
Sepeninggalan Gisel dan Bi Nining. Bu Lela bangkit dari meja kerjanya dan berjalan menuju sofa di mana Elin dan Melly sedang duduk terdiam disana.
Bu Lela duduk di samping Elin menggantikan Gisel yang tadi duduk di sampingnya.
"Lela siapa sebenarnya Bi Nining itu?." ucap Elin saat Bu Lela sudah duduk tepat di sampingnya.
"Aku juga tidak tahu pasti siapa sebenarnya beliau itu. Tujuh belas tahun yang lalu, Aku dan Almarhum Ibu menemukanya di depan panti. Tubuhnya di penuhi dengan darah. Dua buah tas rangsel dan satu buah Koper menghimpit tubuhnya yang saat itu sedang terbaring diatas trotoar. Kamu masih ingat bukan, perempuan yang kala itu hanya mengurung diri di kamar?." ucap Lela sambil mengingat peristiwa tujuh belas tahun silam.
"Oh iya, Aku ingat! Kalau begitu Bi Nining adalah penghuni pertama panti ini" ucap Elin menatap lekat kearah Bu Lela.
"Betul sekali! Panti inikan berdiri tujuh belas tahun silam. Waktu itu Kamu sendiri yang menunjuk Almarhum Ibu sebagai kepala panti. Susah jelasin sama Kamunya, Kamu waktu itu sibuk sekali bergelut di dunia modeling sampai- sampai Aku dan Almarhum Ibu setiap sore duduk berdua di taman menunggui kapan Kamu datang melihat perkembangan panti ini." ucap Lela sedikit ngambek bila mengigat peristiwa tujuh belas tahun silam.
"Iya maaf sayangku! Waktu itu memang Aku sibuk sekali bergeluk di dunia lengak-lenggok itu. Dan apa Kamu tahu!, Dalam bidang model itu pulalah, maka Aku berusaha keras mengumpulkan dana untuk membangun panti ini. Aku bertemu banyak jenis manusia disana. Ada yang seperti malaikat tapi hatinya busuk seperti bangkai, ada yang jahat kelihatan tapi hatinya lembut, dan parahnya lagi ada yang jahat di luar jahat pula di dalamnya. Para orang-orang kaya berlomba-lomba memangumpulkan uang sebanyak-banyaknya tanpa peduli lagi dengan keluarga mereka. Tidak ada lagi kasih sayang antara anak dan orang tua dalam hubungan keluarga. Pagi berangkat, pagi juga baru pulang, itu pun kalau mereka pulang. Uang dan uang, cuma itulah yang ada diotak mereka. Bila seseorang diantara mereka sudah tidak berproduktif lagi maka akan diasingkan dalam bahasa kasarnya di buang, ya seperti para manula yang ada disana. Kamu tahu tidak!, hampir semua penghuni panti ini memiliki anak yang kaya. Mereka tersisih karna sudah dianggap beban buat mereka. Semoga saja keturunan kita tidak ada yang membuang kita saat kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Aamiin". ucap Elin mengingat kembali sebagian masa lalunya waktu dirinya bergeluk di dunia model.
"Separah itulah dunia saat ini. Mereka membuang orang tua mereka yang selama ini telah membelai mereka dengan kasih sayang. Apa mereka sudah tidak mengingat bagaimana perjuangan orang tua mereka sebelum mereka menjadi manusia seperti itu. Sungguh, namanya saja manusia tapi, kelakuan mereka itu sudah sepadan dengan hewan." balas Ibu Lela.
Lain hanya dengan Melly, gadis cantik itu hanya termenung, pandanganya kosong kearah depan. Ia mengingat kembali betapa kerasnya kehidupan yang ia alami bersama Ibunya dulu.
Melly harus berjuang mencari uang demi pengobatan Ibunya dan kebutuhan mereka sehari-hati sejak Ayahnya meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Dalam hati Wanita malang itu berucap, Andai saja saat itu, dia punya banyak uang, mungkin ibunya tidak akan secepat itu menghadap Ilahi.
Tidak terasa air matanya menetes mengingat penderitaan- penderitaan yang ia lalui bersama ibunya dulu.
"Nak kamu kenapa!" ucap Elin sambil mengusap punggung Melly.
Melly yang mendapat sentuhan lembut di punggungnya sontak tersadar dari lamunanya.
Melly segera melap air mata yang membasahi pipinya.
"Aku mengingat Ibuku! Beliau meninggal karna kesalahanku. Aku tidak bisa mencari uang yang banyak untuk pengobatanya. Anak macam apa Aku ini menjaga Ibu saja Aku tidak becus!" ucap Melly sambil menutup wajahnya dengan kedua buah telapak tanganya.
Tanpa aba-aba Melly langsung menghamburkan pelukanya kearah Elin. Keduanya saling berpelukan. Elin membelai lembut pucuk kepala Melly hingga gadis malang itu benar- benar merasakan belaian mesra seorang Ibu yang selama ini hilang darinya.
Tidak lama kemudian dari arah pintu muncul Gisel dan Bi Nining saling berpegangan tangan menghampiri mereka bertiga.
"Melly kenapa kamu menagis! dan kenapa pula kamu memeluki Ibuku seperti itu." ucap Gisel duduk di samping Melly yang saat itu sedang berpelukan dengan Elin.
Melly dan Elin segera melepas pelukan mereka.
__ADS_1
"Idi...cemburan amat." balas Melly memukul lengan Gisel sambil memanyunlan bibirnya.
Semuanya pun terbahak-bahak mendengar ucapan Melly.
Tidak lama kemudian ketiganya pun berpamitan pada Ibu kepala.
Bi Nining menghantar mereka bertiga sampai di pintu keluar panti tersebut.
"Bi, apa benar Bibi tidak mau ikut dengan Gisel ke mension,?" ucap Gisel memegangi kedua tangan Bi Nining.
"Tidak usah Nona, Bibi sudah bahagia tinggal disini. Bibi tidak senang hati meninggalkan teman-teman Bibi." ucap Bi Nining sambil menggoyang-goyangkan tangan mereka.
"Baiklah kalau begitu! Kalau ada apa-apa segera kabari Gisel ya Bi.!" balas Gisel.
"Baik Nona." ucap Bi Nining sembari tersenyum.
Tidak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi keluar dari halaman panti dan menghilang di pembelokan pintu gerbang.
"Selamat kepada para pemenang vote. Author menghentikan perlombaan vote karna Author merasa peminatnya kurang...terimah kasih semuanya sudah memberikan vote akhir-akhir ini . terus vote, like, coment dan rate bintang lima ya trimah kasih.
__ADS_1