ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
14. GISEL PINGSAN .


__ADS_3

Gisel memasak dengan sangat terampil ,


Surti terus mengawasi majikannya itu dari jarak jauh .


" Gadis itu benar benar telaten! tapi kenapa Tuan Aldo memperlakukanya sebagai pembantu ! " ujar Surti yang sedari tadi mengawasi Gisel dari jarak jauh .


Tidak beberapa lama Gisel sudah menyelesaikan tugasnya. satu porsi bubur Ayam sudah tertata rapi di meja dapur.


" Akhirnya selesai juga " gumam Gisel sambil melap keringat di keningnya.


Meliha majikannya sudah selesai dengan masakannya Surti berdiri dan melangkah mendekati Gisel.


"Apa Nyonya sudah selesai " ucap Surti sambil menatap bubur Ayam buatan Gisel .


"Sudah Bi tapi Gisel belum membereskan peralatan dapur yang baru Gisel guakan he he he" ucap Gisel sambil memperlihatkan sederetan gigi putihnya .


"Biarlan saja Nyonya nanti para pelayan rumah ini yang akan membereskannya " ucap Surti dengan nada datar .


" Tapi Gisel merasa tidak enak Bi pada mereka !" ucap Gisel yang merasa tidak enak kepada pelayan di rumah itu .


"Mereka yang tidak Enak kalau hanya memakan gaji buta Nyonya" ucap Surti yang masih datar sejak tadi .


"Baiklah Bi trimah kasih atas semuanya " ucap Gisel sambil melangkah membawa nampan yang berisi bubur dan segelas air putih .


Gisel terus melangkah menuju bilik Elin , sebelum masuk Gisel mengetuk pintu dan mengucap salam .


Hampir beberapa menit Gisel berdiri di depan pintu kamar itu tapi tidak ada jawaban dari siempunya kamar .


Gisel mencoba memutar gagang pintu dan mendorongnya secara pelan pelan .


Gisel memasuki kamar itu dan mendapati Elin masih dalam posisi yang sama seperti saat Gisel keluar tadi .

__ADS_1


Gisel meletakkan nampan berisi bubur dan air minum diatas nakas dekat tempat tidur tersebut .


" Nyonya makan dulu ! biar tubuh Nyanya bisa bertenaga! ucap Gisel dengan lembut .


Elin tetap saja terdiam tanpa ada respon sedikit pun dari ucapan Gisel .


Gisel kemudian menyentuh lembut kulit lengan Elin dan mengusapnya dengan sangat hati hati.


"Nyonya Ayo makan dulu nanti Nyonya tambah sakit " ucap Gisel dengan mengusap lengan Elin dengan sangat sangat lembut .


Dapat sentuhan dari sesorang, Elin mulai bereaksi Elin menatap Gisel dengan sorot mata membunuh dan tiba tiba Elin menyerang Gisel secara bertubi tubi.


"B4jingan kau , pembunuh kau , penghianat kau , perebut kau " teriakan Elin dengan menarik rambut milik Gisel .


"Ampun Nyonya Ampun " ucap Gisel sambil menahan kedua tangan Elin yang semakin keras menjambak rambutnya .


Elin terus menarik rambut Gisel sehinggan terjatuh dan kepalanya terbentur di sudut ranjang yang terbuat dari kayu .


"Aku menang , aku menang penjahatnya mati hore hore hore " ucap Elin sambil melompat lompat diatas ranjang sesekali membuang bantil dan gulingnya di udara .


Sementara itu Aldo yang sudah kembali dari perusahaanya melangkah masuk kedalam rumah.


Aldo masuk dalam biliknya dan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang .


" Kenapa hari ini badanku terasa capek sekali ! ah baiknya aku mandi dulu supaya segar " ucapnya sambil memasuki bilik kamar mandi.


Tidak lama kemudian ritual mandinya sudah selesai , wajahnya yang tampan di tambah tubuhnya yang mirip binaragawan itu membuatnya nyaris sempurna.


Aldo siap siap menuju meja makan setelah menggunakan pakaian santai ala rumahan .


Bi surti yang sedari tadi menunggu tuannya datatang menarik kursi dan mempersilahkan Aldo untuk duduk .

__ADS_1


"Silahkan Tuan "ucap Surti setelah menarik kursi buat Aldo .


"Heem " jawab Aldo singkat .


Belum juga Aldo menyentuh sesuatu Aldo kemudian teringat pada Gisel .


"Bi Gadis kecil itu dimana ? ucap Aldo tanpa melihat ke Arah Surti .


" Maaf maksud Tuan Nyonya Gisel " ucap Surti memperjelas ucapan Aldo .


" Heem " ucap Aldo singkat padat dan tidak jelas.


" Tadi Nyonya membawakan bubur Ayam buat Nyonya Elin, tapi sejak masuk Nyonya tidak kelihatan lagi Tuan " ucap Surti menjelaskan dengan detail .


"Apa .....? ucap Aldo dan berlari ke arah bilik Elin .


Aldo mendobrak pintu tersebut tapi ternyata pintu tidak terkunci, tubuh Aldo langsung menerobos masuk dan terjatuh diatas tubuh Gisel .


Bibir mereka saling bersentuhan Aldo membulatkan matanya tapi tetap tidak melepaskan ciuman itu .


Aldo baru tersadar setelah sebuah bantantal guling mengenai kepalanya .


" Jahat , penghianat " ucap Elin sambil memukul mukul kepala Aldo dengan bantal guling .


Alda bangkit dan menatap Elin dengan Wajah emosi .


" Apa yang ibu lakukan ! ibu bisa saja membunuhnya " Bentak Aldo dengan sangat keras kepada Elin .


Mendengar bentakan dari Aldo, Elin langsung terdiam terpaku di tempat tidurnya. Elin menutupi wajahnya dengan bantal guling saking takutnya ia kepada Aldo .


Aldo mengangkat tubuh Gisel kemudian membawahnya pergi .

__ADS_1


👉budayakan vote ,like and comen ya teman teman makasih .........


__ADS_2