ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN

ANAK TERBUANG DAN CEO DINGIN
154.SEMUANYA TERUNGKAP.


__ADS_3

Semua mata tertuju kearah pintu masuk. Dan tampak dari sana seorang wanita hamil sedang berjalan memasuki ruangan itu ditemani seorang perempuan parubaya disampingnya sedang memeganginya.


Mata Tina dan Hambali seketika melotot melihat siapa gerangan yang datang saat itu.


Gisel berjalan melewati Hambali tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Beda halnya dengan Hambali, andai saja ia tidak sedang di pegang oleh anak buah Tina, mungkin pria parubaya itu sudah menghadang langkahnya.


Hambali tidak bisa berkata apa-apa. Hanya sorotan matanya saja yang terus mengikuti kemana arah kaki Gisel melangkah.


"Untuk apa pula Kamu datang kemari! bukankah Kamu sendiri yang menyuruhku untuk mengambil seluruh aset milik Hambali!." ucap Tina melangkah menuruni tangga menuju kearah Gisel.


"Benar sekali katamu Nyonya Tina, Aku menyuruhmu untuk mengambil semua aset dan surat-surat penting milik suamimu itu. Setelah itu serahkan kepadaku karna Akulah yang berhak atas semua itu dan lagi pula memang itu milik ibuku bukan?. Bukan milikmu ataupun milik dia" ucap Gisel sambil mengarahkan jari telunjuknya kearah Hambali.


"Ha ..ha ...tidak semudah itu Nyonya Aldo. Seluruh aset milik Hambali sudah sah jadi milikku. Jadi, kamu tidak bisa dengan mudah mengambilnya dariku." ucap Tina tertawa sinis kepada Gisel.


Lagi-lagi semua peserta lelang tercengang mendengar ucapan Tina.


"Apa wanita hamil itu istri Tuan Aldo?. Kenapa beritanya mendadak begini. Dan sejak kapan miliader muda itu menikah?." ucap salah seorang wartawan pada temanya.


"Aku juga tidak tahu. Tidak ada angin tidak ada hujan sang penguasa kota ini sudah menikah dengan seorang gadis cantik dan dalam keadaan hamil pula. Berita ini pasti jadi trending topik satu minggu ke depan." balas temanya yang berdiri di sampingnya sambil mempersiapkan diri untuk memotret wajah Gisel.


Tapi belum juga ia mengangkat kameranyanya, Jhony sudah memplototkan matanya sehinga sang warnawan tersebut mengurungkan niatnya untuk mengambil gambar Gisel.


"Apa Anda sudah puas tertawa Nyonya Tina?. Kalau begitu serahkan semua surat-surat palsu itu kepadaku karna Aku tidak mau ada lagi orang seperti kalian ini memperebutkan harta turun temurun keluargaku." ucap Gisel menyodorkan tanganya kearah Tina.


"Enak saja kamu bilang. Semua aset dari Hambali itu sudah legal jadi milikku. Jadi kamu tidak bisa semudah itu merebutnya dariku. kecuali kalau kamu ada bukti kepemilikan sah dan ada saksi hidup saat Diana menandatangani surat itu, baru kamu bisa memiliki seutuhnya." tantang Tina pada Gisel.


"Kamu benar-benar perempuan tidak tahu malu. Baiklah sebelum Kamu menyerah dan mengakui semuanya, maka jangan salahkan Aku bila Aku membuka aibmu di depat orang- orang itu. Dan Kamu tahu sendiri bukan! apa yang terjadi bila mereka mengetahui kebusukan kalian berdua selama ini." ancam Gisel pada Tina yang saat itu masih teguh dengan pendirianya atas kepemilikan aset itu.

__ADS_1


"Buktikanlah kalau kamu bisa!. Aku dengan senang hati akan menunggumu." Tantang Tina pada Gisel sambil melipat kedua tanganya di depan dada.


"Baiklah kalau begitu keinginanmu Nyonya Tina. Bi sekarang giliranmu, Jangan takut karna Aku selalu ada di pihakmu." ucap Gisel sembari tepukan lembut di punggung Bi Nining yang saat itu sedang berdiri tepat di samping kirinya.


Bi Nining sesaat memandang kearah Gisel ada sedikit kekuatiran dari wajah perempuan parubaya itu.


Tapi dengan pelan Gisel megelus pundaknya lalu tersenyum kemudian menganggukkan sedikit kepalanya untuk memberi semangat pada Bi Nining agar ia tidak takut menghadapi Tina.


Bagai diberi semangat setelah mendapat senyuman manis dari Gisel, Bi Nining sedikit mengangguk serta menarik nafas dalam- dalam dan menghempaskanya dengan kasar.


Pelan- pelan Bi Nining mengikat rambutnya yang sedari tadi ia biarkan terurai begitu saja. Tampak di sekitar wajah dan leher perempuan parubaya itu di penuhi beberapa bekas luka.


"Nyonya masih mengenalku!." ucap Bi Nining menatap kearah Tina.


Tina mengeryitkan dahinya memandang lekat kearah Bi Nining. Tina mencoba mengingat kembali siapa perempuan yang ada di hadapanya saat itu. Tapi tetap saja ia tidak bisa mengingatnya.


"Siapa kamu! Kenapa bisa kamu mengenaliku dan apa hubunganmu dengan Nyonya Aldo ini!." ucap Tina sedikit membentak kearah Bi Nining untuk memberi rasa takut pada perempuan itu.


"Maaf Nyonya! Nyonya tidak usah membentakku seperti itu. Karna aku tidak bakalan takut seperti dulu saat kamu tidak memperlakukanku secara manusiawi. Baiklah kalau Nyonya lupa. bagaimana dengan tanda ini apa Nyonya mengingatnya." ucap Bi Nining sambil menurunkan sedikit kerah bajunya dan memperlihatkan bekas bakar pada area itu.


Mata Tina terbelalak, Ia mengingat kembali peristiwa Delapan belas tahun silam. Dimana ia menyiksa Bi Nining dengan memanaskan besi bertuliskan hurup P ke keatas kompor gas dan menempelkanya kearah dada perempuan itu.


"Kamu pembantu sialan itu bukan?." ucap Tina dengan memplototkan matanya kearah wajah Bi Nining.


"Nyonya terus mengataiku sialan dari dulu sampai sekarang. Tapi hari ini, aku yang akan membawakan sial itu untuk Nyonya. Akan ku paparkan semua apa yang Anda lakukan pada Nyonya Diana waktu itu bersama dengan lelaki yang tidak punya rasa terimah kasih itu." ucap Bi Nining dengan bibir bergetar menunjuk kearah Hambali yang saat itu hanya bisa tertunduk meratapi nasibnya.


Mata Tina melotot. Sekali lagi Bi Nining berbicara maka tamatlah sudah riwatnya.

__ADS_1


"pegawal habisi perempuan ini." ucap Tina menyuruh para bodyguarnya untuk menghabisi Bi Nining.


Tapi belum lagi para bodyguard itu maju Aldo dan Jhony sudah menghadang mereka dan memukuli mereka satu persatu.


Pertarungan sengit pun terjadi, enam melawan dua. Bagi Aldo dan Jhony hal seperti ini sudah biasa bagi mereka berdua dan tidak perlu mereka mengerahkan anak buah mereka untuk menghadapi cecengut seperti itu.


Hanya butuh waktu sepuluh menit saja para anak buah Tina sudah terkapar di atas lantai tampa bisa lagi untuk berdiri.


Semua mata saat itu sangat kagum melihat aksi kedua pria tampan itu.


"Na, sekarang giliranmu! Nyonya." ucap Bi Nining menangkap tubuh Tina dan mengunci lehernya dari arah belakang.


Tina mencoba merontah tapi tenaganya tidak sekuat dengan tenaga yang di miliki oleh Bi Nining.


Sementara itu, Tony mencoba untuk maju tapi dengan sigap Jhony mengarahkan telunjuknya kearahnya sehingga pria itu sontak terdiam tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kalian semua yang ada di sini buka mata dan telinga kalian baik-baik. Perempuan yang bertopengkan malaikat ini sebenarnya adalah jelmaan iblis. Ia meracuni pelan-pelan Nyonya Diana dan membalik fakta kalau Nyonya Diana terkena kangker. Aku terus mengawasi gerak gerik mereka berdua atas suruhan Nyonya Diana. Tapi naas mereka berdua menemukanku saat sedang menguping pembicaraan mereka saat berencana mebalik namakan semua aset milik Nyonya Diana atas nama Hambali. Aku disiksa dan dibuang bersama dengan barang- barangku di sebuah panti jompo yang sekaring ini Aku tempati. Dan untungnya Nyonya Diana menyelipkan semua aset berharganya dalam tasku waktu itu sehingga keaslian dari surat- surat itu masih terjaga baik sampai saat ini" ucap Bi Nining menguraikan semua peristiwa yang terjadi saat itu.


Semua orang kembali tercengang mendengar penuturan dari Bi Nining. Sungguh mereka tidak menyangka kalau Hambali dan Tina tegah melakukan hal itu pada Nyonya Diana.


"Bunuh saja mereka. Manusia seperti mereka itu tidak layak untuk hidup" ucap seorang yang sangat emosi mendengar cerita dari Bi nining .


"iya bunuh saja" ucap para peserta lain dengan serempak.


"Tenang-tenang ini negara hukum. Jadi biarkan pihak yang berwajib yang akan menaganinya" ucap seoran wanita cantik masuk kedalam ruangan itu membawa beberapa anggota kepolisian dibelakangnya.


👉 tetap beri like, coment, vote dan rate bintang limanya ya trimah kasih...

__ADS_1


__ADS_2