
Arif dan pak Agus sedang duduk di ruang tunggu terdiam dengan pemikiran masing masing tentang pembicaraan mereka tadi dengan susi
" pak, sebaiknya bapak saja kalau mau istirahat di rumah Susi aku sama Mira bisa istirahat gantian di ruang rawat ibu sekalian jaga ibu" kata Arif sambil menoleh pada pak Agus dengan muka datar terlihat sekali kalau dia sedang merasa marah tapi berusaha untuk tidak menunjukkan di depan ayahnya.
" sedang ngobrolin apa nih kayaknya serius banget" tak mereka sadari kedatangan Mira yang langsung duduk di samping Arif
" itu bapak menyarankan bagaimana kalau kalian istirahat ditempat Susi saja kalian
kelihatan lelah sekali" kata bapak mencoba bicara dengan Mira walaupun pak Agus sudah dapat menebak jawaban dari menantunya
__ADS_1
" ga usah pa Mira bisa istirahat di ruang rawat mama aja kan berabe harus bolak-balik dari rumah sakit kerumah Susi km lumayan jauh terlalu makan waktu" kata Mira sambil memandang bapaknya
" iya pak kami bisa gelar tikar di bawah juga bisa pak, bapak aja kalau mau ketempat Susi lagian harus kita yang nyamperin dia seharusnya dia yang kesini" kata Agus dengan nada tertahan, Mira menatap lekat wajah suaminya sepertinya ada sesuatu yang membuat Arif bicara seperti itu, apa Arif masih marah dengan ucapan Susi ditelepon dulu, Mira tidak tahu kalau sebenarnya baru saja mereka habis teleponan lagi, Mira hanya mengangguk membenarkan ucapan suaminya
" iya lihat nanti saja" kata pa Agus singkat sambil menghela nafas panjang rasanya bebannya malah bertambah dengan sikap Susi yang begitu menyudutkan Arif dan Mira.
ketika mereka sedang duduk di kamar rawat Bu Diah terdengar suara pintu terbuka mereka langsung menoleh ke arah pintu, dan munculah Susi bersama suaminya ridwan, budiah yang melihat kedatangan anak kesayangannya pun terlihat senang setelah sekian lama tak berjumpa
" ini mbak aku bawa makanan dan buah" kata Susi sambil. menyerahkan sebuah kantong pada mira.
__ADS_1
" ibu bagaimana keadaannya? maaf Ridwan baru bisa nengok ibu Ridwan baru tau kalau penyakit ibu separah ini" kata Ridwan mendekati ranjang budiah, miira, Arif dan pak Agus saling tatap tak mengerti apa mungkin Susi tidak ngasih tau keadaan yang sebenarnya Bu Diah pada suaminya sebab tak mungkin ridawan berkata seperti itu kalau dia tau yang sebenarnya tapi kenapa Susi bersikap seperti itu.
" operasi nya kapan, ibu yang kuat jangan takut aku tahu ini pertama kalinya ibu melakukan operasi tapi tenang saja semua akan baik baik saja" lanjut Ridwan yang semakin membuat semua yang ada di ruangan itu keheranan selain Susi yang malah tambah gugup mendengar ucapan Ridwan, Arif menatap tajam kearah Susi sepertinya dia sudah tau apa yang terjadi kalau Susi menutupi semua ini dari ridwan. tapi kenapa Bu Diah kan ibunya Susi jawaban itu masih menjadi pr untuk semuanya
" ini bukan yang pertama buat mamah operasi ini yang kedua mama sudah dioperasi sebulan yang lalu karena sel kanker nya masih ada dan menyebar kebagian blain tubuh mamah jadi harus dioperasi lanjutan" jawab Arif dengan nada yang tak bisa diartikan
" hah kanker? bukannya hanya usus buntu?" kata Ridwan kaget langsung menatap tajam kearah istrinya dengan raut kekecewaan bercampur malu " kenapa tidak ada yang ngasih tau" sambungannya lagi
" itu mas maaf aku takut mas kepikiran soalnya mas kan lagi sibuk ngurus proyek itu jadi tidak fokus" kata Susi dengan nada dan muka gugup.
__ADS_1
" sesibuk apapun aku tapi kamu tidak harus menyembunyikan hal sepenting ini dariku susi" jawab Agus geram.
" sudah nggak apa-apa lagian kan ibu juga sekarang sedang ditangani oleh dokter ahli semoga kedepannya akan lebih baik, mungkin Susi khawatir kamu banyak pikiran" akhirnya Mira yang sejak tadi diam menjawab untuk mencairkan suasana. " mamah mau makan buah ini Susi ada bawa buah, mama mau buah apa" kata Mira sambil menunjukan kerang buah ke arah mertuanya, sebenarnya itu hanya pengalihan dari suasana tegang yang sedang terjadi di sana akhirnya mereka pun diam dengan pemikiran masing masing.