
Hari terus berganti bulan dan bulan berganti tahun. Hingga Genap sudah umur si kembar menginjak usia empat tahun.
Suasana mension tidak perna sepih semenjak ke hadiran dua anak imut menggemaskan itu.
Perkembangan dan kecerdasan kedua putra Aldo dan Gisel berbeda dengan anak-anak seusianya.
Mereka menuruni kecerdasan Ayah mereka dan juga sifat konyolnya. Sedangkan untuk gaya bicara dan kelembutan mengikuti bundanya.
Pagi ini Gisel dan Aldo sedang bersantai di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh hangat dan ditemani beberapa cemilan diatas meja.
"Sayang anak-anak kita sudah mulai besar. Bagaimana kalau kita bikin satu bayi lagi. Siapa tau kali ini jenis kelaminya cewek jadi, ada yang nantinya menemanimu saat kamu ingin shopping, Arisan dan bercerita saat usia kita sudah sepuh." ucap Aldo sembari memeluk tubuh Gisel dari samping.
Gisel yang saat itu sedang menikmati secangkir teh di tanganya seketika tersedak dan segera memegangi dadanya.
"Sayang Kamu kenapa?." ucap Aldo begitu cemas sambil menggusap lembut punggung milik Gisel.
Sebelum menjawab Gisel terlebih dulu meletakkan Gelas yang ada di tanganya keatas piring kecil yang ada diatas meja.
"Ini semua gara-gara kamu Kanda.Apa kamu tidak sadar dengan ucapanmu tadi. Dan apa kamu tidak kuatir bila di dengar oleh kedua putra kita. Mereka itu cerdas, dengan ucapan kanda tadi mereka akan terus bertanya cara membuat bayi cewek. Apa Kanda bisa menjawab bila mereka mempertanyakan itu?. Tidak bukan?. Lagian nich ya, semua jatah telah kamu embat mulai jatah harian, jatah mingguan serta bulanan tak perna Kanda lupa. Andaikan seorang perempuan bisa melahirkan satu bayi dalam sebulanya mungkin Akulah salah seorang dari perempuan itu." ucap Gisel sembari merotasikan kedua bola matanya kearah Aldo.
"Berarti Kamu setuju kalau ada gadis mungil bersemayam dalam sini." ucap Aldo sambil mengelus perut rata milik Gisel.
Gisel tidak menjawab sama sekali, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar setiap ucapan koyol dari suami mesumnya itu.
Sebenarnya Gisel sangat malu setiap Aldo mengucapan hal tabu seperti tadi di depanya. Tapi sakin seringnya ia mendengar hal seperti itu dari mulut suaminya maka, lambat laun Gisel sedikit demi sedikit bisa menerimanya.
Namanya juga Aldo makin di larang makin menjadi. Tapi itu pun Aldo ucapkan di kala mereka hanya berdua seperti sekarang ini.
Ya mungkin sifat konyol itulah yang diwariskan Aldo pada kedua putranya selain paras tampanya.
Aldo terus saja menggangui Gisel hingga akhirnya Aldo terdiam setelah mendegar teriakan dari arah kamar milik Ibunya.
"Zaki............!" Teriak Elin dari dalam kamar membuat seisi rumah seakan bergetar dengan suara cempreng dari perempuan parubaya itu.
Dari arah kamar Elin tampak seoran bocah berumur empat tahun berlari kencang mendekat kearah Aldo dan Gisel.
"Ayah ..Bunda....!" ucap bocah Itu ngos-ngosan sambil bersembunyi di belakan Gisel.
Belum beberapa detik bocah itu bersembunyi lalu muncul Elin sambil membawa sesuatu di tanganya.
"Aldo, Gisel.......! Lihatlah apa yang di lakukan bocah tegik itu pada Ibu!. Bocah itu melukis wajah Ibu saat Ibu sedang tertidur pulas. Dan menghancurkan semua alat make up Ibu sampai tidak tersisa sedikit pun." ucap Elin dengan wajah sedih sambil memperlihatkan kapada Aldo dan Gisel bebarapa alat riasnya, bedak serta listip di kedua tanganya yang sudah tidak memiliki penutup lagi
__ADS_1
Aldo dan Gisel ingin sekali tertawa andai mereka berdua tidak mengingat yang namanya dosa. Siapa coba yang bisa menahan tawa ketika seorang perempuan parubaya berdiri di depan kita dengan wajah penuh coretan menyerupai kucing yang di penuhi bedak serta lipstik di setiap permukaannya.
"Kenapa kalian berdua hanya diam!.Apa kalian mau menyembunyikan bocah tegik itu di hadapanku." ucap Elin sedikit membentak Aldo dan Gisel padahal ia sudah melihat kaki kecil Zaki yang sedang bersembunyi di belakan Gisel.
Mendengar Omanya membentaki kedua orang tuanya, Zaki pelan- pelan keluar dari persembunyianya.
"Maafkan Zaki Oma! Ayah dan Bunda tidak ada hubunganya dengan apa yang Zaki lakukan pada Oma. Bila Oma mau menghukum Zaki hukumlah tapi jangan marahi Ayah dan Bunda Zaki." ucap bocah itu sambil menundukkan kepalanya di depan Elin.
Gisel dan Aldo saling memandang. Ada rasa sedih melihat Putra kesayangannya itu mengucap hal seperti itu dihadapan mereka. Anak sekecil Zaki sudah mau membela dan mengakui kesalahanya agar kedua orang tuanya tidak dapat marah dari Elin.
Elin tertunduk dan mensejajarkan tubuhnya dengan bocah kecil itu.
"Jangan sedih begitu, Oma hanya bercanda. Mana mungkin Oma memarahi anak-anak Oma dan cucu kesayangan Oma ini." ucap Elin sedikit mengangkat wajah kecil Zaki sembari menciumnya.
"Benarkah Oma tidak marah dengan Ayah dan Bunda Juga Zaki!" ucap Zaki begitu antusias.
"Betul dong sayang." ucap Elin kembali menciumi pipi tembem Zaki hingga bedak dan lipstik yang sedari tadi melekat di wajahnya sebagian sudah berpindah tempat ke wajah bocoh tampan itu.
"Kalau begitu besok-besok Zaki boleh dong lakuin hal yang sama ke wajah Oma untuk menyalurkan bakat lukis yang Zaki miliki!." ucap Zaki yang mulai tersenyum pada Elin.
"Kalau itu Oma tidak bisa jamin. Bakat melukis kamu, kamu curahkan ke wajah tampan Ayahmu itu, supaya hasilnya lebih sempurna sesuai dengan apa yang kamu inginkan." ucap Elin sambil menatap kearah Aldo dan mengedipkan matanya.
"Benarkah Ayah! Ayah mau bila Zaki menyalukarkan bakat melukis Zaki ke wajah tampan milikmu itu!." ucap Zaki begitu gembira menatap kearah Aldo.
"Nak, Kamu tidak boleh melakukan hal seperti itu pada Oma maupun pada Ayahmu. Kamu bisa menyalurkan bakat melukis kamu pada tempatnya seperti buku gambar atau kanvas yang memang khusus untuk melukis atau menggambar." ucap Gisel sembil mengusap punggung milik putranya.
"Iya Bun! Zaki minta maaf." ucap Zaki sembari memeluk Gisel.
Belum juga satu kegaduhan selesai timbul lagi ke gaduhan dari arah dapur.
Bunyi Alat dapur yang bergesekan dengan tegel sangat jaring terdengar dari arah sana.
"Tuan Ziko, jangan lari-larian nanti Tuan jatuh." teriak Bi Surti berlari kecil mengejar Ziko yang saat itu sedang menarik sebuah wajan besar diikat dengan tali menyerupai mobil-mobilan sambil tertawa terbahak-bahak menuju kearah ruang tamu.
Ziko terus berlari mendekat kearah Aldo, Gisel, Elin dan saudara kembarnya untuk menghindari kejaran dari Bi Surti.
"Ayah, Bunda......." ucap Ziko dengan suara khas anak-anak memanggil kedua orang tuanya.
Tidak lama kemudian Bi Surti juga tiba di tempat itu dengan deru nafas yang tidak teratur.
"Maafkan Saya Tuan dan Nyonya." ucap Bi Surti ngos-ngosan sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Bi Surti. Ini bukan salah Bibi tapi ini semua karna kejailan putraku. Jadi, tolong maafkan dia ya." ucap Gisel.
"Tidak apa-apa Nyonya. Namanya juga anak kecil pasti akan melakuin hal yang mereka anggap mengasyikkan bagi diri mereka. Bibi hanya takut bila Tuan Ziko jatuh saat berlari seperti tadi." balas Bi Surti sedikit merasa tidak enak hati pada majikanya.
"Ziko......." tatap Gisel pada putra bungsunya itu.
"Iya Bunda......! ucap Ziko sambil mendekat kearah Bi Surti dan memegangi kedua tanganya.
"Maafin Ziko ya Bi." ucap Ziko menegada keatas menatap wajah Bi Surti yang sedang berdiri di hadapanya.
Bi Surti berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh si kecil Ziko.
"Iya Tuan, Bibi memaafin Tuan Ziko." ucap Bi Surti sembari mengusap lembut rambut bocah itu.
"Trimahkasih Bi. Ziko sayang Bibi." ucap Ziko sembari menghamburkan pelukanya kepada Bi Surti dan dengan senyum bahagia Bi Surti membalasnya.
"Bibi juga sayang. Tuan muda."
Aldo, Gisel dan Elin terharu melihat adegan itu. Tidak sia-sia Gisel mengajar kedua putranya untuk selalu rendah hati dan mau meminta maaf kepada siapa pun saat mereka melakukan kesalahan.
Setelah kepergian Elin dan Bi Surti dari tempat itu. kini tinggal Aldo, Gisel dan si kembar bertahan di sana.
"Sayang, jadikan kita mengunjungi Ayah di lapas." ucap Gisel di selah-selah mengendongi kedua putranya.
"Hore...Kami ikut ya Bun. Kami sudah sangat rindu dengan kakek Ham." ucap Zaki dan Ziko bersamaan.
"Iya kalian boleh ikut!. Tapi kalian berdua harus janji pada Ayah kalau, ini yang terakhir kalinya kalian berdua duduk di pangkuan Bunda. oke!." ucap Aldo menatap kedua putranya.
Entah apa yang ada di benak Aldo saat. Sorot matanya yang tajam tidak henti-hentinya menatap kedua putranya dan istrinya secara bergantian.
"Memangnya kenapa kalau kami berdua duduk di pangkuan Bunda!. Jangan bilang kalau Ayah juga mau ikut-ikutan duduk bertiga bersama kami di pangkuan Bunda ini" ucap Zaki menatap heran kepada Aldo.
Gisel hanya tersenyum, ia tahu kalau Aldo lagi cemburu kalau kedua putranya selalu bersamanya.
"Ah sudahlah ...Kalian berdua mandi biar Ayah yang mandiin supaya kalian wangi lalu kita berangkat menjuguk kakek di lapas. Ayo Zaki naik ke punggung Ayah dan biar Ziko Ayah Gendong." ucap Aldo mengankat tubuh kecil Ziko dan sedikit membungkukkan badannya agar Zaki menaiki punggungnya.
Dengan cekatan Zaki menaiki punggung Aldo. Setelah kedua putranya benar- benar sudah aman bersamnya, Aldo melangkah menuju kamarnya untuk memandikan kedua jagoanya itu.
Gisel hanya tersenyum melihat tingkah konyol suaminya yang cemburunya kadang melampau batas normalnya sebagai seorang ayah.
Biarpun cemburu Aldo berlebihan pada putranya sendiri tapi rasa sayangnya ke pada kedua jagoanya itu tidak perna pudar. Ikatan Ayah dengan Anak terpatri indah dalam sanubari Aldo pada kedua putranya.
__ADS_1
"Ayo beri Vote sebanyak- banyaknya untuk mendapatkan pulsa dari Author.
Lima reader yang memiliki vote terbanya akan mendapat pulsa masing2 50 puluh ribuh dari Author . ingat mulai hari ini dan tutup pada tanggal 6 pukul 11.59. Tunggu apa lagi Ayo cepat sebelum ketinggalan dengan yang lain....Trimah kasih.