkah menuju arah toilet dan meninggalkan Rindu yang saat itu sedang Asyik memainkan handponenya.


"Rindu untuk apa Kamu kemari! ini bukan tempat buat pelayan sepertimu" ucap perempuan bertubuh gembul kepada Rindu yang saat itu sedang menundukkan kepala menatap layar handponenya.


"Eee... Ibu kepala" ucap Rindu sambil tersenyum dan memasukkan handponenya kedalam tas yang biasa Ia tempati untuk menyimpan baju bekasnya selepas bekerja.


"Ditanya malah tersenyum! cepat jawab," ucap wanita gembul itu sedikit membentaki Rindu.


"Bu Tari! Aku kesini bersama kedua temanKu. Kami bertiga berencana ingin makan disini"balas Rindu tanpa berani menatap kearah wajah wanita itu.

__ADS_1


"Usir saja Dia Bu Tari, pasti Dia alasan doang tuh! ngeben atau ngemislah bahasa kasarnya kepada orang, untuk menikmati makanan mahal di resto ini. Coba ibu lihat sendiri baju rombengan yang Dia pakenya.


mustahilah berteman dengan dua Nona Nona tadi yang memilihki gaun berkelas dan sudah di pastikan mahal harganya, "ucap pelayan yang tadi membukakan mereka pintu sejak pertama mereka menginjakkan kaki kedalam restaurant itu.


"Maaf ya Lidia! Biarpun Aku miskin tapi pantang bagiKu mengemis kepada orang hanya untuk menikmati makanan mahal di restaurant ini. Dan ingat Aku bukan diriMu yang suka sekali menjilat atasan hanya untuk mendapat posisi terbaik di tempat ini" balas Rindu dengan geram mendengar ucapan Lidia yang sudah menjatuhkan harga dirinya dan menyamakanya dengan seorang pengemis.


"kamu...! berani sekali Kamu mengataiKu seperti itu di depan Ibu Tari yang baik ini! dan ingat Rindu, Aku yang membawahMu kemari untuk bekerja disini. Andai tidak, mungkin kamu masih bekerja di swalayan itu dengan gaji kecil! harusnya Kamu bersyukur dan berterimah kasih memiliki teman sebaik Aku, bukan membuka aibKu di depan BosKu ini Ah" bentak Lidia kepada Rindu.


"Iya benar, Kamu yang membawahKu bekerja di Hotel ini, Itu Aku akui dan Aku sangat berterimah kasih padaMu! Tapi Lidia, bukan begini juga caranya kali, menghinaKu dan mempermalukanKu di depan umum. harusnya Kamu menasehatiKu jika Aku melakukan hal yang salah selama Aku bekerja dan bukanya memasukkan status kemiskinanKu dalam hal ini" balas Rindu dengan wajah memerah menatap Lidia.


" Kau benar benar kurang ajar Rindu, sudah membangkan pada seniorMu. Lidia! seret Dia keluar dari tempat ini,!" ucap Vina menyuruh Lidia untuk menyeret Rindu keluar dari restaurant.


"Dengan senang hati Ibu Tari" ucap Lidia menarik pergelangan tangan Rindu dan menariknya dengan kasar.


"Lepaskan Dia" ucap Seorang pria di belakan mereka berdua.


Keduanya berbalik sembari melotot ketika melihat siapa yang berdiri di belakang mereka saat itu.


"Tuu...tuu .tuan....." ucap Tari yang sudah tak sanggup melanjutkan ucapanya. Sakin kagetnya bercampur takut melihat siapa yang berdiri di hadapanya saat itu.


Catatan: bagi readers yang belum sempat Author balas satu satu maaf ya.

__ADS_1


sedangkan untuk Author yang ingin promosi silahkan dengan lapang hati kk persilahkan dan kalau ada waktu kk akan mampir balik oke.


đŸ‘‰tetal beri like, coment ,vote dan rate bintang limanya ya ...terimah kasih.


__ADS_2