ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
142. SEMANGKA.


__ADS_3

Aldo terus membawa tubuh kecil Gisel menuju kearah taman. Tampak dari kejauhan seorang perempuan parubaya sedang duduk di kursi besi sambil menikmati secangkir teh hangat dan beberapa cemilan di atas meja kaca.


Aldo melangkah dan membawah tubuh kecil Gisel mendekat kearah perempuan parubaya itu yang tak lain adalah Elin Ibunya.


"Ibu...." ucap Aldo setelah Ia dan Gisel berada pas di belakang Elin.


Elin yang mendengar suara Aldo sontak berbalik dan mengeryitkan dahinya melihat Anak dan mantu kesayanganya.


"Hay Aldo, apa yang Kamu lakukan pada wanita hamil itu. Turunin tidak!." ucap Elin membentaki Aldo sembari membulatkan kedua bola matanya.


Bukanya takut Aldo malah tertawa terbahak-bahak hingga membuat Gisel menepuk dadanya.


"Kanda turunin! apa kamu tidak takut dengan kemarahan Ibu!" ucap Gisel sembari menepuk lembut dada milik suaminya.


"Nach ini lagi satu, Kanda-kandaan! kenapa Tidak sekalian sekalian kandang ayam. Astaga dasar pasangan somplak." ucap Elin menatapi mereka dengan tatapan tajam.


"His...Ibu ini, Menjatuhkan wibawah anak sendiri di depan Dinda sang permata hati." ucap Aldo sambil megedip- ngedipkan matanya seperti kucing yang lagi kena birahi.


"Eh...disuruh turunin malah berkedip seperti lampu merah! Aldo, Kalau sampai terjadi apa-apa dengan menantu dan calon cucuku sudah kupastikan kamu akan kupanggang didalam oven yang bersuhu di atas seratus derajat celcius, paham!" bentak Elin sambil bangkit dari tempat duduknya dan menatap tajam kearah Aldo.


"Ibu ini tidak mau melihat orang bersenang -senang. Lagian, Ibu kayaknya lebih menyayangi mantu dan calon cucu di banding darah daging Ibu sendiri sampai tega ingin memanggang tubuh kekar Aldo di dalam oven. Baiklah- baiklah Aldo akan menurunkan si rata ini agar ibu senang dan bahagia." ucap Aldo sembari mendudukkan tubuh Gisel diatas kursi panjang pas di sebelah kursi Elin.


Tapi belum juga tubuh Gisel duduk dengan sempurna diatas kursi Aldo sudah meringis kesakitan

__ADS_1


"Awo...Sayang kenapa kamu menjewerku." Ringis Aldo sembari mengusap- usapi daun telinganya yang sedikit terlihat merah.


"Kamu masih mejulukiku si rata! Hay Alimuddin Kamu sudah lihat sendiri bukan! bentuknya sudah seperti semangka dan Kamu juga sudah tahu sendiri siapa pelaku utamanya selama ini." ucap Gisel menatap Aldo dengan membulatkan kedua matanya.


Aldo yang tadinya merasa sedikit jengkel akibat mendapat jeweran dari Gisel langsung tersenyum kuda dan memperlihatkan gigi putih gadingnya kepada Gisel dan Elin.


"Astaghfirullah! sungguh keluarga yang aneh, konyol dan mesum. Semoga cucu Ibu nanti tidak ada yang menuruni sifat kedua orang tuanya. Aamiin ya rabbal alamin" ucap Elin menggeleng-gelengkan kepalanya sambil duduk kembali di kursi yang tadi ia duduki.


Gisel hanya tertunduk malu lain halnya dengan Aldo ia terus tersenyum dan duduk di samping Gisel sambil melingkarkan tanganya di lengan kecil istrinya itu.


Lama mereka terdiam disana hingga Elin kembali membuka pembicaraan.


"Apa kalian berdua sudah mengetahui jenis kelamin cucu Ibu" ucap Elin memandang kearah Aldo dan Gisel.


Gisel menatap kearah Aldo karna ia canggung untuk menjawabnya.


Elin terdiam ada rasa bersalah di dalam hatinya setelah mendengar ucapan Aldo. Waktu kecil Aldo jarang sekali mendapatkan kasih sayang darinya akibat kesibukanya bekerja, ditambah lagi perceraianya dengan Surya membuat Aldo tumbuh menjadi manusia pendiam, dingin dan Arogan. Untung Aldo bertemu Gisel sehingga membawa perubahan besar pada pria itu. Dari awalnya pemurung dan pendiam menjadi seorang yang periang dan jail. Tapi itu Aldo lakukan hanya pada Gisel, Jhony atau Ibunya saja. Kalau yang lain jangan coba-coba Aldo tidak akan memberi ampun pada orang-orang yang mengusik atau mengganggu ke tenanganya.


"Nak maafin Ibu." ucap Elin dengan raut wajah sedih.


Aldo dan Gisel saling menatap.


"Ibu sudah menelantarkanmu waktu kecil, Ibu terlalu egois mengejar cita-cita Ibu hingga Ibu tidak sadar kalau ada seorang anak yang sudah Ibu terlantarkan." ucap Elin dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Gisel menepuk lengan Aldo dan menyuruh Aldo mendekati Ibunya dengan memakai isyrat mata.


Aldo bangkit dari tempat duduknya dan melangkah mendekati Elin.


"Ibu tidak usuh mengingat semua itu lagi. Aldo sudah iklas seiklas-iklasnya. Aldo malah bangga memiliki seorang Ibu yang kuat dan tegar, .walau badai dan prahara rumah tangganya sedang hancur sehancur -hancurnya. lagian kita dulu sepakat akan melupakan semuanya dan memulai hidup baru." ucap Aldo memeluk tubuh Elin dari belakang sambil menciumi pucuk kepalanya.


"Trimah kasih nak!" ucap Elin mengusap tangan Aldo sambil tersenyum.


"Sama- sama Bu, cup" ucap Aldo dan mendaratkan satu ciuman di pipi Elin kemudian melangkah kembali mendekat kearah Gisel dan duduk seperti sediakala.


Para pelayan yang menyaksikan dan mendengar langsung kenjadian tersebut ikut terharu di buatnya. Ada yang menyeka sembunyi air matanya bahkan ada yang memang terang-terangan melakukannya sakit terharunya dengan drama barusan.


Kembali suasana gembira terlihat di sana. kelakuan dan kekonyolan Aldo membuat kedua wanita yang ada di dekatnya itu terbahak- bahak di buatnya.


Hingga mereka bertiga sontak terdiam setelah mendengar ada keributan dari arah belakang mereka.


"Nyonya dan Nona, Kalian jangan masuk! sebelum Tuan Aldo mempersilakan Anda berdua untuk masuk" Jegal Jhony pada dua perempuan yang sedang merontah-rontah sambil berteriak memanggil nama Aldo dan Elin.


"Jangan halangi kami sekertaris bodoh atau kamu akan mendapatkan akibatnya setelah Aldo dan Nyonya Elin mengetahui perlakuanmu pada kami berdua." ucap seorang perempuan parubaya seumuran Elin dengan gaya glamour.


"Jaga ucapan Anda nyonya! Andai Anda bukan seorang perempuan sudah dari tadi kuacak-acak mulut rombenganmu itu" ucap Jhony yang begitu geram mendengar perempuan parubaya itu menyebutnya sekertaris bodoh.


"Kamu ini cuman seorang rendahan dan cecerut di perusahaan milik calon menantuku tapi, lagakmu seperti Bos mengalahkan Tuanmu sendiri. Ingat ! jika Aldo nanti jadi menantuku, kamulah orang yang pertama yang Aku tendang dari perusahaan besar itu." balas perempuan parubaya itu dengan congkak.

__ADS_1


"Hii....." ucap Jhony sambil membunyikan Giginya. Tanganya sudah di kepal ingin memukuli perempuan parubaya itu tapi, tetap saja ia tahan mengingat orang yang berdiri di hadapanya itu adalah seorang perempuan. Andaikan dia pria mungkin sudah sejak tadi Jhony menghancurkan wajahnya hingga tidak berbentuk manusia lagi.


👉tetap beri like,vote, coment dan rate bintang lima ya trimah kasih.


__ADS_2