
Lama Aldo bersimpuh dihadapan Ibunya hingga Elin memegangi kedua lenganya.
"Berdirilah Nak, hari ini adalah hari yang membahagiakan buat Kamu, Gisel dan juga Kami. Jadi, jangan kamu menodai semua itu dengan kesedihan. Mari kita masuk dan melihat Aldo junior." ucap Elin sedikit menarik lengan Aldo untuk berdiri.
Aldo bangkit dari lantai sambil menghapus air matanya.
Ke empatnya masuk ke dalam kamar dimana Gisel sedang di tangani oleh Dokter setelah melahirkan.
Mereka melangkah mendekat kearah Gisel yang masih terbaring lemah diatas brankar.
"Nak, bagaimana keadaanmu!." ucap Elin sambil mengusap lembut kepala Gisel.
"Aku baik Bu! Tapi masih sangat terasa perih sehabis melahirkan." ucap Gisel dengan suara agak parau.
"Ia sayang! memang begitulah rasanya. Semua perempuan yang melahirkan akan merasa seperti apa yang kamu rasakan saat ini. Apa lagi kamu melahirkan secara normal. jadi pasti kamu akan terasa perih. lambat laun akan sembuh dengan sendirinya asalkan kamu mau menuruti semua kata Dokter." ucap Elin memberi semangat sekaligus memberi nasehat pada mantunya itu.
Sementara itu, Dokter dan suster sedang disibukkan membersihkan sekujur tubuh bayi serta bekas darah milik Gisel yang melekat pada beberapa kain yang mereka gunakan tadi dalam proses melahiran bayi. Mereka belum menyadari kehadiran Elin, Aldo, Melly, dan Bi Nining dalam ruangan itu.
Setelah merasa semuanya beres, Dokter perempuan yang tadi membantu Gisel dalam proses melahirkan bayinya berbalik sambil menggendong seorang bayi mungil dibalut dengan kain bermotif bunga-bunga.
"Ee ...Nyonya Elin. Maafkan Saya, Saya sungguh tidak menyadari kedatangan Anda sakin asiknya membesihkan bayi mungil yang menggemaskan ini." ucap Dokter itu sambil membelai lembut wajah bayi yang sekarang ini berada di gendonganya.
"Tidak apa-apa Dokter Mira! santa saja kayak di pantai. Coba kemarikan cucuku aku ingin melihatnya." ucap Elin sudah tidak sabar melihat wujud cucu pertamanya itu.
"Ini Nyonya ambillah." balas Dokter Mira menyerahkan bayi mungil itu kepada Elin.
Elin langsung menerimanya. Dengan wajah berseri-seri. Perempuan parubaya itu tersenyum memandang sosok bayi yang sudah berada di pelukanya.
"Cucu nenek cantik sekali! Kamu mirip sekali dengan Ibumu." ucap Elin sambil mencium pipi Gembul bayi itu.
Dokter Mira mengeryitkan dahinya.
"Nyonya Cucu anda itu cowok bukanya cewek." ucap Dokter Mira sedikit tersenyum memandang Elin.
" Ah cowok! kok wajahnya cewek amat." balas Elin sambil membuka sedikit sarung yang menyelimuti tubuh bayi itu.
"Iya benar dia punya undur-undur." ucap Elin tertawa, menertawai dirinya sendiri.
Semuanya pun terrawa mendengar kekonyolan Elin barusan.
"Bu Dok, Ini bayi satunya kami sudah membersihkanya seperti perintah Ibu tadi." ucap seorang suster menyerahkan satu lagi bayi mungil kepada Dokter Mira.
"Aaaah....kembar." ucap Elin, Melly dan Bi Nining secara bersamaan.
"Iya Nyonya mereka kembar identik cuman rias wajah mereka mengikuti wajah masing masing orang tuanya. Yang Nyonya gendong itu mengikuti wajah Ibunya, sedangkan yang Saya gendong ini mengikuti wajah Tuan Aldo." ucap Dokter Mira menjelaskan.
"Trimah kasih ya Allah atas berkah yang tak terhingga yang Engkau berikan pada keluarga Kami." ucap Elin menegada keatas sambil mengucap syukur kepada Sang pencipta.
Elin dan Dokter mira meletakkan kedua bayi kembar itu di samping Gisel yang masih terbaring lemah.
"Aldo sebagai seorang Ayah kamu hari mengazani kedua bayi kalian." ucap Elin sambil menepuk punggung Aldo.
__ADS_1
Aldo mengangguk, kemudian mengankat salah seorang putranya dan membisikkan sesuatu di telinga bagian kananya.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah (2x)
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah (2x)
Hayya ‘alashshalaah (2x)
Hayya ‘alalfalaah (2x)
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
Laa ilaaha illallaah (1x)
Kemudian Aldo berpindah ke telinga bagian kiri bayinya dan berucap.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Asyhadu allaa illaaha illallaah (2x)
Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah (2x)
Hayya ‘alashshalaah (2x)
Hayya ‘alalfalaah (2x)
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)
Aldo mencium terlebih dahulu kening bayi mungil itu kemudian meletakkannya kembali ke tempatnya semula.
Sama halnya yang di lakukan dengan putra pertamanya tadi, Aldo mengangkat tubuh kembanaranya dan membisikkan azan di telinga kananya kemudian berganti ke telinga kirinya. Setelah selesai Aldo kemudian meletakkan kemali di tempat semula dekat Gisel.
Tidak lama kemudian, muncul Jhony dari arah pintu diikuti dua pria berbadan kekar sambil mendorong sebuah Inkubator masuk kedalam ruangan itu.
"Tuan sesuai pesanan Anda. Ayo bawa itu kesamping Inkubator satunya." ucap Jhony pada Aldo sambil memerintahkan bawahanya untuk meletakkan Inkubator berdampingan dengan Inkubator yang memang sudah di persiapkan Aldo sebelumnya.
Aldo hanya mempersiapkan satu Inkubator karna ia tidak tahu kalau bayinya lahir kembar.
"Trimah kasih Jhony...." ucap.Aldo singkat .
"Tumben.." ucap Jhony dalam hati lalu tersenyum dan membalas" Sama-sama Tuan".
Jhony mendekat kearah kedua bayi kembar itu dengan gemas pria tampan itu memegangi pipi si kembar secara bergantian.
"Kalian benar-benar imut dan menggemaskan. Kelak jika kalian besar nanti kalian boleh main dengan paman, paman akan mengajari kalian ilmu beladiri sehingga orang- orang akan segan pada kalian berdua." ucap Jhony sambil terus memegang lembut kedua pipi cabi bayi kembar itu.
"Ah..Aku tidak mau Anak -anakku bermain denganmu. Aku bisa mengajari mereka lebih dari yang Kamu tahu. Kalau kamu mau mengajar, ajari saja anak-anakmu." ucap Aldo menggeser tubuh Jhony menjauh dari bayi-bayi kembarnya.
"Kau ini cemburuan bagat! Dan mana mungkin pula Jhony mengajari anak-anaknya nikah saja belum apa lagi punya anak." ucap Elin sambil menepuk punggung Aldo.
__ADS_1
"Kan dia bisa menikah Bu." balas Aldo.
"Dengan Siapa?." balas Elin singkat.
"Dengan si Melon." ucap Aldo asal yang membuat wajah Melly memerah bukan karna senang tapi lebih tepatnya malu.
"Al...." ucap Gisel memplototkan matanya membuat Aldo menggaruk-garuki kepalanya.
Lama mereka terdiam disana, hingga Gisel mengingat kembali peristiwa sebelum mereka kerumah sakit.
"Jho ..apa pemakaman Dewi sudah kamu urus." ucap Gisel menatap kearah Jhony yang masih berdiri tegak seperti patung kayu.
"Sudah Nyonya semuanya sudah Aku bereskan sesuai dengan perintah Tuan Aldo." balas Jhony.
"Trimah kasih banyak Jhony." ucap Gisel lagi.
Jhony hanya mengangguk pelan.
"Jho dan Bi Nining kemarilah." ucap Gisel memanggil mereka berdua yang masih dalam posisi berbaring.
Jhony dan Bi Nining mendekat dan berdiri di samping brankar tempat Gisel berbaring.
"Bi keluarkan semua surat perusahaan milik ibuku." ucap Gisel pada Bi Nining.
"Baik Nona." balas Bi Nining membuka tas yang sedari tadi di bawanya dan mengeluarkan beberapa map dari dalam sana.
"Ini Nona Gisel." ucap Bi Nining menyerahkan beberapa map kearah Gisel.
Gisel mengambilnya, kemudian membuka
map tersebut satu persatu.
"Jhony ....Ambillah! semua aset perusahaan Ibuku kuserahakan kepadamu. Aku yakin dan percaya dengan kemampuanmu selama mengikuti suamiku. Kamu pasti mampu memajukan perusahaan itu dengan keahlian yang Kamu miliki. 40 persen dari hasil perusahan itu sumbangkanlah ke panti sosial atau lembagai kemanusiaan atas nama ibuku. Yang 60 persenya buat kamu." ucap Gisel menyodorkan map itu kearah Jhony.
"Tapi Nyonya ..." ucap Jhony dengan bibir bergetar.
Jhony sungguh tidak percaya kalau Gisel bisa mempercayainya mengelolah perusahaan besar milik Ibunya.
"Jhony, Aku tidak mau kamu menolaknya. Lagian, apa kamu tidak mau mematahkan kesombongan Ayahmu dan juga ibu tirimu itu!" ucap Gisel yang masih terus menyodorkan map itu kearah Jhony.
Seketika wajah Jhony berubah mendengan kedua orang yang sudah menyensarakan hidupnya dan juga ibinya.
Sebelum menetapkan hatinya mengambil map di tangan Gisel, Jhony menatap kearah Aldo dan Elin dan disambut anggukan dari kedua orang tersebut.
"Baiklah Nyonya dengan senang hati Aku menerimanya. Aku berjanji akan menjaga semua amanah yang Anda percayakan kepada Aku ini, walau nyawaku yang menjadi taruhannya." ucap Jhony menerima map itu dan tertunduk hormat pada Gisel.
Tungguh Giliran kalian!." ucap Jhony dalam hati selepas menerimah map dari tangan Gisel.
👉 sabar ya nunggunya...Author akan usahain novel ini tamat . Tapi tidak usah terburu- buru takutnya Endingnya tidak berbekas dalam hati kalian., walau author sudah gak dapat gaji bulan ini tapi, author akan tetap semangat memuaskan hati kalian ....makasih.
__ADS_1