Batas Kesabaran

Batas Kesabaran
Bab 82


__ADS_3

Ridwan dan Susi yang sudah menerima rekaman dari Mira setelah mendengar semua rekamannya wajah Susi menegang pias tak bisa di pungkiri Susi ketakutan, Ridwan yang menyadari ekspresi wajah istrinya Ridwan langsung mendekap Susi dan membenamkan kepalanya di dadanya untuk memberikan ketenangan


" jangan takut aku ada disini lawan ketakutan dengan istighfar sholat apalagi didepan orang lain kamu wanita kuat bukan wanita lemah yang mudah menyerah dengan keadaan" kata Ridwan sambil terus mendekap Susi


" maaf karena aku kamu terseret dalam masalah" kata Ridwan yang sekarang menyadari keadaan Susi yang seperti ini karena dirinya, karena Ivan dendam padanya, Ridwan sudah menceritakan hubungannya dengan Ivan sekarang mereka sepakat untuk saling terbuka satu sama lain dan juga tentang mereka yang akan menjalani rumah tangga normal dan belajar saling menerima


" aku takut mereka akan melukai banyak orang " kata Susi dengan air mata yang sudah membasahi baju Ridwan


" kita hadapi sama sama" kata Ridwan sambil melerai pelukannya dan merangkum wajah Susi


" sudah jangan nangis lagi, aku nggak mau ya punya istri jelek dan cengeng kata Ridwan sambil menghapus air mata Susi dan menggodanya agar tidak mengira lagi


" ih kamu mah nyebelin tau nggak" kata Susi sambil mencubit pinggang Ridwan dan Ridwan malah tertawa melihat Susi yang cemberut dengan mata yang sembab


"sekarang kita harus berusaha untuk menyadarkan Arif sebelum Mona datang, dan ingat di hadapan mereka kita harus bersikap tak tahu apa apa dan jangan menimbulkan kecurigaan buat mereka sekarang kita temui Arif ya" kata Ridwan dan diangguki oleh Susi dan mereka pun berjalan Ridwan menggandeng tangan Susi lembut sampai diruang tengah terlihat Rayhan sedang bermain dengan kakeknya sambil nonton TV dan ketika melihat orang tuanya keluar Rayhan langsung menghambur ke pelukan Ridwan


"papa papa tau nggak aku tadi buat apa?" katanya lucu dengan pipi chubby


" apa ya kue" kata Susi


" bukan masa kakek masak kan kakek itu cowok" katanya Ridwan dan Susi tertawa melihat kelucuan anaknya.


" kalian mau kemana?" tanya pak Agus


" kita mau kerumah Arif dulu pa dari tadi dia belum keluar" kata Ridwan pada mertuanya

__ADS_1


" ya sudah Rayhan disini sama kakek lagi ya kita lanjutkan bikin layangan lagi" kata pak Agus


" kita bikin yang banyak ya kek nanti aku mau jualan" katanya semangat


" ok " kata pak Agus


" horeeeee...." kata Rayhan sambil loncat loncat


" jadi gak mau ikut papa sama Mama nih?" tanya Ridwan pada Rayhan,


" nggak ah mau sama kakek aja, papa mah nggak bisa bikin layangan kayak kakek, papa mah nggak bakalan bisa?" mereka semua tertawa melihat Rayhan yang sangat lucu


" ya udah papa sama Mama kerumah om dulu ya" pamit Ridwan pada Rayhan " pak kita ke depan dulu ya" pada pak Agus


" Assalamualaikum..." salam mereka berdua, terlihat Arif sedang melihat foto keluarga besar mereka yang masih lengkap saat masih ada Bu Diah dan Mira


" bang makan dulu ini aku bawain" kata Susi sambil menata makanan di piring


" makan dulu lah Rif biar kuat" kata Ridwan sbil menepuk bahu Arif pelan


" gue belum lapar "


" lu harus paksain makan gue gak rela ya bini gue ngurusin lu yang sakit kalo lu mau sakit tunggu ntar kalau udah punya bini" kata Ridwan


" ya sudah " akhirnya Arif pun makan walaupun tidak banyak, setelah selesai makan, Arif menoleh pada Ridwan

__ADS_1


" lu kapan nyampe wan ?" tanyanya


" semalem " kata Ridwan menjeda ucapannya " lu gimana baik?" tanya Ridwan


" ya gini deh gue serasa jadi orang yang paling nggak berguna di dunia tau nggak" kata Ridwan sambil tersenyum kecut


" wajar lu ngerasa kayak gitu, tapi lu akan jadi orang yang Peking nggak guna lagi kalau lu nggak bisa berubah" kata Ridwan " saran gue jadilah Ridwan yang dulu Ridwan yang kita kenal, lu tau orang yang paling care adalah bapak tapi sekarang sikap bapak sama lu berubah kan, dan itu semua karena lu yang ngerubah diri lu sehingga bapak pun nggak bisa Nerima perubahan yang terjadi sama lu, lu di jauhin keluarga, teman bahkan anak sama istri lu pun nyampe pergi itu semua karena lu yang ngerubah diri lu sendiri sampai kita semua nggak kenal siapa lu yang sekarang, kalau lu nggak bisa ngerubah diri lu siap siap aja lu nggak bakalan jadi orang asing buat kami, lu lihat mama, bagaimana perasaan lu ketika lu meregang nyawa anak laki laki yang lu harepin bukannya nuntun lu buat berdzikir tapi anak lu nggak nggak ada karena sedang berbuat hal yang sangat di benci oleh lu" kata Ridwan menjeda ucapannya,," lu tahu nggak ada satupun orang tua yang mau meneruskan anaknya semua orang tua ingin anaknya lebih baik dari mereka, coba lu lihat Syifa yang dulu begitu dekat sama lu sekarang dia malah jadi takut sama lu, semua orang yang ada di sekitar lu menjauh harusnya lu bisa mawas diri, coba tegas terhadap diri lu sendiri lu tolak semua hal yang bisa membuat diri lu dibenci sama orang dan orang akan kembali baik dan lu akan hidup nyaman atau milih stuck jadi seperti ini dan siap siap aja lu hadepin kehancuran lu," Ridwan kembali menjeda ucapannya untuk mengambil nafas panjang sebelum memulai pembicaraan


" gue kagak bilang kalau rasa yang ada didiri itu salah lu nilai sendiri lah kalau soal itu, kita laki ujung tombak keluarga maju mundurnya keluarga ada di tangan kita, lu kalau mau mencintai seseorang yaaaah yang banyak orang katakan buruk dari segi apapun tapi lu cinta sama dia lu nggak salah tapi lu tunjukkin sama semua orang kalau lu bisa ngerubah pandangan orang, orang yang mereka anggap buruk itu bisa lu rubah jadi lebih baik bukannya lu merubah diri lu jadi ikut buruk tapi lu rubah dia jadi lebih baik lu udah tua lu udah bisa nilai sendiri kalau menilai sebuah masalah itu jangan hanya dengar dan lihat dari satu sisi tapi lu lihat dari banyak sisi, lu lihat semua orang nggak ada satu pun yang suka sama Mona lu udah pernah coba rubah dia kejalan kita belum kalau lu udah sering coba tapi dia nggak mau merubah sebaiknya lu ubah haluan karena kali lu tetep dengan pendirian lu siap siap aja lu jadi ikut terjerumus sama dia, dan saran gue sebaiknya lu mundur ubah haluan,


lu seorang anak laki satu satunya dan orang tua lu yang ada cuma tinggal bapak dan mama sangat ngarepin doa dari lu, lu pasti tau Bahakan gue yakin sangat tahu kalau perbuatan seorang anak dari orang yang sudah meninggal dan semua amal perbuatan anak itu akan sampai sama orang yang sudah meninggal itu, kalau yang lu lakuin itu baik berarti di alam akhirat mama akan lebih baik tapi kalau yang lu lakuin penuh dosa mama yang sudah tenang di surga pun akan di tarik ke neraka, lu bisa bayangin dong gimana keadaan mama, sorry gue bukan ngancem lu, atau ngatain lu buruk soalnya gue juga bukan orang baik tapi gue rasa lu udah terlalu jauh ninggalin hal yang selama ini lu pegang kukuh sebagai seorang anak, suami, saudara bahkan seorang umat" Ridwan melirik dengan ujung matanya reaksi Arif dan ternyata Arif mendengar dengan air mata yang sudah basah di pipi.


" bang aku tau Abang begitu mencintai Mona sebab dia adalah cinta pertama Abang, tapi dia tidak baik bang aku sahabatnya yang tahu betul siapa dia bilang dia itu sangat tidak baik malah akan menghancurkan Abang dan keluarga kita, bang aku orang yang selama ini bergaul sama dia aku juga sudah terjerumus tapi untung ada mas Ridwan dan Rayhan yang nyadarin aku dan Abang tau sebenarnya aku bukanlah gadis suci lagi waktu dinikahi mas Ridwan bahkan pergaulan ku sangat tidak baik tapi mas Ridwan menyadarkan aku buat berubah, Abang harus tegas sama diri Abang sendiri kalau Abang mau baik baik saja tunjukan sifat Abang ku yang keras kepala dengan prinsip-prinsip nya yang akan menolak dengan keras hal yang Abang anggap buruk" Susi memeluk Arif " aku sayang sama Abang yang selalu peduli dengan ku yang selalu mengingatkan aku, tapi selama beberapa bulan ini Abang yang ku kenal hilang dan datang orang yang mukanya sama Abang tapi sikap yang lain yang bukanlah abang ku banget, kembali lah kembali jadi abang ku, aku rindu Abang yang dulu" kata Susi sambil menangis dan memeluk arif, Arif yang mendengar adik yang begitu dia sayang berkata seperti itu merasa sangat berdosa dan mereka berpelukan dengan tangis


" maaf Abang mohon maafin Abang " katanya sambil terus menciumi puncak kepala Susi


" sekarang Abang sadar Abang terlalu jauh pergi meninggalkan kalian, sekarang akan kembali Abang akan berusaha keras menolak yang bisa menjauhkan kita" kata Ridwan dengan tekad yang sudah mantap


" terima kasih kalian sudah ngingetin" katanya dengan senyum yang selama beberapa waktu ini tak pernah ada


" kita nggak butuh janji ya tapi lu kalau lu bisa buka hanya ucapan, lu denger laki sejati itu yang di pegang ucapannya bukan janji receh yang nggak ada bukti" kata Ridwan sambil menepuk bahu Arif " buktikan gue yakin lu bisa Arif yang gue kenal adalah Arif yang akan selalu berusaha lebih baik walaupun dengan keterbatasan materi sekali pun" kata Ridwan sambil tersenyum " udah kita balik dulu kasiha Rayhan dari tadi ditinggal, dan cobalah bicara sama bapak dan tunjukkin kalau lu bisa berubah" katanya lalu mengulurkan tangannya pada Susi " yuk kita kembali kasihan bapak yang dari tadi ngasuh Rey" Susi menyambut uluran tangan Ridwan dengan senyum.


" ingat janji Abang" kata Susi sebelum beranjak,


akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Ridwan yang tercenung merenungi dirinya dan ucapan adik dan iparnya.

__ADS_1


__ADS_2