
Arif mengajak Mona masuk kedalam rumah untuk menghindarkan perang dunia ketiga yang akan pecah di kampung itu.
" bang ih kenapa sih kamu itu, aku kan belum selesai sama mereka main tarik tarik aja" omel Mona pada Arif yang dari tadi menarik tangannya supaya masuk kedalam rumah, Arif tidak menjawab pikirannya kacau, masalah besar sedang menantinya, Arif tak tahu apa yang harus dikatakan pada bapaknya untuk dijadikan alibinya,
" bang ih " Mona menghempas genggaman tangan Arif sampai terlepas " kamu itu kenapa sih dari tadi diam saja" lagi lagi Arif tidak menjawab, Arif duduk di kursi sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sambil memejamkan matanya, kepalanya serasa mau pecah dia menyesal sudah menyia nyiakan kepercayaan bapaknya yang telah memberinya kesempatan, Mona kesal dengan sikap arif, tapi sesaat kemudian dia menarik bibirnya keatas, dia tahu cara mengatasi Arif Mona beranjak dari duduknya dan berpindah naik kepangkuan Arif, Arif tersentak matanya terbelalak merasakan Mona ada dipangkuan nya
" apa yang kamu lakukan?"tanya Arif
" mengobati kekesalan kamu" kata Mona santai sambil me****t bibir Arif,Arif menikmati perlakuan Mona dan dosa itu kembali terulang.
Mereka terkejut ketika ada seseorang yang mengetuk pintu, Arif dan Mona dengan cepat memunguti pakaian yang berserakan dan memakainya dengan asal, ketukan di pintu semakin keras
" Ayah..., ayah di dalam kan?" suara itu tanah membuat Arif gusar itu suara Syifa
"I iya sebentar sayang" kata Arif sambil membenahi pakaiannya meninggalkan Mona uang memberangut karena aktivitasnya terhenti ketika belum mencapai puncak
Arif membuka pintu dan tampak dua anak kecil yang asik menggedor gedor pintu walaupun sudah di buka
" Ayah kok lama sih buka pintunya kan Ifa capek nunggunya " kata syifa sambil memanyunkan bibirnya lucu.
" Iya om lama aku hampir pingsan tau nggak" timpal Rayhan, Arin berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Rayhan dan Syifa
" lebay kamu" kata Arif sambil memencet hidung Rayhan
" ih sakit om" kata Rayhan sambil mengusap hidungnya
" ayah ih pake baju itu yang bener, kan ayah sudah tua masa nggak bisa pake baju sih" kata Syifa sambil menunjuk kancing baju Arif yang masuk pada lubang kancing Yaang salah jadi tidak rapih, Arif mengalihkan perhatiannya pada kancing bajunya, muka Arif memerah malu sekaligus kikuk
" o o oh iya he" kata Arif sambil merapikan kancing bajunya
" ih om sakit cacar ya?" tanya Rayhan lagi ketika melihat leher Arif yang penuh tanda kemerahan
" ya ampun om halus peliksa, untung ada om doktel, sebental Ku panggilan om doktelnya nanti palah, " kata Rayhan sambil berlari menuju kerumah kakeknya
" Rey jangan Rey sini" tapi kata kata Arif Tak di dengarkan Rayhan
" Ifa jagain omnya aku panggil om doktel dulu" katanya sambil menyembulkan kepalanya dari ambang pintu
"ok " kata Syifa sambil mengacungkan jempolnya.
" aduh gimana ini " batin Arif tambah kalut kehadiran dua bocah itu malah akan menambah masalah
" ayo ayah masuk bobo dulu di kamar ntar o. dokternya kesini" kata Syifa sambil menyeret tangan Arif menuju kamar, ketika sampai di ruang tengah Syifa melihat ada Mona yang menatapnya tajam
" Tante jangan melotot nanti matanya keluar " kata Syifa pelan pada Mona yang menatapnya dengan tajam " Syifa kan jadi takut" katanya sambil menunduk takut bersembunyi. di balik kaki ayahnya, Arif yang menyadari itu langsung mengalihkan perhatian Syifa
" Ayo katanya mau ngajak ayah bobo" kata Arif sambil menggendong Syifa yang ketakutan
" ayah turunin aku tuh udah gede,ayah mah kaya papa suka gendong gendong aku " katanya sbil manyun kesal, tubuh Arif menegang mendengar Syifa memanggil nama papa, siapa?
" ayah ayo ih malah melamun " kata Syifa menepuk bahu ayahnya
" oh iya ayo" kata Arif kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar
Mona yang kesal dengan Syifa karena sudah mengganggu kesenangannya
__ADS_1
" dasar pengganggu, anak sama ibu sama saja suka sekali melihat orang susah" omelnya sbil menghentakan kakinya kesal.
Rayhan berlari melewati mama dan semua yang ada diruangan itu dengan panik, Susi yang khawatir melihat anaknya seperti ada sesuatu yang membuatnya takut lari ngobrol tanpa menoleh kearah mereka
" Rey jangan lari lari ntar jatuh" peringat Susi pada anaknya yang tak menghiraukan panggilannya lbunya, kearah belakang dimana tempat Ridwan dan para sahabatnya sedang berkumpul, sampai sampai tidak peduli jatuh karena tersandung, mere akhirnya menyusul Rayhan kebelakang untuk mengetahui apa yang terjadi
" om doktel, om doktel" katanya sambil megap megap nafasnya naik turun karena habis berlari
" tolong..." katanya sambil nunjuk ke arah depan
semua orang di buat panik oleh Rayhan
Ridwan yang takut terjadi apa-apa sama anaknya panik langsung menggendong Rayhan
" kenapa ?" tanyanya pada Susi dan hanya mendapat jawaban gelengan kepala oleh Susi
Ana memberikan air mineral pada Rayhan
" minum dulu sayang " kata Ana, Rayhan langsung meminumnya setelah minumnya selesai
" Sekarang bilang sama ayah ada apa?" tanya Ridwan dengan lembut
" itu om Alif sakit cacal kayak teman aku" kata ya sambil mengangguk lucu
" Hah perasaan tadi baik baik saja deh" kata Vita yang tadi melihat Ridwan
" ih tante mah nggak pelcaya, badannya melah melah, om doktel cepetan peliksa" kata nya lagi kesal karena Vita tak mempercayainya
" terus Sifa di mana sayang ?" tanya Mira
" Ifa lagi jagain om takut pingsyan" katanya mantap
" om sama Syifa nya di mana Rey" kata Susi
" di Kamal aku suluh Ifa, supaya om nya diajak bobo" kata Rayhan
Mira berhenti melangkah masuk, hatinya miris mengingat rumah yang selama lima tahun dia tempati, banyak kenangan manis dan pahit, suka dan duka Mira alami di dalam rumah ini,
Reynand yang peka dengan sikap Mira mengerti
" mau masuk atau mau tunggu dirumah bapak " kata ya sambil mengelus tangan calon istrinya itu dan tersenyum lembut, Mira tersenyum sbil menggelengkan kepalanya
" nggak apa-apa aku baik baik aja kok" katanya sambil tersenyum kearah Reynand
" ya udah ayo" kata Reynand sambil menggandeng tangan Mira lembut.
Mereka berjalan ke arah kamar Ridwan, ketika mereka sampai di ruang tengah mereka melihat Mona yang duduk santai sambil memainkan ponselnya, dan Mona kaget ketika ada banyak orang yang masuk rumah itu pikirannya sudah nggak enak
" ada apa ini?" katanya sambil langsung berdiri
" Dasar pacar nggak ada akhlak,laki sakit malah santai aja mau ponsel" ejek Ana
" hah sakit" Jawab Mona melongo karena setahu nya dari tadi Arif baik baik saja bahkan ketika tadi mereka sedang melakukan itu Arif baik baik saja.
" sudah biarkan saja dia disana " kata Ridwan sambil berjalan di ikuti yang lainnya
__ADS_1
Arif yang mendengar ribut ribut di luar kamar sudah ketar ketir, Arif yakin Rayhan benar benar bilang Sam mereka kalau mereka sakit cacar
Arif memutar otak untuk mencari cara agar mereka tidak curiga dan akan mengetahui apa yang sudah terjadi tapi terlambat Syifa sudah berlari membukakan pintu untuk mereka
" Bunda, papa tolongin Ayah badannya merah merah " kata Syifa, mendengar itu tubuh Arif seakan tak bertulang, rasanya dia ingin bertemu dengan Bu Susi mantan menteri perikanan dan kelautan itu agar ditenggelamkan ke dasar laut sekalian daripada harus di hadapkan dengan keadaan ini yang diciptakan karena ulah anak dua bocah itu.
Abdi masuk menyelinap maju
" yang ciwi ciwi enyah dari sini, hus hus this room man area" katanya sambil mengibaskan tangannya pada para wanita itu, para wanita itu riuh yang ngomel ngomel sambil keluar,para lelaki itu tertawa, ketika mereka berbalik ke arah ranjang terlihat ada dua bocah sedang memegangi tangan Arif yang hendak bangun,
" om cepetan peliksa ini om nya takut di syuntik" kata Rayhan, dan hal itu membuat mereka ingin tertawa tapi masih menghargai sang tuan kamar yang lagi sakit katanya.
" iya om aku takut ayah di kubur kaya nenek" tambah Syifa, Arif yang menghadapi situasi seperti ini sekarang sudah pasrah tak ada lagi celah untuk menghindar.
Andi maju mendekati mereka ya udah Syifa sama Rey nya geser bentar ya biar om periksa
" lu kenapa Rif?" tanya Andi sambil mengeluarkan alat perangnya yang selalu dia bawa kemanapun, Arif menggelengkan kepalanya sambil melambai lambaikan kedua tangannya sambil bangun
" gue nggak apa apa itu mereka aduh apa ya" katanya kikuk bingung apa yang harus di jelaskan, Andi sudah siap dengan alatnya dan yang lain berdiri di dekat ranjang
" coba buka baju lu" katanya santai dan hal itu malah membuat Arif semakin panik
" lu kenapa sih ketakutan sampai segitunya kayak kambing mau Sem****h aja " kata Farhan
" it itu gue nggak apa apa gue cuma..." ucapan Arif terhenti ketika bahunya di tekan di bocah penyebab huru hara ini dan membaringkan nya
" ayo om doktel cepat peliksa" kata Rayhan sambil duduk di atas perut Arif sedang Syifa mendekap kepalanya agar Arif diam
semua orang yang melihat itu tak lagi bisa menahan tawanya, dengan ulah dua bocah itu,
" ok kata Andi sambil tertawa" ketika Andi mebuka kancing baju dia melihat banyaknya tanda cinta bertebaran di leher dan dada Arif
" apaan nih, ini mah buka cacar tapi bekas gigitan Kuntilanak" katanya sambil bangkit dengan kesal
" Hah maksudnya?" tanya Reynand
" lu pada lihat aja cacar modelan gitu" kata Andi sambil menunjuk ke arah Arif dan sontak mereka semua mendekat dan melihat apa yang dari tadi membuat mereka penasaran
" Astaghfirullah ..." kata Reynand dan Ridwan yang kaget dan langsung menggendong Syifa dan Rayhan .
" kenapa om sakit ayah parah yah" kata Syifa panik dalam gendongan Reynand
" iya Ifa papa sama om takut kita ketulalan" jelas Rayhan sok tahu Syifa mengangguk
"ya sudah kita kelual aja ya" tambah Rayhan
setelah dua anak itu keluar
" Dasar brengsek lu" kata Ridwan, Arif hanya pasrah
" lu gila yah dalam situasi seperti ini lu sempet sempetnya ngelakuin hal seperti ini" kata Farhan gemas
" tapi gue mau ngucapin makasih Sam lu Rif, lu udah ngelepasin adek gue " kata Budi tak kalah marah
" lu lihat bapak semaleman dia nungguin lu, walaupun dia di kamar gue tau dia tak tidur semaleman, tega lu" kata Ridwan
__ADS_1
bugh bugh bugh
Tanpa mereka duga Ridwan menghajar Arif dengan pukulan membabi buta sedang Arif hanya diam tak melawan, mereka langsung membawa Ridwan ke luar kamar an menuju keluar rumah, pertanyaan dari para wanita tak di hiraukan mereka yang menyeret Ridwan keluar dan mereka mengikutinya.