
Siang itu Gisel sudah melakukan ritual mandinya dan lagi asyik-asyik merias wajahnya di depan cermin.
Seperti rencana sebelumnya.
Siang ini Gisel dan mertuanya berencana menghadiri arisan tembak yang setiap bulanya diadakan oleh Ibu-Ibu pengusaha yang ada di kota itu.
Jumlahnya uangnya pun tidaklah main-Main, mulai dari ratusan juta hingga milyaran rupiah. Tiga puluh persen dari hasil arisan tersebut di sumbangkan ke panti sosial yang juga ada di kota itu.
Elin termaksud orang yang aktif bila menyangkut kemanusiaan. Sejak Elin bergulat di dunia modeling, sebagian penghasilanya disumbangkan ke panti atau lembaga yang menagani kesejahteraan masyarakat. Dan dari hasil pekerjaannya sebagai model jugalah Ia kini sudah memiliki sebuah panti jompo dari hasil keringatnya sendiri.
Sementara Gisel sedang merias diri di depan cermin. Aldo yang sedari tadi membaca majalah bisnis sambil seloncoran diatas tempat tidur seketika menghentikan kegiatanya.
Dahi pria itu mengkerut ketika melihat wajah istrinya dari pantulan cermin rias. Aldo segera menutup majalah bisnis yang dibacanya kemudian meletakkanya diatas lemari kecil yang ada disamping pembaringan.
Aldo turun dari atas pembaringan dan melangkah kearah Gisel yang sedang asyik merias wajahnya.
"Sayang Kamu sebenarnya mau ke tempat arisan atau mau ikut perlombaan kecantikan si!. Kenapa kamu merias diri kalah-kalah artis ibu kota. Cukup! Aku tidak mau Kamu ke arisan itu kalau bentukMu seperti kunti lanak memakai pemerah pipi seperti ini" ucap Aldo sambil merampas kuas rias dari tangan Gisel.
Sontak mata Gisel membulat sempurna seketika.
"Emang ada kuntilanak memakai pemerah pipi! Aldo sayang, kalau Aku tidak berdandan ke acara itu apa kata teman-teman Ibu nantinya. Pasti mereka semua akan tertawa kalau melihat seorang Ibu pengusaha sukses, tertampan, terkaya dan tersohor membawah pelayanya ikut kearisan mewah yang di penuhi oleh Ibu-Ibu dari kalangan atas," ucap Gisel sembari merampas kembali kuas rias yang berada di tenga Aldo.
"Coba saja kalau mereka menertawai Ibu atau IstriKu. Kupastikan semua perusahaan suaminya akan rata dalam waktu tidak cukup dari satu hari" balas Aldo sedikit tegas.
"Kau ini! selalu saja mengunakan kekuasaanMu untuk menekan orang lain," ucap Gisel melanjutkan merias wajahnya.
"Makanya kalau tidak mau celakakan jangan coba-coba mengusik keluarga Aldo karna fatal akibatnya paham,!" balas Aldo sambil menyandarkan kepalanya di bahu Gisel sebagai tumpuanya.
"Baiklah-baiklah Kamu memang yang terbaik," ucap Gisel yang tidak mau lagi melanjutkan perdebatanya.
Aldo tersenyum lebar sambil memandangi kedua wajah mereka di dalam cermin.
__ADS_1
"Sayang bagaimana kalau kita umumkan pernikahan Kita di media, agar supaya tidak ada lagi yang akan mengganggu ke tenanganMu karna Kamu sudah menyandang gelar istri dari Aldo sanjaya." ucap Aldo yang masih saja merasa nyaman meletakkan kepalanya di bahu Gisel.
"Ja.....ngan Dulu Kanda! biarkan anak Kita lahir dulu, setelah itu baru kita publikasikan pernikahan ini ke kalayak ramai." balas Gisel sedikit gugup karna Dia tidak ingin keluarga Hambali tau kalau Dia adalah istri Aldo sebelum Ia membalas sakit hatinya pada keluarga Ayahnya itu.
"Baiklah kalau itu yang Kamu mau sayang, Aku akan menuruti keinginanMu. Tapi ingat! setelah Dinda melahirkan, Dinda tidak boleh lagi bebas kemana-mana, semua kehidupan Dinda hanya untuk Kanda dan buah hati Kita Oke, Cup," ucap Aldo sembari mendaratkan sati ciuman ke pipi Gisel.
Gisel tidak menjawab dengan ucapan tapi Ia hanya tersenyum menandakan kalau Diirinya setuju dengan ucapan Aldo barusan.
Sementara itu, Melly yang sebelumnya sudah di telponin oleh Gisel untuk menemaninya ke acara arisan sudah bersiap-siap keluar dari kamar kosnya.
Setelah persiapanya dirasa cukup, Gadis cantik itu melangkah kearah pintu keluar. Melly membuka daun pintu kamarnya setelah itu menutupnya dan tak lupa mengincinya.
Melly terus melangkah keluar dari halaman kosnya tersebut menuju kearah pintu gerbang.
Tampak dari sana seorang tukang ojek sedari tadi sudah menunggui kedatanganya.
"Idi.... lama bangat si macam siput yang tidak memiliki cangkan,"ucap tukang ojek bersuara perempuan yang tak lain adalah Lina.
"Jadi..! Kamu mengataiku cangkangkang ah! Kalau begitu Kamu cari ojek lain saja." ucap Lina sambil membunyikan mesin kendaraanya.
"Jangan dong mba "please" Aku sudah terlambat nich, pasti Gisel akan memarahiKu habis-habisan kalau Aku tidak tepat waktu tiba disana." ucap Melly menghadang Lina dari arah depan sembari membentangkan tanganya menghalangi kepergian Lina.
"Makanya jangan coba coba melawanKu ha ha ha. Ayo cepat naik soalnya bukan cuman penumpang bawal sepertiMu yang mau Aku antar hari ini. Banyak artis dan Ibu pejabat sudah masuk dalam daftar ListKu yang ingin menumpang kendaraan mewahKu ini" ucap Lina sambil mengusap kepala sepeda motornya.
"Ha ..ha ..ha ..Artis dan Ibu-Ibu pejabat naik ojek! Apa kata dunia. Sekejam itu kha dunia sekarang sampai-sampai artis dan Istri pejabat yang memiliki uang banyak harus ngantri demi menaiki motor buntut seperti ini" ucap Melly terbahak-bahak sambil memukul sadel sepeda motor Lina.
"Melly.....," teriak Lina sakin jengkelnya.
"Iya ..iya maaf," Melly seketika diam dan mengambil helm dari tangan Lina.
Tak lama kemudian, kini kendaraan yang mereka tumpangi melaju memasuki pusat perkotaan dimana Gisel sedang menunggui kedatangan Melly.
__ADS_1
Sepeda motor Lina tiba-tiba berhenti ketika lampu merah menyala.
"Aduh lampu merah lagi," gerutuh Melly.
"Kalau tidak mau lampu merah Kamu manjak kesana dan nyalakan lampu hijauhnya."balas Lina sambil menunjuk kearah tiang lampu merah.
"Emangnya Gue monyet apa! disuruh manjati tiang lampu merah," ucap Melly sambil menepuk punggung Lina.
"Siapa Tau ...ha ha ..ha" ucap Lina terbahak bahak.
Melly tidak menjawab ucapan Lina, meladeni Lina sama saja Ia menanam ranjau pada dirinya sendiri. Lina begitu pintar memojokkanya hingga tidak bisa berkutik sama sekali.
Melly melayangkan pandangannya ke arah kendaraan yang ikut singgah akibat terjebak dalam lampu merah sama dengan posisi mereka saat ini.
Tiba-tiba mata Melly melihat seseorang yang tak asing baginya sedang berada diatas motor sport dan ikut singgah tak jauh dari tempat mereka saat ini.
"Itu kan Si kura-kura ninja! Tumben sekali Dia tidak mengendarai mobil! Kira kira mau kemana ya Dia?" ucap Melly yang terus menatap kearah pria yang ada diatas motor sport.
Tidak lama kemudian lampu merah pun beruba jadi hijau.
Semua kendaraan mulai melaju meninggalkan tempat itu.
"Lin boleh tidak Kamu ikuti motor besar itu,!" ucap Melly menunjuk kearah pria berjaket hitam yang terbuat dari kulit asli.
"Bisa tapi bayaranya dua kali lipat Gimana,?" balas Lina dengan sedikit berteriak.
"Kalau masalah uang pasti kamu jagonya! baiklah tapi jangan sampai Kita ketahuan kalau kita sedang mengikutinya," ucap Melly yang tak lepas pandanganya kearah pria berjaket hitam yang ada di hadapanya.
"Serahkan semua padaKu," balas Lina dan mulai membuntuti motor sport yang sudah sedikit menjauh dari mereka saat itu.
👉tetap beri vote, like, coment dan rate bintang limanya ya trimah kasih.
__ADS_1